5 hari lalu · 32 view · 3 min baca menit baca · Ekonomi 38464_66346.jpg
Sumber: https://market.bisnis.com/read/20190709/92/1121906/ini-proyeksi-kupon-obligasi-ritel-sbr-007

SBR007 dan Arah Baru Hubungan Pemerintah-Rakyat

Akhir-akhir ini, pemerintah sedang gencar mempromosikan SBR007. Singkatan dari Savings Bond Ritel 007 ini diklaim sebagai alternatif investasi yang aman, mudah, terjangkau, dan menguntungkan. Selain itu, insttrumen ini juga membantu pembiayaan negara. Mengapa demikian?

SBR007 dianggap aman karena ia adalah instrumen pendapatan tetap. Artinya, bunga yang diterima investor bersifat tetap/pasti (Investopedia, 2019). Lebih lagi, kuponnya juga dijamin oleh pemerintah pada 7,5% per tahun. Sehingga, tidak mungkin investor SBR007 mengalami kerugian sampai maturitasnya pada tahun 2021.

Berinvestasi di SBR007 juga mudah dengan adanya e-SBN. Kini, warga negara Indonesia bisa membeli SBR007 secara online melalui mitra distribusi yang ditunjuk pemerintah. Untuk melakukannya, investor hanya perlu melakukan empat langkah berikut:

  1. Registrasi
  2. Pemesanan
  3. Pembayaran
  4. Konfirmasi


Untuk penjelasan selengkapnya, silakan tengok laman promosi SBR007. Yang jelas, langkah-langkah ini cukup sederhana. Bahkan orang awam seperti penulis bisa memahaminya.

Keterjangkauan SBR007 tercermin dari jumlah minimum investasi yang rendah. Meski tidak serendah reksadana, batas minimum ini tergolong rendah untuk instrumen obligasi. Mulai dari satu juta rupiah, warga negara Indonesia bisa ikut membeli SBR007. Sehingga, tidak berlaku lagi stigma bahwa berinvestasi itu mahal.

Selain tidak mahal, SBR007 juga memberikan keuntungan yang menarik. Ada batas minimum kupon sebesar 7,5% per tahun. Jumlah kupon yang diterima investor dihitung dari tingkat BI 7 Day Repo Rate (7DRR) ditambah spread sebesar 1,5%. Jika BI 7DRR naik menjadi 6,25%, kupon pun naik menjadi 7,75%. Tetapi, jika BI 7DRR turun menjadi 5,75%, kupon akan tetap berada pada tingkat 7,5%.


Pemaparan di atas menggambarkan SBR007 sebagai instrumen yang layak investasi. Lantas, jika saya berinvestasi pada SBR007, mengalir kemana dana tersebut, sampai bisa menghasilkan keuntungan?

Dana tersebut akan mengalir ke APBN 2019. Ia akan menjadi bagian dari pembiayaan APBN kita tahun ini. Setelah itu, pembiayaan tersebut akan dialokasikan secara hati-hati menuju kegiatan produktif. Mulai dari pembangunan infrastruktur sampai pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Melihat bukti-bukti yang ada, pernyataan di atas bukanlah pepesan kosong semata.

Meski penerimaan pajak lesu, pemerintah masih mampu menjaga rasio defisit terhadap PDB sebesar 0,79%. Rasio hutang terhadap PDB juga masih di bawah batas aman 30%, yaitu 29,72%. Kinerja perekonomian kita secara umum juga cukup stabil (Sukarno dalam ekonomi.bisnis.com, 2019). Sehingga, default hampir tidak mungkin terjadi di saat ini.

Sehingga, membantu pembiayaan APBN melalui SBR007 adalah transaksi ekonomi yang menguntungkan kedua belah pihak. Pemerintah menerima keuntungan berupa pemasukan tambahan untuk pembangunan yang bersifat produktif. Sementara, rakyat memiliki alternatif investasi baru yang menguntungkan serta bertanggung jawab secara sosial.

Namun, penulis memandang SBR007 adalah batu lompatan menuju sebuah visi yang lebih jauh. It’s not just about economics. It’s about a change in the relationship between our government and us.

Melalui SBR007, pemerintah berharap untuk mengubah komposisi portofolio utang publik. Perubahan ini diarahkan pada peningkatan utang dalam negeri dari investor-investor ritel. Seperti di Jepang, di mana banyak rumah tangga berinvestasi pada surat utang pemerintah (Anstey dalam Bloomberg.com, 2019). Sehingga, eksposur resiko kurs, suku bunga internasional, sampai neraca pembayaran bisa dikurangi.

Untuk itulah pemerintah membuat SBR007 seatraktif mungkin. Supaya banyak warga negara Indonesia mau berinvestasi pada surat utang pemerintah. Investasi inilah yang memunculkan sebuah persetujuan (consent) baru dari rakyat terhadap pemerintah.

Apakah persetujuan tersebut? Persetujuan tersebut adalah economic consent. Artinya, ada kesepakatan antara pemerintah dengan rakyat secara ekonomi. Rakyat menggunakan kedaulatannya untuk memberikan piutang kepada pemerintah, dalam rangka membiayai segenap programnya. Sementara, pemerintah harus memastikan bahwa rakyat menerima keuntungan dengan prinsip prudent finance.

Selama ini, rakyat Indonesia hanya memiliki political and social consent terhadap pemerintahnya. Melalui Pemilu, rakyat mempercayakan kedaulatannya untuk diwakilkan oleh politisi di cabang eksekutif dan legislatif. Selain itu, ruang publik yang bebas memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memberikan kritik, saran, dan usulan terhadap segala tindakan pemerintahannya.


Sementara, SBR007 memberikan kesempatan bagi rakyat untuk menggunakan kedaulatan ekonominya. Dengan mempertimbangkan berbagai indikator fundamental ekonomi kita, rakyat diberikan kesempatan untuk memilih. Apakah sektor publik kita layak dan kredibel untuk dijadikan ladang investasi? Apakah pemerintahan kita sudah mengelola keuangannya sampai layak investasi?

Jika sudah layak, rakyat Indonesia bisa langsung membeli SBR007. Jika tidak layak, rakyat Indonesia bisa membeli alternatif investasi lain di pasar sekunder. Jika kita justru ingin mempunyai kepemilikan terhadap sektor publik, beli saja saham-saham BUMN. Sehingga, setiap orang bisa menikmati pilihannya. Therefore, freedom of choice creates economic consent of the governed.

Economic consent inilah yang membuat pemerintah lebih transparan dan akuntabel terhadap rakyat. Rakyat juga menjadi tuan terhadap pemerintah. Sebab mereka langsung menjadi kreditor. Pemerintah sebagai debitor dituntut untuk mengelola keuangan publik secara efisien. Jika tidak, rakyat bisa merasa dirugikan sebagai kreditor.

Akhirnya, instrumen seperti SBR007 mendorong Bangsa Indonesia menuju sebuah hubungan baru pemerintah-rakyat. Sebuah hubungan di mana kedaulatan rakyat ditinggikan oleh sebuah pemerintah yang bertanggung jawab dan transparan.

Artikel Terkait