Penikmat Kopi Senja
5 hari lalu · 1771 view · 3 menit baca · Politik 80717_13618.jpg
Prabowo-Sandi

Sebab Kekalahan Prabowo-Sandi

Sembari ngopi bersama teman-teman, kami mendiskusikan Pilpres 2019 dengan segala hiruk pikuknya. Pasca debat pertama dan menjelang debat kedua, kita semua sudah punya kesimpulan sementara.

Berdasarkan semua hasil survei, pasangan Jokowi-Ma'ruf unggul atas Prabowo-Sandi. Lalu mengapa Prabowo-Sandi bakal kalah dalam pilpres 2019?

Pertama, pasangan Prabowo-Sandi tidak memiliki isu yang mampu menaikkan elektabilitas mereka. Isu ekonomi yang coba diangkat sejauh ini gagal. Utang sudah ada sejak zaman Soekarno.

Kedua, tim pemenangan Prabowo-Sandi kerap melakukan blunder. Sebut saja kasus Ratna Sarumpaet dan Ahmad Dhani. Publik akan menilai kualitas orang-orang di sekitar mereka. 

Ketiga, Prabowo-Sandi dari satu partai politik. Faktanya, partai pendukung keduanya lebih fokus Pileg ketimbang Pilpres. Kemenangan Pilpres tidak memengaruhi kursi parpol pendukung.

Keempat, program Jokowi yang menyentuh lapisan masyarakat desa sangat banyak. Sebut saja kenaikan dana desa, PKH, sertifikat tanah. Program-program ini cukup efektif memengaruhi pemilih di desa-desa.

Selain keempat faktor tersebut, Jokowi-Ma'ruf juga didukung tokoh daerah terkenal. Ada Khofifah, Ridwan Kamil, dan sederet nama tenar lainnya. Barangkali Ahok sebentar lagi akan bergabung dalam barisan Jokowi-Ma'ruf juga.

Masih stagnannya elektabilitas kedua pasangan ini semakin menambah keyakinan kita semua bahwa Pilpres sudah selesai. Parpol pendukung Prabowo-Sandi juga sudah menyerah, mereka memilih fokus Pileg.

Enggannya parpol pendukung Prabowo-Sandi berkampanye sangat jelas terlihat. Partai Demokrat, misalnya, yang masih kecewa karena Prabowo memilih Sandiaga Uno, lebih fokus pada Pileg. 

Kunjungan SBY ke daerah-daerah juga tidak mengampanyekan Prabowo-Sandi. Ia lebih fokus mengembalikan elektabilitas Demokrat menuju Pilpres 2024 untuk AHY.

Hal yang sama juga terjadi dalam tubuh PAN. Beberapa kadernya di daerah malah mendukung Jokowi-Ma'ruf demi kursi parlemen. Memang pemilu serentak tahun ini cukup menguras konsentrasi peserta. 

Hal serupa juga dilakukan PKS. Tampak para caleg PKS sangat jarang mengampanyekan Prabowo-Sandi. Mereka paham betul perlunya penyelamatan parpol dari ambang batas. 

Prabowo-Sandi butuh keajaiban untuk menang dalam pilpres 2019. Apalagi para ulama 212 sepertinya lebih banyak diam, bahkan kini terpecah. Beberapa orang lebih mendukung Jokowi-Ma'ruf.

Para ulama yang mendaulat Prabowo sebagai capres juga lebih banyak diam. Meski Habib Rizieq sering mengirim video seruan, namun tidak lagi memiliki kekuatan memengaruhi.

Sering blundernya Prabowo dalam pernyataannya menjadi salah satu faktor mereka mulai diam. Mereka tidak ingin ditinggalkan umat karena Pilpres. Karena kedua capres punya potensi mengkhianati ulama sebagaimana dilakukan Soekarno.

Kisah air mata Soekarno di depan Teungku Muhammad Daud Beureueh yang menjanjikan syariat Islam di Aceh, dan kisah politik lainnya yang menjadikan ulama pendorong "mobil" kemudian ditinggal cukup menjadi pelajaran.

Dengan demikian, Prabowo-Sandi sekarang hanya bersama Gerindra dan beberapa relawan. Tanpa kekuatan ulama, Prabowo-Sandi semakin sangat pasti kalah.

Upaya rasionalisasi yang dilakukan tim Prabowo-Sandi malah berujung irasional (Justin Smith, Irrationality: A History of the Dark Side of Reason, 2019). Hal ini tampak dari kampanye tidak akan impor apa pun, padahal Indonesia masih akan terus impor.

Tentu kita masih ingat pidato Jokowi jelang Pilpres 2014. Jokowi menyatakan tidak akan impor bahan pangan bila terpilih. Faktanya, Indonesia terus impor dan Prabowo tampak ingin melakukan hal yang sama.

Menurut Reza A.A Wattimena dalam artikelnya yang berjudul Menimbang Irasional, ada 3 akar irasional, yakni ketidaktahuan, ketakutan, dan kerakusan.

Kita banyak temui ketiga hal ini dalam diri politisi kita. Barangkali Prabowo memiliki salah satunya, ia takut kalah sehingga kampanyenya mulai irasional. 

Selain hal-hal di atas, Prabowo juga harus berhadapan dengan para menteri yang loyal pada Jokowi. Hal ini membuat tim Prabowo-Sandi kesulitan menyentuh hati pemilih. 

Program Keluarga Harapan (PKH) salah satu program yang menyentuh langsung lapisan masyarakat pedesaan. Program ini semakin menambah keyakinan pemilih pedesaan untuk memilih Jokowi-Ma'ruf. 

Mereka takut bila Jokowi-Ma'ruf kalah program ini akan terhenti. Saya sempat melakukan penelitian kecil-kecilan terkait hal ini. Sementara Prabowo dan tim tidak memiliki program sejenis yang lebih canggih. 

Program Keluarga Harapan (PKH) menurut saya merupakan program yang akan mengantarkan Jokowi kembali terpilih. Apalagi pandangan politik kita masih bermazhab lama, pengikut Habermas. 

Pandangan yang menganggap manusia hanya sebagai kumpulan data. Entah itu data survei maupun data pemilih, politik elektabilitas lebih utama ketimbang intelektualitas. 

Menurut Habermas, manusia sekadar benda yang berguna dalam ekonomi politik kapitalisme. Manusia berguna selama ia mampu melayani alat-alat produksi yang tumbuh di dalam masyarakat industri kapitalistik.

Berdasarkan dalil-dalil di atas, saya dan teman-teman percaya bahwa mustahil Prabowo-Sandi menang. Kecuali dalam sisa kampanye melakukan sesuatu yang luar biasa. Dengan catatan, tim Jokowi melakukan blunder.

Terakhir kita saksikan pula NU dan Muhammadiyah telah berseberangan. Meski Muhammadiyah terkesan apolitis, berbeda dengan pimpinan NU yang terang mendukung Jokowi-Ma'ruf.

Sikap Muhammadiyah sangat menguntungkan Jokowi-Ma'ruf dan merugikan Prabowo-Sandi. Menurut analisis warung kopi, Pilpres telah usai. Setidaknya parpol pendukung Prabowo-Sandi juga setuju. Bagaimana dengan Anda?