(1)

Kepada Tuhan yang Maha Mendengar,
Kepada bumi yang terhampar,
Kepada langit yang cahayanya mulai memudar,
Aku menjamah doa dengan dosa yang hingar bingar. 

Kepada Tuhan...
Pantaskah aku berdoa pada balutan tubuh penuh dosa?
Kepada bumi...
Pantaskah aku berpijak diatasmu dengan kekotoran jiwa dan raga?
Kepada langit...
Pantaskah aku bernaung dibawahmu dengan kepala congkak penuh nafsu angkara? 

Kembali pada suasana peronda,
Dengan kopinya yang tak lagi ada,
Serta kretek yang enggan diajak bercumbu dengan mulut penuh caci tanpa tahu jeda,
Yang mencoba menggelar puisi tetapi yang ada hanya bualan kata. 

Sejenak saja, bolehlah aku menyapa dengan sebutan dosa,
Tanpa kenal arah ia menyelinap dalam rongga mulut pendoa,
Diatas sajadah kusam itu, dosa mencoba mematahkan doa,
Ditengah malam itu, doa mencoba menetralkan dosa,
Dan...
Diatas langit dibawah bumi, doa dengan dosa takkan pernah bercerita akan siapa yang mampu mengawinkannya.

Bersambung.............
Yogyakarta, 21 Oktober 2019

(2)

uforia hari ini sungguh terasa

Kaum bersarung merayakan hari merdekanya
Berlabel santri, tapi ada bias dalam hati
Ya, itulah diriku yang malu mengaku santri. 

Setiap hari mengaji dan mengaji
Tapi masih saja ada iri dan dengki dalam hati
Petuah kyai disampaikan dengan penuh bijak
Memang aku yang kadang tak punya otak. 

Tuhan tak salah mengatur alur
Memang hidupku saja yang tarik-ulur
Masih saja ada kopi yang mau menemani bersama sepi
Masa lalu kini sedang mencoba mengingatkan kembali. 

Sejauh melangkahkan kakiku,
Untuk jadi butiran debu pada sandal Kyai pun aku tak mampu
Sajadah menjadi saksi dari bait doaku,
Sajadah pula yang bersaksi atas segala dosaku. 

Sepanjang puisi yang tertulis,
Sebanyak huruf yang berbaris,
Sebegitu rumitlah doa dan dosa ku tergubris, 

Bersambung... 

Yogyakarta, 22 Oktober 2019

(3)

Siang bolong seperti anjing yang melolong
Serupa adam tengah merindu dengan raut bengong
Setelah sekian malam, baru ini kupanjatkan bait dikala siang
Tanpa bermaksud mencari waktu luang, karena setiap waktu ku adalah kasih sayang. 

Malam tak lagi memberi warna
Gelap telah menjadi washilah pendosa
Bulan menyamar menjadi cahaya penunjuk terkabulnya doa
Hanya itu! Itu saja yang dimiliki oleh malam setiap harinya. 

Berbeda dengan euforia siang hari,
Para penangguh kitab suci berkhotbah disana sini
Para pemegang pangkat berlagak rapi dan berdasi, tapi juga korupsi
Para pendosa terlihat rendah hati. Sedangkan para pendoa sedang asyik mencaci. 

Yogyakarta, 23 Oktober 2019

(4)


 banyak orang yang terlena,
Oleh semua hari yang telah dilewati,
Aku merasakan fana pada hati mereka,
Terlalu bangga jika terlihat kuat dan berarti, 

Kebanggaan seperti apa yang dikehendaki,
Jika riuh gempita itu hanya tiba sesaat dan bersekat,
Tak ada pencapaian untuk sang illahi,
Sampai tiba masa yang dekat tak lagi dekat, 

Tuhan apakah lupa pada masa hamba?
Tuhan apakah resah pada tingkah hamba?
Tuhan apakah murka pada janji hamba? 

Tuhan, tenanglah engkau disana. 

Yogyakarta, 14 Oktober 2019

(4)

Banyak kulihat keresahan pada raut mereka
Wajah tanpa bedak serta bibir tanpa gincu
Rambut panjang tertutup kain berenda
Terlihat wajahnya sayup karena menunggu

Tak ada kata lain, selain "kok lama sih"
Barang kali seperti lonte yang menanti penis kekasih
Bukannya merintih, vaginanya gatal dan terasa pedih.
Semakin lama, tampak selangkangannya letih. 

Dan akhirnya..
Yang dinanti tiba.
Bukan petaka atau bencana
Tetapi kerinduan dari jiwa seorang mahasiswa. 

Senopati, 10 Oktober 2019

(5)

Kepada resah aku beradu
Maukah ia berdamai denganku?
Kau datang seperti hantu yang menakuti
Maukah engkau hangat seperti kata hati? 

Detak arloji terus bergulir
Serupa yang kupikir
Terdiam tanpa ada gerak
Hanya denyut nadi yang berdetak

Hanya membisu
Seperti merasakan sunyi yang beku
Bagaimana langkah untuk maju
Entah rindu yang menggebu, aku tak tahu

Diriku terpenjara sangat kejam
Terkekang dalam fikiran yang kusam
Bersenjata hati yang agak suci
Kutapaki goncangan jalan sunyi

Yogyakarta, 25 September 2019

(6)

Aku melihatmu, mati..
banyak orang yang usang
Dengan keteledorannya terhadap kasih sayang.
Terpaku pada kertas yang bernama uang. 

Aku melihatmu, mati..
Banyak orang yang sudi mencaci tuhannya sendiri.
Dengan gaya memuji namun melenyapkan eksistensi.
Tergiur dengan euforia harga diri. 

Aku melihatmu, mati...
Banyak orang yang bangga beragama.
Taat luar biasa tiba ke tempat ibadahnya, dengan rasa bangga yang tak terkira.
Merasa lebih baik nasibnya, naik pitamnya dengan tercela oleh penghuni kolong jembatan sana. 

Aku melihatmu, mati...
Manusia-manusia berjalan dalam keadaan mati.
Hidup dengan segala kebenaran menurutnya sendiri.
Aku, dalam keadaan mati menulis bait sampah ini. 

Yogyakarta, 3 Oktober 2019

(7)

Adakala kata-kata hidup
Menari dan berdansa diantara lampu yang redup
Di bawah terang lampu putih
Puing-puing rindu berserakan dengan rupa sedih
Kekasih,
Malam ini aku rindu
Apakah engkau merasakan?
Hanya doa yang kupanjatkan.
Melalui air mata yang mengalir dari sumbernya
Menjadi wujud dari kata-kata
Bait puisi yang tampak sendu
Sebuah makna dari rindu yang bicara
Andaikata waktu bisa diulang,
Tuhan dapat kita ajak berunding
Mungkin sudah sejak lalu kau kupinang
Mungkin sejak dulu kau dan aku bersanding.
Jika sudah terbatas ruang, jarak, dan waktu
Sudikah engkau mengingatku, untuk malam ini saja,  kekasih... 

Yogyakarta, 29 September 2019