Screenshot, screen capture, atau dengan bahasa Indonesia dikenal sebagai tangkap layar, adalah hal yang sudah biasa. Percakapan dengan teman-teman melalui WhatsApp, Line, dan media lain yang dirasa lucu sering menjadi bahan untuk disebarluaskan untuk menarik perhatian orang-orang. Tak jarang, obrolan dengan pacar sekalipun sering diabadikan dan disebarluaskan. 

Hal itu tentunya bukan masalah yang besar jika orang yang terlibat di dalam percakapan tersebut setuju untuk menyebar luaskan isi percakapannya. Namun bagaimana dengan yang tidak setuju?

Di era ini, banyak terdapat toko online yang menjual barangnya melalui internet. Penipuan pun marak terjadi di mana-mana. Korban penipuan sering menyebar percakapan dengan pemilik toko yang menjadi tersangka penipuan tanpa adanya persetujuan dari pihak toko. 

Hal tersebut juga bisa dilaporkan karena korban melakukan penghinaan terhadap toko yang melakukan penipuan. Walaupun percakapan tersebut memang benar adanya, pihak toko yang menjadi tersangka tetap bisa menuntut Anda seperti yang tertulis pada UU ITE pasal 27 yang berbunyi:

(1) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

(2) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian.

(3) Setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

(4) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman.

Ancaman yang diberikan pun tidak main-main. Jika Anda melangggar pasal yang sudah tertulis di atas, maka hukuman yang akan diberikan sesuai dengan UU ITE pasal 45 ayat 1 yang menyebutkan: “Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”

Terlepas dari kasus penipuan, ternyata screenshot juga bisa dituntut jika orang yang terlibat dalam percakapan itu tidak setuju jika data pribadinya disebarluaskan. Hal ini juga sudah tercantum jelas dalam UU ITE pasal 26 ayat 1 dan 2 yang berbunyi: "Kecuali ditentukan lain oleh Peraturan Perundang-undangan, penggunaan, setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan orang yang bersangkutan."

Kemudian ayat 2 menjelaskan, "Setiap orang yang dilanggar haknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan gugatan atas kerugian yang ditimbulkan berdasarkan Undang-Undang ini."

Screenshot bukanlah hal yang sepele. Muatan konten yang ada di dalamnya perlu diperhatian lebih lanjut sebelum menyebarluaskan isi percakapan. 

Setiap orang berhak melindungi data pribadinya dan berhak untuk mendapat tentraman hidup. Maka dari itu, jangan sekali-kali menyebar screenshot yang berisi percakapan dengan siapa pun tanpa adanya persetujuan dari pihak yang bersangkutan. Terutama pada zaman modern ini, banyak tindak kriminal yang akan terjadi jika data pribadi bocor.

Bijaklah dalam penggunaan internet dan media sosial. Setiap kegiatan yang Anda lakukan di internet sudah diatur dalam Undang Undang Informasi Transaksi Eletronik (UU ITE). Jika melanggar, Anda harus siap menanggung risikonya.