Setelah musim yang panjang lagi melelahkan, Juventus akhirnya meraih gelar juara liga sepak bola Italia Serie A alias Scudetto. Raihan itu layak dirayakan oleh seluruh pengurus klub, pelatih, pemain, dan seluruh Juventini, sebutan bagi pendukung dan pencintanya. Namun tidak semua Juventini menyambut meriah Scudetto itu, karena Juve meraihnya dengan penampilan yang sangat buruk.

Tim sepak bola asal kota Turin itu menjuarai liga Italia musim 2019-2020 ini dengan 26 kemenangan, 5 kali imbang, dan 7 kekalahan dengan selisih hanya satu poin dari tim peringkat kedua. Meskipun gelar juara sudah dipastikan, pada laga terakhir yang seharusnya melengkapi pesta kemenangan, Juventus menderita kekalahan memalukan dengan skor 1-3 di kandang sendiri.

Ini jelas catatan terburuk dibanding penampilan mereka dalam sembilan musim terakhir, di mana Juve keluar sebagai juara berturut-turut. Performa mereka di lapangan juga dinilai tidak sesuai angan-angan.

Tim berseragam hitam-putih itu hanya mampu 76 kali menjebol gawang lawan dan kebobolan 43 kali. Empat tim penghuni klasemen akhir di bawahnya justru memiliki catatan yang lebih baik dalam hal ini. Padahal, pemain-pemain bintang sekelas Ronaldo, Dybala, Higuain, Ramsey, Pjanic, Rabiot, Bonucci, dan si anak emas De Ligt menghuni susunan pemain utama mereka.

Walau bagaimanapun, Juventus tetaplah juara jika dihitung dari total poin yang mereka kumpulkan dari 38 pertandingan. Ini tentunya nilai yang baik. Namun jika dilihat dari catatan-catatan yang lebih detail serta pola permainan mereka di atas lapangan, Juve sepertinya pantas mendapatkan nilai yang buruk. Wajar saja jika sebagian Juventini menyatakan Scudetto kali ini tidak begitu indah, terasa hambar.

Dari fenomena ini kita dapat belajar tentang dasar-dasar Filsafat Nilai. Dalam filsafat, pengetahuan tentang nilai disebut aksiologi. Cabang-cabangnya terdiri dari estetika atau keindahan dan etika atau filsafat moral. Yang pertama berbicara tentang bagaimana sesuatu disebut indah ataukah jelek, sedangkan yang kedua berbicara tentang bagaimana sesuatu dikatakan baik ataukah buruk.

Tulisan singkat ini lebih berkisar pada ruang lingkup estetika. Sebab, sebuah kompetisi sepak bola tidak memiliki hubungan langsung dengan persoalan moral, meskipun penilaian terhadap prestasi Juve di liga Italia musim ini berakhir dengan kata-kata “baik” dan “buruk”. Ini adalah persoalan senang dan tidak senang, suka dan tidak suka.

Masalah besar yang diperdebatkan dalam filsafat nilai adalah: apakah nilai itu objektif ataukah subjektif? Apakah nilai ada pada diri objek ataukah dilekatkan kepada objek oleh pengamat sebagai subjek? Apakah setangkai bunga itu cantik karena memang kecantikan ada pada dirinya dan mendahului penilaian subjek, ataukah karena Anda menyifatinya cantik setelah melihatnya dengan mata kepala?

Perdebatan mengenai persoalan itu sebenarnya cukup panjang, hingga para filsuf terbagi antara objektivisme dan lawannya, subjektivisme. 

Untuk menengahi perdebatan itu, Risieri Frondizi dalam What is Value? (1963, terjemahan Indonesia oleh Cuk Ananta Wijaya, 2001) menawarkan gagasan bahwa pada akhirnya nilai hadir tergantung pada situasi. Situasi fisiologis dan/atau psikologis seseorang akan memengaruhi apakah nilai suatu objek bersifat objektif ataukah subjektif.

Suatu makanan, misalnya, memiliki nilai kelezatannya sendiri. Namun, orang yang sedang sakit gigi atau sedang sakit hati akan berbeda memberikan penilaian dengan orang yang indra pengecapannya sehat atau hatinya sedang bahagia.

Mari kita berasumsi, memang ada nilai yang objektif dan ada nilai yang subjektif. Saya kira ilustrasi berikut ini bisa menggambarkannya.

Anda melihat seseorang berwajah cantik atau ganteng, semua orang juga menilainya cantik atau ganteng, dan Anda tidak menemukan satu orang pun yang mengatakan sebaliknya. Di sini nilai cantik dan ganteng ada pada wajah orang itu. Inilah nilai objektif.

Namun, tidak semua orang tertarik menjadikannya kekasih karena cantik dan ganteng bagi seseorang berbeda dengan orang lain, boleh jadi karena kecantikan wajah orang itu tidak dilengkapi dengan keindahan budi pekertinya. Yang terakhir ini lebih pantas disebut penilaian subjektif. Istilahnya, yang maujud itu banyak tapi wujud cuma satu. Ce ileh!

Kembali ke Scudetto Juventus. Bahwa Juve adalah juara liga Italia adalah nilai yang tak dapat dimungkiri oleh siapa pun, apalagi dibuktikan oleh jumlah poin yang dikumpulkan tim itu selama semusim. Ini adalah nilai objektif.

Adapun bahwa Juve meraih gelar juara dengan performa yang buruk, sehingga gelar juara itu tidak terasa manis bagi sebagian Juventini, ini adalah nilai subjektif, sebab masih banyak Juventini yang menilai juara tetaplah juara, apalagi Juve tetap mampu menjuarai kompetisi dengan performa yang tidak menyenangkan.

Dari nilai yang diperdebatkan Juventini ini pula kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ada nilai hukum dan nilai sosial. Nilai hukum adalah nilai yang dikodifikasi dan menjadi nilai yang bersifat formal. Contohnya adalah bahwa status juara diraih sebuah tim apabila mampu mengumpulkan poin terbanyak dan nilai ini bersifat objektif.

Sementara nilai sosial adalah nilai yang beredar di kalangan pengamat (subjek) tanpa dikodifikasi dan tidak formal, sehingga nilai ini bisa berubah dan subjektif. Dalam kasus penilaian Juventini terhadap raihan Scudetto Juve, contohnya adalah bahwa seharusnya tim yang juara juga harus menampilkan performa yang bagus, mencetak gol terbanyak, kebobolan paling sedikit, dan permainannya enak ditonton.

Pada akhirnya Juventus tetap meraih Scudetto. Apakah Scudetto-nya tidak manis atau hambar, itu soal Anda senang atau tidak senang. Setiap Juventini berhak memberikan nilai apa pun.

Tapi saya yakin, Juventini akan tetap membanggakan Scudetto Juve di hadapan pendukung klub lain, walaupun mungkin di hadapan sesama Juventini mereka akan mengeluhkan performa tim besutan Maurizio Sarri itu. Ya, tergantung pada situasi.