Hermenutika atau seni menafsir merupakan kata yang sering didengar oleh kalangan teologi, filsafat, dan sastra. Perkembangan hermenutika bermula pada gerakan para teolog Protestan Eropa yang menyatakan bahwa hermenuetika adalah sebuah metode tafsir yang bertitik fokus dalam isu-isu yang berkembang di kalangan teologi.

Hermenutika secara bahasa berarti menafsirkan. Seiring perkembangan zaman, keluarlah beberapa tokoh hermenutika barat, di antaraya Schleiermacher, Bollnow, Heidegger, Ricouer, Gadamer, Habermas, dan Derrida. Sudah berang tentu dari setiap tokoh pemikir hermenutika mempunyai corak dan karakter masing-masing.

Hermenuetika dipopulerkan oleh Schleiermacher di dalam karya bukunya yang berjudul Grundlinien der Grammatik, Hermeneutik und Kritik (Basic Elements of Grammer,Hermeneutic and Critism). Beliau menerjemahkan hermeneutik sebagai “Kunstslehre des Vershens” yang berarti sebuah pemahaman mengacu pada hasil sesuatu yang ditangkap, berupa benda, ucapan, peristiwa maupun teks.

Kegiatan dalam proses memahami atau menafsirkan sudah tak lazim lagi kita dengar. Kegiatan pengambilan makna yang mengacu pada teks maupun non teks menimbulkan pemahaman yang beragam.

Bisa kita amati di dalam mayarakat, tidak terlepas dari interaksi individu dengan kelompok, begitu pun sebaliknya. Ada juga individu dengan individu. Proses berinteraksi melalui percakapan, gerak tubuh badan maupun kegiatan kemasyarakatan, di situ kita mencoba untuk memahami dan menafsirkann apa maksud dari interkasi tersebut.

Memahami dan menafsirkan tidak terlepas dari bahasa, dan juga bahasa tidak semua dapat terlepaskan daripada pikiran dari penuturnya. Sehingga setiap bahasa yang diucapkan akan menimbulkan pemahaman yang dibangun oleh satu orang tidak pasti sama dengan orang lainnya.  

Oleh karena itu, untuk bisa memahami Schleiermacher, perlu kita memperhatikan dan membedakan dua hal penting, yakni “antara memahami apa yang dikatakan dalam konteks bahasa“ dan “memahami yang dikatakan itu adalah sebagai sebuah fakta yang tidak lepas dari penuturnya”.

Dengan kita memahami kedua hal penting tersebut, lalu kita bisa berpikir, ternyata setiap percakapan mempunyai kesenjangan antara bahasa yang telah diucapkan maupun isi pikirannya.

Jika kita melihat kehidupan di masyarakat, maka kita akan menemukan banyak sekali kesenjangan-kesenjangan sehingga mengakibatkan interaksi tersebut menuai kesalahpahaman dalam ucapan maupun perilaku. Terkadanag satu ucapan sama dalam pemaknaan yang berbeda dan begitu pun sebaliknya.

Kejadian inilah oleh Schleiermacher diartikan sebagai “prasangka, bila kita mementingkan perspektif kita sendiri sehingga salah dalam memahami maksud dari penulis maupun pembicaraan”.

Melihat problematika di masyarakat semakin beragam dan kompleks sehingga Schleiermacher mencoba memberikan solusi terhadap problem tersebut dengan menggunakan hermenutika. Ilmu ini bukan ilmu baru, melainkan ilmu yang sudah digunakan oleh Harmas sebagai dewa pengetahuan dalam metologi Yunani kuno.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu hermenuetika bisa disebut sebagai sebuah “seni dalam menafsirkan”, karena mempunyai dua hal, yaitu pertama, hermenuetika bertolak dari situasi tanpa pemahaman. Sehingga untuk bisa memahami, dibutuhkan upaya dan tidak hanya spontan.

Kedua, karena praktik untuk mengatasi kesalahpahaman pada umumnya itu dilakukan dengan kaidah-kaidah tertentu. Sehingga “seni dalam menafsir” di sini sebagai “kepiawaian” seperti yang kita bisa lihat seorang seniman yang menghasilkan fine art.

Ruang lingkup hermenuetika yang diulas oleh Schleiermacher bukan sebuah ulasan yang mudah. Prinsipnya memang sederhana, yaitu untuk bisa memahami teks kita perlu memasuki dunia mental seorang penulis teks tersebut. Melalui susunan kalimat-kalimat yang telah dibicarakan atau dituliskan.

Proses pengambilan makna menjadi rumit ketika kita mendalami lebih dalam lagi. Di sini kita akan dihadapkan dengan proses mental dan pikiran seseorang yang menulis teks. Sehingga timbullah pertanyaan: Manakah yang lebih utama, apakah perkataan atau teks dari penutur? Atau isi pikirannya? Dalam hal ini, Schleiermacher mengandaikan bahwa dualitas bahasa yang tidak terlepas daripada horizon bagi pemakainya.

Proses pemahaman yang mendalam menurut Schleiermacher menjadi penting dengan menyertakan tiga poin penting, di antaranya sebagai berikut:

Pertama, proses memahami dalam ranah relatif. Kedua, relatif yang terjadi supaya bisa jelas untuk dipahami maknanya, maka tidak lepas melibatkan empati. Ketiga, memahami merupakan mengintegrasikan sebuah makna khusus ke dalam konteks yang lebih luas.

Dengan beberapa gagasan atau ide-ide dari Schleiermacher di atas, diharapkan kita mampu mempelajari bahasa, fenomena, dan kesenjangan-kesenjangan yang ada di masyarakat. Sehingga kita bisa hidup lebih bijak dan tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu dan perkataan-perkataan kurang benar yang memicu pertengkaran dan mudah terpecah belah.