Di SMA saya dulu, ada aturan tidak tertulis yang berbunyi bahwa ruang kelas harus selalu ‘bersih’. Bersih di sini bukan bermakna denotatif yang berarti bebas dari sampah, melainkan mempunyai makna konotatif yang artinya kurang lebih jangan menempelkan atau memajang sesuatu/gambar yang tidak biasa (aneh, tidak jelas, ambigu, nyeleneh, dst.) di dalam kelas.

Peraturan tersebut muncul akibat ulah seorang teman. Dia merupakan siswa yang terkenal ‘badung’ di sekolah. Suka memberontak dan kerap mempertanyakan hal-hal yang menurut guru-guru tidak perlu dipertanyakan lagi. Misalnya, mengapa sepatu yang dipakai harus hitam? Mengapa siswa diwajibkan memakai seragam? Padahal asas negara kita katanya ‘Bhineka Tunggal Ika’, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Di balik kebadungannya, teman saya itu mempunyai bakat istimewa dalam hal menggambar. Dia pernah mewakili sekolah mengikuti lomba menggambar tingkat provinsi, walau tak sampai jadi juara.

Suatu hari, dia membawa sejumlah gambar untuk ditempelkan di dinding kelas supaya kelas kelihatan lebih semarak. Hanya saja gambar-gambar yang dibawanya berbeda dengan gambar-gambar yang biasa terpajang di dalam kelas. Ada gambar sebuah meja dengan jam yang meleleh di atasnya. 

Ada gambar sekumpulan anak sekolah berbaris rapi dengan ekspresi wajah serupa dan di sampingnya berdiri dua orang lelaki tengah memasukkan sesuatu ke dalam kepala anak-anak tersebut. 

Adapula gambar yang apabila dilihat sekilas hanyalah berupa tumpahan cat minyak (belakangan saya tahu bahwa teman saya itu meniru gambar-gambar dari berbagai aliran seni rupa modern, seperti: ekspresionis, surealis, absurd, dll.).

Saya dan teman-teman sekelasnya yang lain, meskipun tidak tahu maksud dari gambar-gambar tersebut, dengan senang hati membantu menempelkannya. Bagi saya pribadi gambar-gambar itu terlihat begitu hidup, ekspresif, dan tentunya membuat kelas nampak semakin berwarna. Jauh dari kesan membosankan.

Tanggapan berbeda justru datang dari guru-guru yang kebetulan melihatnya. Sebagian mengatakan bahwa gambar-gambar itu nyeleneh. Sebagian lagi mengatakan gambar-gambar seperti itu teu uni [1] dan tidak sepatutnya dipajang di dalam kelas. 

Bahkan, sebagian lainnya berpendapat dan nampaknya dipercaya betul kebenarannya, bahwa gambar-gambar tersebut merupakan kritik yang ditujukan terhadap pihak sekolah. 

Pendapat yang terakhir ini membuat teman saya ‘digiring’ ke kantor untuk disidang di hadapan dewan guru. Polemik akhirnya reda setelah gambar-gambar itu dilepas/dicopot dan teman saya (dipaksa) berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi.

 Sejak saat itu, kelas saya kembali ‘bersih’. Alhasil, selama tiga tahun menempuh pendidikan di sekolah tersebut mata saya harus puas hanya memandang gambar-gambar yang sudah lazim terpajang di dalam ruang kelas, seperti: burung garuda, foto presiden dan wakilnya, organigram, anatomi tubuh manusia, penampang bunga, slogan-slogan serta sederetan kata-kata mutiara. 

Seni dan Pendidikan (Kita) 

Apa yang menimpa teman sekolah saya tadi perlahan-lahan membukakan kesadaran saya tentang peran penting ‘seni’ dalam pendidikan. Andai saja benar bahwa dia memang sengaja membuat gambar-gambar tersebut sebagai kritik terhadap guru atau pihak sekolah, perasaan seni yang dimilikinya telah berhasil menghindarkan teman saya itu berbuat anarki. Dia tidak menyerang dengan cara menghujat atau melakukan perusakan. Dia hanya mengkritik melalui lukisan.

Benar seperti yang dikemukakan seorang guru besar dari Kakitiya University India, Rames Gantha, yang mengatakan bahwa bangsa yang beradab tidak akan menggusur pendidikan seni dari kurikulum sekolahnya karena apabila itu dilakukan, maka bangsa tersebut berpotensi melahirkan generasi yang berbudaya kekerasan di masa mendatang. 

Logikanya, mereka yang tidak belajar nilai-nilai estetika dalam kehidupannya akan kehilangan kepekaan untuk membedakan nuansa antara baik dan buruk, indah dan tidak indah. Bahkan, dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan rendahnya kepekaan sosial di masyarakat.

Timbulnya berbagai kekerasan yang kerap terjadi akhir-akhir ini, seperti tawuran, perkelahian, atau pelecehan seksual yang dilakukan oleh pelajar di berbagai daerah kemungkinan besar disebabkan minimnya pendidikan ‘seni’ hadir di ruang kelas sekolah-sekolah kita. Agresivitas yang terjadi sebenarnya karena manusia kehilangan dimensi ke-dalam-annya, kehilangan rasa estetikanya.

‘Art should be the base of education,’ sabda Plato bergema dari relung waktu nan jauh, ribuan tahun jaraknya. Seni seharusnya menjadi dasar pendidikan karena prinsip utama seni ialah mengajarkan cara berpikir bebas sehingga kita terhindar dari wacana kekuasaan kepastian. 

Seni menawarkan kepada kita cara memandang yang multiperspektif sehingga senantiasa membuka kemungkinan untuk menemukan makna dan bentuk-bentuk baru. Seni juga menantang apa yang disebut ‘prinsip umum penalaran’ yang kerap mematikan daya hidup dan kreativitas.

Dalam perspektif pendidikan sendiri, seni dipandang sebagai alat atau media untuk memberikan keseimbangan antara roh dan badan, antara pikir dan rasa, antara intelektualitas dan sensibilitas, agar manusia dapat ‘memanusia’. Abai terhadap seni sama artinya dengan abai terhadap pembentukan manusia seutuhnya yang menjadi tujuan pendidikan nasional kita.

Sayangnya, sudah menjadi kelaziman bahwa sekolah-sekolah di negeri ini lebih menomorsatukan pelajaran-pelajaran yang berhubungan dengan otak kiri dibandingkan dengan otak kanan, di mana seni bersemayam di dalamnya. Sekolah terkesan menganggap bahwa mengasah kemampuan otak kiri akan jauh lebih berguna bagi masa depan siswa. 

Penafikan potensi-potensi alami yang terkandung dalam otak kanan mengakibatkan tamatan sekolah bagus dari sisi logika tapi lemah dari sisi etika dan estetika.

Hal itu bukan tanpa sebab. Sejarah kemudian mencatat, pemujaan terhadap otak kiri telah dimulai sejak penyerahan kedaulatan republik ini, sekitar 1950-an. Karena ingin mengejar ketertinggalan sebagai bangsa yang lama dijajah bangsa lain_ yang harus banyak membangun, maka yang diunggulkan dan disanjung adalah jurusan eksakta (teknik, kedokteran, farmasi, pertanian, peternakan, perkebunan, kehutanan). Akibatnya, pelajaran-pelajaran di luar itu_khususnya seni, dianggap tidak begitu penting lagi dan pada akhirnya termarjinalkan.

Dengan adanya anggapan seperti itu, pendidikan seni akhirnya hanya dianggap sekadar pelajaran tambahan, pelengkap, dan bukan pelajaran utama. Akibatnya sarana dan prasarana belajar tidak diperhatikan, ruang praktek atau tempat latihan tidak tersedia, ruang pameran atau tempat pagelaran tidak memadai. Lebih jauhnya, jam pelajaran untuk berkesenian diperkecil. Bahkan tidak sedikit, di beberapa sekolah unggulan, pelajaran seni sudah dihapuskan sama sekali.

Jalan Sunyi Pendidikan Seni Rupa di Indonesia 

Konon, pada 1930-an, pemerintah Kolonial Belanda untuk pertama kalinya memasukkan pendidikan seni rupa ke dalam kurikulum pendidikan pribumi. Jangan dibayangkan hal tersebut sebagai pengejawantahan tesis Plato tentang seni. Kebijakan ini murni untuk kepentingan kekuasaan kolonial sendiri, yakni mendapatkan tenaga pribumi yang murah dan terampil.

Adapun yang dipelajari dari pendidikan seni rupa saat itu tak lebih dari sekadar keterampilan menggambar (saya kemudian mengetahui bahwa ‘seni’ atau ‘seni rupa’ dalam pengertian yang sebenarnya tidak pernah diajarkan pada pendidikan umum di Indonesia di zaman kolonial). 

Pengajaran menggambar sendiri dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah sebagai pengganti mata pelajaran Ilmu Bangunan. Tujuannya agar siswa terampil dalam bidang pertukangan dan industri yang memakai kemampuan tersebut.

Pembaharuan pendidikan seni rupa baru dilakukan pasca penyerahan kedaulatan RI. Tentu saja hal ini tidak lahir dengan sendirinya, melainkan karena masuknya pengaruh-pengaruh dari luar, khusus Amerika. 

Menariknya, di saat yang bersamaan mulai tumbuh perhatian untuk memahami dunia anak. Pada masa itu muncullah kemudian apa yang dinamakan konsep baru dalam seni, yakni seni sebagai ekspresi. Hasilnya, pelajaran menggambar berubah menjadi pelajaran yang bersifat ber’ekspresi’.

Sampai di sini nampaknya kita harus rehat sejenak karena periode berikutnya, pendidikan seni rupa mulai menemui persimpangan. Pengajaran menggambar sebagai satu-satunya pelajaran dalam seni rupa mulai dikoreksi keberadaannya seiring masuk-nya cabang-cabang pendidikan seni lainnya.

Adalah kurikulum 1975 yang menjadi tonggak penanda perubahan arah pendidikan seni rupa di Indonesia. Dalam kurikulum ini, seni secara tegas ditujukan untuk pendidikan. 

Perubahan mendasar ini berangkat dari pemikiran seorang kritikus dan ahli patung kenamaan Inggris, Herbert Read. Dalam bukunya, ‘Education Throught Art’, Read mengatakan bahwa seni dapat dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Salah satu perubahan yang signifikan dalam kurikulum 1975 ialah hilangnya monopoli pengajaran menggambar dalam pendidikan seni rupa.

Kalau kita mau jujur, sesungguhnya dalam kurikulum inilah pendidikan seni rupa berada dalam tataran idealnya (setelah menapaki jalan berliku selama hampir setengah abad). Untuk pertama kalinya seni rupa dipandang sebagai ilmu yang harus dipelajari. 

Pada periode ini, pengajaran seni rupa tidak hanya tertumpu pada praktik saja, melainkan juga secara bersamaan belajar tentang sejarah, kritik, serta estetika seni rupa itu sendiri.

Sayangnya, hal tersebut tak berlangsung lama. Pendidikan seni rupa kembali  terdegradasi memasuki paruh 1990-an. Ketika itu pemerintah mengganti istilah pendidikan seni menjadi pelajaran kerajinan tangan dan kesenian. 

Tentu saja tidak dapat dipungkiri bahwa kerajinan tangan (craff) merupakan bagian dari seni rupa (kriya). Persoalannya, salah satu pokok bahasan dalam pelajaran ini ialah memasak dan menjahit (keduanya bahkan tidak termasuk mata pelajaran ‘art and craff’). 

Hal ini tentu bukan saja menjadikan pendidikan seni rupa menjadi ‘cacat’, tetapi tereduksi dari yang tadinya dipandang sebagai ilmu menjadi sekadar keterampilan. Sejarah memang kerap berulang, begitulah bisik sang zaman.

Dewasa ini, pendidikan seni rupa kian menepi dan terpinggirkan. Tenggelam dalam hiruk-pikuk cabang-cabang seni lainnya yang dianggap lebih menjanjikan. Di sekolah-sekolah, seni rupa nyaris terlupakan. Kalaupun ada, kerap dipandang sebelah mata. Sehingga apa yang dialami oleh teman saya dulu, sampai sekarang masih sering kita jumpai di sekolah-sekolah di negeri ini.  

 

Museum Seni Rupa; Sebuah ‘Jalan’ Alternatif

Kalau pendidikan seni rupa di sekolah dirasa sudah sedemikian gawatnya sehingga sulit diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai estetika ke dalam pribadi siswa, lalu siapa kemudian yang akan mampu mengambil alih peran tersebut? Seandainya pertanyaan itu diajukan kepada saya, maka saya tak ragu untuk menjawab: museum seni rupa.

Museum? Mendengar kata itu saja ingatan kita biasanya sudah langsung tertuju pada sebuah bangunan bersuasana statis, kuno, kaku, sepi, serta hal-hal yang membosankan lainnya. Saya yakin bayangan-bayangan itu ada di kepala. Tidak salah kalau banyak di antara kita yang berpikiran demikian, karena memang selama ini image museum seperti itu.

Namun, bagi Anda yang sudah menonton film ‘Night at The Museum’ besutan sutradara kenamaan Shaw Levy atau membaca novel Lousiana-lousiana karangan Mang Jamal (panggilan akrab Jamaludin Wiartakusumah), mungkin punya pandangan berbeda tentang keberadaan museum. 

Di film yang dibintangi oleh aktor Ben Stiller dan Robin Williams ini, kita disuguhi kemegahan dan kemewahan bangunan museum yang digunakan sebagai latar utama film tersebut. Kesan bahwa museum merupakan tempat yang kuno, sepi, kaku, dan angker, sontak terbantahkan.

Hal yang sama digambarkan dalam ‘Lousiana-lousiana’ yang terbit pada 2003. Novel pertama yang ditulis oleh dosan Itenas itu menjadikan museum-museum seni rupa di negara kelahiran filsuf pendiri aliran eksistensialis_Soren Aabey Kierkagaard sebagai latar cerita. 

Selain penggambarannya yang detail dan memikat, novel ini juga menyajikan realita ke hadapan kita bagaimana museum-museum seni rupa di Eropa sana tidak hanya sekadar sebagai tempat menyimpan atau memajang benda-benda kuno yang bersifat statis, melainkan bertranspormasi menjadi pusat kebudayaan dan destinasi wisata. 

Tidak heran apabila kemudian pengunjung museum-museum tersebut bukan hanya berasal dari publik seni rupa saja, melainkan seluruh masyarakat dari berbagai latar belakang.

Teman saya yang dulu pernah membuat heboh satu sekolah dan sekarang menjadi guru seni rupa di almamaternya, terkekeh mendengar cerita saya. Menurutnya, membandingkan Indonesia dengan Amerika atau Eropa tentang museum seni rupa seperti membandingkan gajah dengan kambing, jelas tak sebanding.

Dia pun berceramah panjang lebar bahwa di negeri yang masyarakatnya masih memikirkan urusan perut sebagai kebutuhan utama, mengunjungi museum tidak ada dalam daftar rekreasi tahunan mereka. 

Sekadar statistik, katanya so tahu, hanya sekitar 2 persen saja masyarakat Indonesia yang berkunjung ke museum setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, berapa persen yang pernah mampir ke museum seni rupa? Berapa persen anak sekolahnya? dst. dst. Artinya, menjadikan museum seni rupa sebagai alternatif yang tepat untuk mengajarkan nilai-nilai estetika kepada anak-anak sekolah menjadi hal yang mustahil .

Saya jelas tidak setuju dengan pendapat yang tidak berdasar tersebut. Teman saya itu barangkali lupa dengan apa yang dinamakan Learning to Seeing. Apa yang dilihat akan lebih membekas daripada apa yang didengar. 

Lebih jauh, G.W. Maxim mengungkapkan bahwa pengalaman belajar melalui gaya ikonik merupakan salah satu yang dianggap paling berhasil diterapkan kepada siswa. Alasannya, siswa lebih banyak belajar dari sekelilingnya. Sehingga memberikan pengalaman melalui sentuhan, penglihatan, serta merasakan. Di museum yang tentunya kaya dengan ikonik, pengalaman yang ditawarkan akan jauh lebih ‘membekas’ daripada pembelajaran di sekolah. 

Persoalannya barangkali, ketika museum seni rupa hilang dari daftar tempat yang menjadi tujuan studi wisata tahunan sekolah, bagaimana ia dapat hadir di tengah-tengah siswa? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya saya membahas hubungan antara museum seni rupa dengan (calon) publiknya, yakni anak-anak sekolah yang lucu-lucu dan imut-imut itu.

Selama ini, khususnya di kalangan pengelola museum, terdapat perspektif yang keliru terhadap publik seni rupa. Banyak di antaranya yang beranggapan bahwa publik seni rupa adalah mereka yang sudah jadi (orang-orang dewasa yang mengerti seni rupa) dan dari kalangan sendiri (seniman, dosen dan mahasiswa seni, kurator). 

Adapun pelajar serta masyarakat luas keberadaannya kerap diabaikan. Sehingga tak heran apabila pengunjung museum seni rupa terbatas pada segelintir orang-orang tertentu saja.

Pengelola museum kadang tidak sadar bahwa membina hubungan dengan (calon) publiknya akan menumbuhkan kecintaan mereka akan museum itu sendiri. Bukankah bibit-bibit itu akan tumbuh besar, sementara yang besar berangsur menjadi tua dan mati. 

Dalam hal ini, pelajar merupakan (calon) publik yang paling potensial. Selain memiliki pemahaman dasar tentang seni rupa, anak-anak sekolah itu-seperti yang telah disinggung sebelumnya, mereka juga ‘merindukan’ pengalaman belajar yang lebih autentik dan itu hanya tersedia di museum seni rupa.

Terakhir, hubungan antara museum seni rupa dengan (calon) publiknya merupakan hubungan oposisi biner (binary opposition), seperti yang dikemukakan de Saussure. 

Boleh jadi perumpamaannya seperti seorang guru dengan muridnya. Dalam pendidikan, gurulah yang harus masuk ke dalam dunia anak didiknya, bukan memaksa mereka masuk ke dunia guru.

Oleh karena itu, dalam kaitan ini sudah sepantasnya museum seni rupa sering-sering ‘mengunjungi’ anak-anak sekolah. Berbagi kegembiraan tentang dunia seni dengan mereka.

Museum Go to School atau Museum Saba Sakola [2] merupakan jawaban yang tepat atas pertanyaan tadi. Datangilah sekolah-sekolah tempat malaikat-malaikat kecil itu belajar. 

Ajarilah mereka cara membuka mata untuk melihat dunia yang begitu penuh warna. Beritahu mereka bagaimana menyapukan kuas di atas kanvas. Ceritakan pula sejarah ketika sebuah lukisan lahir dari tangan pelukisnya.

Di akhir acara, jangan lupa mengajak mereka untuk datang menyaksikan pameran seni rupa yang diadakan rutin setiap bulannya. Saya yakin, dengan cara ini pendidikan seni rupa di sekolah-sekolah akan kembali mempunyai masa depan. Dan lima atau sepuluh tahun yang akan datang, anak-anak sekolah itu akan ‘menyerbu’ museum seni rupa di saat musim libur tiba.  

Sampai hari ini saya kerap berandai-andai. Seandainya saya seorang siswa SMA, setiap hari belajar dengan gembira di kelas yang kelihatan begitu hidup dan berwarna. Dindingnya tidak putih-bersih lagi, melainkan penuh dengan gambar beraneka gaya. Foto presiden dan wakilnya masih ada, tapi dalam bentuk karikatur yang artistik hasil tangan-tangan kreatif dan terlatih. 

Apabila kaki melangkah ke luar, di sepanjang lorong sekolah penuh dengan berbagai karya seni buatan siswa sendiri. Dan di kantin, sayup-sayup terdengar obrolan sejumlah teman yang berbagi pengalaman saat mengunjungi pameran di museum seni rupa dan bertemu dengan para pelukis ternama kesayangan mereka. Seandainya saja.


[1] Tidak pantas (bahasa Sunda)

[2] Diilhami dari program Sastrawan Saba Sakola (Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda) dan Sastrawan Bicara Siswa bertanya (Majalah Sastra Horison).