Pertikaian kerap terjadi dalam rumah tangga, kehidupan sosial dan antar saudara. Hanya dengan persoalan perbedaan pendapat dan keinginan, sering terjadi kericuhan dan permusuhan satu dengan yang lain. Itulah uniknya manusia.

Terbayangkah bila semua manusia diciptakan hanya memiliki satu karakter saja. Tentu hidup ini tidak menjadi 'hidup', serba flat dan kurang menarik. Disisi lain mungkin terlihat lebih tenang karena kurang diwarnai oleh berbagai karakter manusia yang unik.

Tentunya kita pernah melihat reaksi teman atau tetangga, yang salah paham terhadap isi tulisan kita atau dari bahasa verbal. Salah mengartikan dari setiap kata yang keluar dari diri kita. Bisa juga terjadi sebaliknya, kita yang salah mengartikan niat dan maksud mereka.

Dalam rumah tanggapun demikian, istri salah paham dengan sikap juga perkataan suami dan sebaliknya. Anak kepada orang tua, dikarenakan orang tua yang salah menyikapi perilaku anak, sehingga anak menjauh dan membuat perlawanan. Saudara yang sering curhat tentang kehidupannya yang juga berasal dari bias menyikapi kehidupan sosialnya, dan ini terus terjadi berangkai dan bercabang.

Ilmu watak dan temperamen ini ditemukan oleh seorang dokter yunani. Hippocrates (460 SM- 370 SM) dan diteruskan oleh seorang filsuf sekaligus dokter bernama Claudius Galenpada (tahun 129-200 Masehi) . Mengenai mode-mode kepribadian, berdasarkan empat cairan ditubuh manusia. 

  • Koleris (berasal dari Bahasa latin cholera, artinya cairan kuning hijau. Dihasilkan dari liver dan cairan empedu). Bersifat: memiliki watak keras, tegas, serba ingin cepat, mandiri dan bila memiliki keinginan harus tercapai.

  • Melankolis (berasal dari Bahasa yunani melas chole. Artinya cairan yang dihasilkan oleh ginjal). Bersifat: analitis, tenang, melakukan segalanya ingin sempurna, teliti, rapi, mudah tersinggung, pemikir.

  • Sanguinis (berasal dari Bahasa latin sanguineus. Artinya yang berhubungan dengan darah). Bersifat: semangat yang tinggi, ceria, bahagia, acuh, humoris, senang dipuji, mudah membuat keputusan tanpa berfikir panjang.

  • Plegmatis (berasal dari Bahasa yunani kuno phlegma. Artinya cairan lembab dan dingin dalam tubuh). Bersifat: tenang, cinta damai, diplomasi, sabar, tidak senang dengan konflik sekecil apapun, cenderung mengalah.

Watak ini diturunkan secara genetik dari keturunan sebelumnya dan menurunkan lagi ke generasi berikutnya. Dari kehidupan dalam keluarga inti mudah sekali mengenali watak ini. Namun dikehidupan sosial perlu mempelajarinya lebih dalam.

Banyak ilmu pengetahuan yang memaparkan tentang bagaimana menyikapi kehidupan sosial disekeliling kita. Salah satunya bisa didapatkan dari buku yang dijual bebas dengan pemaparan yang sederhana dan mudah dipahami. Bagi mereka yang senang belajar melalui seminar atau webinar dapat mengikuti training sesuai tema yang dibutuhkan dengan pembicara handal.

Kembali ke kehidupan sosial, kita sering menemukan persoalan sehari hari dengan bertabrakannya watak ini. Saling menyikut dan membenarkan diri. Tentu saja masing masing merasa benar, karena menyikapi dari sudut pandang karakter masing masing.

Mengapa sering merasa tersinggung membaca kalimat orang lain di media sosial? Karena kita berwatak melankolis, mengapa kita cenderung meremehkan orang yang sedang bersedih karena persoalan kecil? Karena kita berwatak sanguinis. Mengapa kita sering kesal melihat orang yang lambat melakukan pekerjaan?, karena kita berwatak koleris. Dan mengapa kita merasa malas mendengar atau melihat berita konflik? Karena kita berwatak plegmatis.

Sederhana sekali sebenarnya, hanya banyak diantara kita belum memahami tentang ilmu watak ini, sehingga banyak terjadi bias satu dengan yang lain. Memusuhi orang lain yang berbeda watak dan menjauhinya hingga mereka tidak berdaya. Bahkan hingga pada tingkat lanjut, terjadi perceraian dan saling membenci.

Tidak saling mengenali watak masing masing ini memiliki dampak yang sangat kuat dan menimbulkan persoalan bertubi-tubi dalam kehidupan. Membaca status dimedia sosial orang lain dengan pola wataknya sendiri. Sehingga dampak yang ditimbulkan menyakiti orang yang memiliki status dimedia sosialnya, bisa saja kalimat itu tidak ditujukan padanya.

Masih banyak contoh lain yang berkaitan dengan bias terhadap watak seseorang. Sebenarnya dampak terparahnya apa ya ?, sangat mengerikan. Bila tidak dimulai dengan ilmu pengetahuan, fikiran buruk sangka ini bisa menimbulkan dendam, berakibat kepada keselamatan seseorang.

Bukan hanya pembunuhan karakter saja tapi bisa berdampak pada kematian seseorang secara fisiknya. Ya, mati semangat dan jasadnya. Sayang menjadi benci, yang bersabar mulai menjauh, yang semangat menjadi turun. 

Mengapa demikian?, Setiap watak memiliki kelebihan dan kekurangan. Apabila kekurangannya diperbesar maka terjadilah persoalan pada dirinya dan orang lain. Bila kelebihannya yang diperbesar maka terjadi perilaku yang produktif dan harmoni.

Mengenali watak pribadi sangat perlu, untuk kehidupan bersosialisasi. Perlu adanya solusi dari setiap kelemahan dan kekurangan. Mulailah dengan menurunkan kepribadian yang lemah dari setiap watak tersebut.

Koleris memiliki kekurangan mudah marah terhadap apa yang tidak disukainya. Cenderung tidak suka melihat seseorang yang kurang cekatan atau lambat. Belajarlah menurunkan kekurangannya dengan memaklumi sifat lawannya yang cenderung santai dan teliti seperti plegmatis dan melankolis.

Melankolis memiliki kekurangan dari segi pemikirnya. Membuat mereka cenderung sedih memikirkan hal yang kecil tapi bagi mereka besar dan penting. Mulailah dengan memperbesar kelebihannya yang rapi dan artistik. Buat inovasi baru dalam karya seni dan sejenisnya.

Sanguinis memiliki kekurangan mudah patah hati bila tidak mendengar pujian dari orang lain. Mulailah dengan kelebihannya  yang ceria dan selalu bahagia, berbahagialah bahwa sanguinis mudah merubah fikiran dari yang sedih menjadi ceria dengan cara menghibur orang lain. Tidak mendapat pujian bukan berarti hidup berakhir.

Plegmatis memiliki kekurangan sekaligus kelebihannya yang selalu penurut dan cenderung mengikuti. Terkadang sifat ini tidak baik bila berada dilingkungan yang salah, misalnya saja bergaul dengan pemabuk, pengghibah, pemfitnah, dan sebagainya. Beranilah mengatakan tidak!, kepada situasi dan suasana yang tidak diinginkan.

Pada dasarnya, ketika berada ditengah kehidupan bersosialisasi, sikap terbaik kita dalam menyimpulkan, menyikapi dan mengambil keputusan, terkadang harus menjadi “orang lain”, untuk mencapai keharmonisan bersosialisasi.