2 minggu lalu · 23177 view · 3 menit baca · Politik 25376_33789.jpg

SBY yang Dihibur oleh Oposisi

Kita tidak bisa melepaskan politik dari segala sesuatu yang berkaitan dengan politik.

Apa maksud dari kata-kata di atas? Begini penjelasannya. 

Sebenarnya berpulangnya Ibu Ani Yudhoyono adalah murni masalah kemanusiaan. Tidak ada orang yang pernah terbiasa dengan kehilangan. Tidak ada orang yang pernah menerima kehilangan dengan berpengalaman.

Mau setua apa pun, atau semuda apa pun manusia, kehilangan adalah sesuatu yang tidak pernah menjadi sebuah hal yang terbiasa. Kita tidak pernah terbiasa dengan hal itu. Di dalam dunia ini, kehilangan adalah sesuatu yang pasti setiap orang pernah alami, dengan kadarnya yang berbeda-beda.

Kehilangan barang yang kita sukai tentu tidak pernah semenyakitkan kehilangan hewan peliharaan yang kita sayangi dan kita beri makan setiap hari. Kehilangan barang dan hewan adalah kehilangan level pertama. Kehilangan seperti ini adalah kehilangan yang memang mengusik hati.

Orang yang mengalami kehilangan benda atau peliharaan pun tidak pernah mengalami rasa sakit yang lebih mendalam ketimbang kehilangan sesamanya, manusia.

Kehilangan manusia jauh lebih menyakitkan ketimbang kehilangan barang. Kehilangan manusia bisa dilihat dalam beberapa tahapan. Pertama, kehilangan orang yang tidak kita kenal dekat. Kedua, kehilangan orang yang kita kenal dekat. Ketiga, kehilangan orang yang mengasihi kita dan yang kita kasihi. Ketiga level ini berada pada level yang berbeda.


Kehilangan orang yang tidak terlalu dekat tentu menyakitkan. Rasa kehilangan ini bisa kita rasakan dalam bentuk empati dan simpati terhadap orang-orang yang ditinggalkan. Jika saya, dalam kasus kehilangan Ibu Ani, adalah kehilangan level ini.

Saya tidak kenal dekat dengan Ibu Ani, dan sebaliknya tentu. Di sinilah peranan simpati dan empati terhadap sanak saudara yang mengenal dia. Saya berasa simpati dan empati dengan kehilangan yang dialami oleh orang-orang dekatnya seperti SBY, AHY, Ibas, dan sanak saudara mereka. Kehilangan semacam ini perlu kita gali dan pupuk rasa empati.

Kehilangan orang yang dekat, sanak saudara atau sahabat, adalah kehilangan yang kadar sakitnya lebih ada. Sebagian dari bagian hidup kita harus pergi menghadap Sang Khalik. Kehilangan orang semacam ini tidak bisa dirasakan oleh banyak orang.

Akan tetapi, kehilangan ini sungguh menyakitkan. 

Saya pernah kehilangan teman dekat saya. Orang ini meninggal dalam sakitnya yang tidak kunjung sembuh. Saya merasa kehilangan. Mengapa? Karena orang-orang ini sudah menorehkan sebagian hati saya dengan torehan yang dalam. Ini bukan urusan pacaran atau kekasih atau apa pun.

Tapi, kehilangan teman adalah kehilangan bagian dari sejarah hidup kita. Kehilangan yang sebenarnya tidak hilang. Secara fisik, orang ini hilang. Tapi secara pengaruh, dia tidak pernah hilang di dalam kehidupan saya. Inilah yang masuk ke dalam kehilangan level kedua.

Kehilangan orang yang kita cintai dan yang mencintai kita, dalam hal ini adalah pasangan hidup, atau saudara-saudara yang kita kasihi, adalah kehilangan yang paling tinggi di dunia ini. Rasa kehilangan ini bukan saja memengaruhi hati, tapi memengaruhi fisik.

Fisik ini lemah. Fisik ini langsung drop

Nenek saya, ketika kehilangan suaminya, mengalami kehilangan yang benar-benar menyakitkan. Dia sampai depresi dan nyaris mengalami gangguan jiwa. Berbicara sendiri, dan menganggap di hadapannya ada kakek saya. Berbicara dan terus berbicara, lalu menangis sendiri di kamar.

Tidak ada yang bisa menggantikan peranan sang suami di sini. Inilah yang dialami SBY ketika kehilangan istri tercintanya, Ani Yudhoyono. Kehilangan bagian dari seumur hidupnya adalah kehilangan yang paling hakiki.

Orang yang mengalami kehilangan yang begitu mendalam seperti ini, hidupnya akan pasti berubah. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Perubahan hidup pasti dialami. Suka atau tidak suka. Maka SBY perlu ditemani. SBY perlu dirangkul.


Siapa yang merangkul SBY? Tentu, pertama, adalah keluarga intinya. Kedua, keluarga sanak sudara handai taulan. Ketiga, seharusnya orang-orang yang ada di dalam kepartaian dan koalisi. Tapi untuk urusan ketiga, SBY malah didampingi oleh oposisi.

Ada Luhut Binsar Pandjaitan yang selaku mantan dubes Singapura, melayat Ibu Ani di Rumah Sakit. Ada Sri Mulyani yang ikut menangisi kepergian Ani Yudhoyono. Ada Kaesang, anak Jokowi yang ikut dalam acara salat jenasah.

Ketika SBY menemani Mendiang Ibu Ani, pun ditemani oleh jajaran tentara TNI AU dengan Hercules. Setibanya di Jakarta, SBY disambut pelukan oleh Bapak BJ Habibie dan Bapak Presiden RI Joko Widodo yang ditemani oleh Kapolri Tito Karnavian, Panglima Hadi Tjahjanto, Jenderal Purn Wiranto, dan elite-elite oposisi.

Di sinilah kemanusiaan bisa kita pandang lebih tinggi dari politik. 

Di mana koalisinya? Tidak tahu. Tapi saya lebih memperlihatkan kepada para pembaca, agar kita harus sadar bahwa keunikan dari kubu petahana adalah bisa mengedepankan kemanusiaan ketimbang politik. Ini yang harus kita pelajari bersama-sama dan menjadi bahan pembelajaran kita untuk ke depannya.

Pak SBY, saya menyampaikan ucapan belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga keluarga diberikan penghiburan dan mendiang Ibu Ani mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.

Artikel Terkait