Yang dikatakan Tengku Zulkarnain berkaitan dengan RUU PKS telah mengejutkan banyak pihak. Apa yang dikatakannya mau tak mau mengingatkan saya akan kisah Firdaus di novel Perempuan di Titik Nol

Saya sendiri membaca Perempuan di Titik Nol saat kelas 3 SMP. Saat itu, kesimpulan saya sederhana, bahwa perempuan tertindas dalam patriarki. 

Perempuan adalah makhluk lemah yang menjadi korban kebiadaban manusia berkromosom XY. Dan untuk membebaskan diri, seorang perempuan bahkan sampai harus mati! Firdaus memilih mati hanya agar terbebas dari kebiadaban pria, bukan? Betapa mengenaskan.

Dunia dengan dominasi pria menjadi konsep yang membakar otak saya, hati saya. Kisah Firdaus terlalu intens untuk disingkirkan. Dan mau tak mau, saya membangun asumsi bahwa laki-laki adalah penindas. Laki-laki di atas, dan perempuan di bawah.

Pandangan saya ini berubah seiring berjalannya waktu. Atau lebih tepatnya, menjadi makin kaya. Saya tak lagi berpikir hitam putih dalam garis sederhana "laki-laki menindas, perempuan tertindas".

Faktanya memang tidak. Tentu Anda sudah lihat sendiri, bukan, berita belakangan ini di mana sekumpulan perempuan menyatakan sikap antifeminis? Di luar itu, saya juga telah melihat di banyak kesempatan bagaimana sumber penindasan perempuan bukan hanya laki-laki, melainkan juga perempuan sendiri. 

Dua kejadian saat saya SMA dan kuliah masih begitu mengena di kepala sampai sekarang. Dan kejadian ini sengaja saya jadikan sampel karena saya kira kebanyakan di antara kita mengalaminya dan berlangsung bergenerasi.

Saat itu, ketika saya SMA, pemilihan ketua kelas tak lagi ditunjuk guru, melainkan dipilih sendiri oleh para siswa. Saya ingat bahwa teman-teman perempuan saya tak ada yang mencalonkan diri. 

Beberapa bahkan ada yang mengatakan, "Yang menjadi pemimpin, ya laki-laki!" Kata-kata itu pun disambut sorakan dukungan dari siswa perempuan lain yang tak ingin menjadi ketua kelas. 

Kata-kata teman saya itu jelas hanya sebuah pembenaran, alibi. Dalam kondisi ini, dia berlindung di bawah patriarki agar tidak repot menjadi ketua kelas. 

Kejadian yang sama saya alami saat kuliah. Malah kondisinya lebih parah. Saya kuliah di jurusan dengan komposisi 5 orang mahasiswa dan 30 orang mahasiswi. 

Selama 4 tahun pergantian ketua kelas, tak pernah ada satu pun mahasiswi yang menjadi ketua. Lima orang kawan saya yang laki-lakilah yang menjadi ketua secara bergiliran. Dan saya berani bilang kepada Anda bahwa kawan saya yang laki-laki tak pernah mengatakan, "Kami laki-laki, makanya kami yang harus menjadi pemimpin."

Alhamdulillah, mereka bukan varian H. sapiens yang terdapat dalam novel Perempuan di Titik Nol. Mereka juga bukan seperti Tengku Z ataupun pengikutnya. Bukan pula fuccboy atau softboy. Mereka hanya laki-laki saja. Tumbuh berkembang dengan adanya penis di antara pangkal kaki mereka.

Menurut saya, mereka hanya lebih rela ditunjuk menjadi ketua karena ekspektasi masyarakat memang demikian, tetapi mereka tak menyuarakannya. Perempuan, di sisi lain, meski tidak diharapkan menjadi ketua oleh beberapa elemen masyarakat, tetapi telah didorong banyak elemen lainnya. 

Bukankah meski belum benar-benar maju, namun perempuan sudah didukung gerakan feminisme? Bukankah perempuan telah diajarkan untuk lebih berani? Perempuan telah meraih kesempatan, tetapi kita sering menyia-nyiakan, bahkan cenderung mencari alibi ketika kita merasa tak diuntungkan.

Kenapa beralibi? Karena menjadi ketua kelas memang tidak enak. Siapa yang akan senang ketika harus mencari ruang kuliah ketika ada mata kuliah tambahan? Menghubungi dosen? Mengurus fotokopi? Memimpin diskusi kelas dan lain sebagainya? 

Aktivitas ini sebetulnya bisa meningkatkan karakter kepemimpinan, tanggung jawab, sampai kemampuan memecahkan masalah. Tetapi, sekali lagi, prosesnya tidak enak. 

Di saat mahasiswa putri sibuk membenahi kamar indekos dan kukunya dengan telaten, para laki-laki belajar menjadi pemimpin! Kamar indekos mahasiswa putri akhirnya lebih bersih dan rapi. Kinclong sebagaimana iklan pembersih dengan artis perempuan. Dan lihat kukunya! Kuku para perempuan jauh lebih bersih daripada kuku para pria. 

Tetapi di ruangan lain, di kamar kamar indekos mahasiswa putra yang kukunya sejorok kamarnya itu, ada seorang anak yang belajar leadership! Belajar mengambil risiko dan mencari solusi.

Sebuah kekhasan patriarki, bukan? Dan banyak yang mengira feminisme sudah selesai dengan memberikan kesempatan yang sama antara perempuan dan laki-laki? 

Setara, kata mereka. Padahal, perempuan maupun laki-laki cenderung kembali ke kebiasaan lamanya. Seperti hukum kelembaman yang kita pelajari di matpel fisika, begitu pula kebanyakan perilaku kita sebagai masyarakat saat berhadapan dengan perubahan. 

Laki-laki terus tertekan menjadi pemimpin bahkan ketika kemampuannya sebetulnya buruk, dan perempuan terus menjadi pengikut bahkan ketika ia punya bakat. Ini kerugian kita bersama. Dalam kasus yang ekstrem, seperti di Saudi Arabia, kita tak akan pernah punya seorang Susi Pudjiastuti dan perempuan-perempuan hebat lainnya.

Saya sendiri merasa enggan menjadi ketua kelas, namun bukan karena saya perempuan. Saya mengambil pekerjaan di luar jam kuliah dan merasa tidak sanggup bila harus menjadi penanggung jawab kelas. Dan saya pun tidak pernah berharap bahwa perempuan selalu harus menjadi pemimpin. Sama sekali tidak seperti itu. 

Hanya saja, jangan pernah menggunakan alibi-alibi patriarki ketika kita tidak ingin melakukan sesuatu.  

Namun terlepas dari alasan saya tersebut, saya juga tahu bahwa ada konsekuensi yang harus ditanggung perempuan secara umum. Apa pun alasan yang dikemukakan. Sampel di kelas mungkin tak begitu mengena. 

Tetapi kita tahu bahwa situasi seperti ini terjadi dengan sangat luas, pada berbagai sendi kehidupan dan pada berbagai tingkatannya. Lalu akhirnya yang kita lihat adalah laki-laki yang belajar kepemimpinan dan para perempuan yang tak memiliki keterampilan itu.

Sekarang, bayangkan kondisinya ketika para pelajar tersebut lulus. Secara umum, kita akan mendapati SDM laki-laki yang lebih unggul dari SDM perempuan. Fakta bahwa pelajar perempuan sering memiliki nilai akademik lebih bagus tak akan ada gunanya. 

Memangnya apa gunanya? Toh, pemiliknya tak memiliki karakter mandiri dan pemimpin. Nilai-nilai bagus itu pun kemungkinan tersimpan di almari saat si perempuan memutuskan hanya mengabdi ke suaminya.

Oleh sebab itu, menurut saya, feminisme sebagai gerakan pembebasan perempuan juga harus mengkritik jenis kelamin yang dibelanya itu. Feminisme tidak boleh hanya menggugat kesewang-wenangan laki-laki. Sebab, yang saya lihat, hal-hal tersebut adalah puncak gunung es dari situasi sangat kompleks yang salah satu penyebabnya adalah "kegemaran" perempuan menarik diri dari urusan publik.