Sadar tidak sih, jaman sekarang jarang banget denger sebutan kutu buku. Kalaupun ada mungkin hanya sekali-kali kita dengar yah. Rasa-rasanya sifat kutu buku ini perlahan mulai punah dari komunitas kita. Padahal kegemaran membaca adalah aktivitas emas yang bisa meningkatkan kecerdasan manusia.

Parahnya semakin kesini, kegemaran membaca di kampung saya atau bahkan di negara kita tercinta Indonesia ini menjadi semakin langka. Jika tidak dilestarikan, bisa-bisa punah donk! Padahal anjuran membaca itu tidak hanya datang dari para pakar, bahkan Tuhan Semesta Alam pun menyeru umat manusia untuk membaca.

Enggak percaya? Coba deh cek tingkat literasi Indonesia yang jauh banget di ranking bontot! Menurut World’s Most Literate Nations Ranked tahun 2016 silam, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat membaca! Saya meyakini, jika kebiasaan luhur ini tidak dikonservasikan bisa dipastikan minat baca Indonesia semakin mundur ke balakang.

Teliti punya teliti, ancaman kepunahan sifat gemar membaca ini disebabkan oleh alasan ini nih:

  • Pendidikan Indonesia yang Masih Berorientasi Nilai

Emang benar, Pendidikan di Indonesia semakin maju. Bisa dilihat dengan semakin meluasnya kesempatan sekolah hingga level yang lebih tinggi digeluti oleh seluruh anak-anak Indonesia. Sekolah mestinya lekat dengan membaca, tetapi coba deh liat lagi. Sejak tahun 1990-an Pendidikan kita banyaknya hanya berorientasi pada nilai semata. Yang dipuji dan dipuja hanya anak-anak dengan nilai bagus di sekolah dan ini berlangsung tahunan, akibatnya anak didik di Indonesia berkompetisi hanya mengejar nilai, aku nih korbannya ☹.

Padahal harusnya proses belajar mengajar di bangku Pendidikan itu mampu membangun long-life habit yang mampu meningkatkan kualitas diri sampai kapanpun, salah satunya membangun kegemaran untuk membaca.  Kabar baiknya, beberapa sekolah saat ini sudah mulai mengganti orientasi pembelajarannya dari hanya sekedar nilai ke arah pengembangan karakter yang baik. Mudah-mudahan di dalamnya juga turut membangun minat baca biar tidak makin menuju kepunahan!

  • Banyak buku berfaedah yang dicetak kurang menarik atau bahkan mahal

Buku-buku yang menjadi favorit banyak orang pastinya buku-buku yang menarik seperti komik, buku full color dan minim kata. Akibatnya, dulu ibuku suka marah-marah karena hobi membaca saya hanyalah membaca komik atau majalah bobo. Saya yakin nasib ini tidak menimpa saya sendiri. Efek dari sering dimarahi seperti ini kebanyakan kita jadi makin malas buat baca buku.

Alhamdulillah, saat ini sudah banyak banget buku-buku berfaedah yang dicetak dengan amat menarik. Tetapi masih banyak juga buku-buku yang menarik itu dibanroll dengan harga yang cukup mihil. Hiks ☹. Akhirnya akses untuk menikmati buku-buku yang menarik nan faedah inipun semakin menjauh dan minat untuk membaca semakin menyurut.  Bersyukur juga sekarang sudah ada platform website yang menarik seperti qureta.com yang sangat mendukung literasi masyarakat. Secara, artikel-artikelnya bisa dibaca santai nyambi ngopi atau rebahan sekalipun.

  • Branding membaca buku yang salah kaprah

Saat mendengar istilah “membaca” entah kenapa terasa aktivitas ini tidak begitu semenarik dengan “nonton” atau “jalan-jalan”. Rasanya membaca itu aktivitas yang cupu banget deh. Aktivitas membaca ini seolah-olah selalu menjadi opsi terakhir dalam urutan berbagai aktivitas produktif yang ada. Pokoknya membaca ini sudah jauh kalah pamor deh. Ini semua dikarenakan sedari kecil lingkungan kita tidak menampakan kebiasaan membaca yang baik. Jadi seolah berada dalam lingkaran setan, siklus ini berlanjut dari generasi ke generasi.

Kalau bisa kita harus menjadi inisiator memutus rantai branding buruk tentang membaca ini. Sisihkan waktu beberapa menit sehari untuk membaca, dan ajak teman, saudara, bapak, ibu, atau siapapun untuk turut menghidupkan kebiasaan membaca. Taruh buku-buku menarik di tempat yang terjangkau agar motivasi membaca kita semakin meningkat. Atau pin website-website menarik di desktop laptop/pc atau HP biar semakin tertarik untuk membaca.

  • Dominasi gadget

Last but not least, dominasi gadget di era sekarang memang jelas berhasil menggeser eksistensi buku cetak. Nah, ini yang menjadi trending di negara +62 saat ini, giliran mencuit di social media saja, MasyaAllah ruame banget! Tidak masalah lekat dengan gadget, karena dengan gadgetpun banyak ilmu dan bacaan berfaedah yang bisa kita ikuti. Tapi faktanya, kebanyakan internet dan gadget yang banyak digemari itu hanya seputar social media, stalking kehidupan mantan temen, nonton youtube atau Netflix, atau kalaupun membaca palingan webtoon. Hayo ngaku??

Padahal addiction kita pada gadget ini udah melebihi kebutuhan makan kita kan? Bayangin aja, bangun tidur yang dicari HP sampai mau tidur lagi yang dipegang HP. Ini lho yang harus kita ubah, coba sisihkan waktu 10 hingga 15 menit untuk membaca sesuatu yang lebih berfaedah dibanding membaca caption semata. Cobalah lirik-lirik artikel-artikel di qureta.com atau website lain yang bener-bener berfaedah dan bisa membuat hidup kita jadi lebih baik atau paling enggak menjadikan kita sedikit lebih cerdas! Jangan sampai donk, kelekatan kita dengan gadget malah membuat kualitas diri semakin tidak bermutu!

Perubahan apapun yang terjadi, tetap saja aktivitas membaca adalah sesuatu yang amat luhur. Jangan sampai hidup kita berlalu begitu saja tanpa kita manfaatkan dengan menimba ilmu dengan membaca. Baca kitab suci setiap hari walau hanya beberapa menit, kasih input informasi yang baik untuk asupan nutrisi otak kita, dan ajak teman saudara kita untuk gemar membaca. Kita harus percaya dengan membaca hidup kita bakal makin ketjeh. Kita jadi makin cerdas, punya banyak ide dan gagasan, dan makin happy menjalani hidup semua bisa dimulai dari membaca.

So, ayok, sebelum semangat literasi ini benar-benar punah, kita konservasikan dengan memulai kebiasan membaca berfaedah dari diri sendiri. Kalo bukan kita, siapa lagi?