Penulis
6 bulan lalu · 260 view · 4 min baca menit baca · Buku 79719_90589.jpg
beauty is a wound

Sebab Cantik Itu Luka

“Mencintai seorang perempuan buruk rupa?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Sebab cantik itu luka.”

Demikianlah Eka Kurniawan menandaskan; menggambarkan rumitnya kisah yang bermula dari perempuan keturunan Belanda, yang pada selanjutnya hidup dalam luka sejarah. Berbagai peristiwa demi peristiwa, kekacauan demi kekacuan yang menyeretnya mesti terlibat.

Ia bernama Dewi Ayu. Perempuan keturunan Belanda itu dikenal sebagai pelacur termasyhur di kota Halimunda. Pula tercantik, tiada tanding, sebagaimana dengan keempat anak-anaknya. Turunannya, yang juga cantik. Oh, tidak. Anaknya yang terakhir itu terlampau cantik. Bahkan ia menamainya Cantik. Tak bisa dituliskan. Sumpah!.

Cantik Itu Luka, merupakan novel besutan Eka Kurniawan. “Anak kandungnya” yang lahir pada tahun 2002 silam atas kerjasama Akademi Kebudayaan Yogyakarta dan Penerbit Jendela.

Sebagai yang bercita-cita dapat gelar “Pembaca Garis Keras”, dengan membaca judulnya, sebetulnya saya menerka-terka seperti apa isinya itu. Barangkali serupa kisah tentang Hujan dan Senja. Atau apalah serupanya itu, yang hanya bikin dongkol kepala. Saya justru terbelalak, sebelum kemudian menyimpulkan: saya pembaca yang ingin dipuji. Sebab nyatanya, isinya jauh dari sama atas terkaan tadi.

Isinya justru tentang fakta dan sejarah. Tentang cinta dan kekejamannya. Tentang hantu dan mitologi. Tentang perang revolusi dan pembantaian orang-orang komunis. Bahkan hal paling absurd sekaligus: seks. Demikianlah. Menyesal pernah lahir jika tak membacanya. Sebab isinya bukan tentang Senja dan Hujan. Percayalah!

Jika mau cepat-cepat diurai setengah hati, maka barangkali begini urutannya: masa kolonial berakhir, dijemput pendudukan Jepang. Lalu perang revolusi, sebelum akhirnya Soekarno dan Hatta dilengser Pak Harto. Belum selesai. Pembantaian orang-orang komunis serta penumpasan para preman, serta anjing-anjing tak ada daya dibantai habis-habisan. Demikianlah itu dikisahkan dan terus-menerus menyeret perempuan bernama Dewi Ayu. Entah bagaiamana kuatnya pelacur itu.

Eka Kurniawan, sebagai yang disebut-sebut “bernapas” sama dengan mendiang Sang Maestro, Pramoedya, terlihat begitu cerdik memulai kisah dalam novel itu. Dan demikianlah benar seharusnya. Tanpa remeh-temah di muka, tanpa tedeng aling-aling, sekonyong-konyong konflik begitu saja tercipta dan menyentuh psikologi pembaca untuk bertanya-tanya. Setidaknya demikianlah yang terjadi bagi saya.

Perhatikan bagaimana Eka begitu cerdik memulainya: Sore hari di akhir pekan bulan Maret. Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian. Apa yang terjadi? Pembaca (atau saya) diperintah untuk duduk manis dan terus membaca agar tahu bagaimana itu terjadi.

Tapi bahkan kegelisahan itu tak terbalas. Tercampakkan justru. Mengapa orang mati bisa bangkit dari kematian? Saya tak menemukan Eka Kurniawan menjelaskan itu. Selain satu dialog bahwa itu hanya akal-akalan Dewi Ayu belaka. Bangkit dari kematian tidak sebagai orang hidup (Atau orang hidup?): “Tugasku telah berakhir, aku akan kembali ke dunia orang mati.”

Ada pula ucapan Dewi Ayu yang lain, “Aku mati pada umur lima puluh dua tahun, atas kehendakku sendiri, dengan harapan aku bisa menahan kekuatan roh jahatmu. Dan hari ini aku datang. Apakah kau percaya pada manusia bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun mati? Aku bukan manusia, maka aku bisa membunuhmu.”

Barangkali ada yang terlewat dari amatanku. Tapi menerima kemungkinan bahwa manusia bangkit dari kubur setelah mati, maka artinya kita mesti pula menerima keberadaan Isa menghidupkan manusia yang mati. Sebab hanya itu cara menenangkan benak yang memberontak bertanya-tanya. Terutama karena sains belum memiliki dalilnya atas itu. Memberikan nyawa pada yang mati. Alih-alih menciptakan nyawa, sebagaimana laiknya manusia.

Mesti percaya Tuhan atas segala kemungkinannya?

Saya akhirnya tahu satu hal: itu bukan kekeliruan Eka Kurniawan. Sebab ia sastrawan, maka segala "kemungkinan" akan lahir di sana. Bahkan menjadi Tuhan sekaligus. Paling tidak menjadi Tuhan bagi Cantik itu Luka. Ia bukan ilmuwan atau penemu. Dosa akademik tak melekat kepadanya, jangan menuntut.

Cantik Itu Malapetaka

Yang hendak diucapkan Eka Kurniawan adalah–dalam satu simpulan pendek–bahwa ­cantik itu sumber malapetaka. Eka bersembunyi di balik kata luka. Tapi itu bagus. Kata 'Luka' memang lebih ampuh untuk menyentuh psikologi pembaca, dan nampak terdidik secara sastra daripada malapetaka. Penegasannya halus tetapi mendalam. Lebih mengena, meski tentu ia memiliki alasannya sendiri. Itu menurutku, sebagai pembaca asal-asalan. Jangan diperdebatkan.

Tetapi memilukan sebetulnya. Kita mesti menerima cantik itu buahnya menyedihkan. Tak ada kebaikan selain berahi yang menyala-nyala untuk kemudian dilampiaskan oleh para lelaki hidung belang. Setidaknya begitulah yang hendak diucapkan Cantik Itu Luka.

Atau paling tidak demikianlah yang dipikirkan Ayu Dewi, hingga berpikir untuk “mengutuk” anaknya yang keempat sedari dalam kandungan. Hendak ia gugurkan, sebelum akhirnya lahir dengan keadaan buruk muka. Atau yang hendak ia beri nama Luka, sebelum akhirnya ia beri nama Cantik. Sebuah skandal memalukan.

Semula kita (atau saya) sebetulnya berharap bahwa "karma" yang diderita Dewi Ayu akan berhenti ketika kelahiran anaknya yang terakhir itu. Tapi bahkan nyatanya tak ada beda. Sebab malapetaka atau luka yang dialami Dewi Ayu terus berlanjut.

Saya akhirnya menyimpulkan: Kutukan untuk luka sepertinya telah ditakdirkan kepada yang cantik maupun yang buruk muka. Luka tetap mengiringi. Ia memiliki hak untuk bersemayam, baik kepada yang cantik, pun kepada yang buruk muka. Sebab kenyataanya, anak Dewi Ayu yang terkahir itu, yang ia beri nama Cantik tetapi buruk muka, toh tetap mengundang malapetaka. Terutama beberapa nyawa mesti hilang karenanya.

Maka pada akhirnya: Perempuan Itu Luka. Sebuah realitas imaji yang menyedihkan.

Artikel Terkait