Akhir-akhir ini, wacana halal menggema ke mana-mana. Mulai dari sabun halal, kosmetik halal, pasta gigi halal, obat halal, sampai pada wisata halal. 

Btw, sayang, kamu kapan halalin aku? Ya iyalah. Barang-barang dan jasa saja sudah halal, masa aku enggak?

Tahu, kan? Ada istilah "kekasih halal" yang maksudnya kita bisa jalan bareng atau ngedate karena sudah terikat kata "sah" dengan menikah. Kita adalah sepasang kekasih. Biar jadi halal, kita "harus" menikah. Mau, kan, nikah sama aku?

Hari gini, setelah mempunyai "kekasih", adakah yang tidak mau menggelar pernikahan? 

Penikahan menurut Mas Wiki adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, hukum, dan sosial.

Selama ini, kita mungkin pacaran dengan gaya yang haram. Kamu pacar atau kekasih haramku; karena belum menikah, tapi selalu berdua (awas, yang ketiga bisa jadi setan).

Walaupun selama ini kita sudah berusaha jadi sepasang "kekasih yang halal", kita tidak pernah memakan yang haram. Di sebuah jalan di Jogja yang selalu kita lewati, di mana di baliho warung-warung makan jalan itu tertulis B1 atau B2, kita hanya melewatinya. 

Kita memilih makan seafood di pinggir jalan, atau makan ayam goreng dengan label "halal". Jelas, dong. Ayam goreng gitu lho! 

Atau maksudnya, kenapa ayam gorengnya halal? Karena disembelih dengan membaca doa saat dipotong.

Kita juga tidak pernah pacaran yang begitu mesra. Palingan ciuman lewat HP, mmmuaaahh gitu lewat layar. Kita termasuk pacaran yang religius. Setiap pagi kita saling mengingatkan untuk beribadah.

Di kampus, di mana kita selalu bertemu, kita sering ditemani beberapa kawan. Jadi tidak pernah berdua-duaan.

Di kos, kita duduk di depan teras ngobrol berdua karena tamu pria dilarang masuk. Apalagi ketika pergi di malam hari, kita harus pulang sebelum jam sepuluh ketika ngedate. Selain jam begitu, tidak boleh. Kecuali kalau aku izin pada ibu kos kalau ada acara penting di kampus dan di luar kampus. 

Gaya pacaran kita juga yang positif-positif saja. Bukan yang pakai tes positif dan negatif itu, ya, tapi karena kita saling percaya kalau pacaran itu hubungan untuk saling berbagi, berbagi apa pun, seperti "informasi", karena kita satu kampus. 

Kita juga berbagi "masalah", karena kita jadi teman curhat. Kita menjalin kasih sayang yang sesuai rambu-rambunya, dan sama-sama ke tujuan akhirnya untuk ke jenjang pernikahan.

Pacaran yang positif itu, misalnya, barengan ke toko buku, janjian di perpustakaan; nanti di dalam perpuskita ngobrolnya pakai surat-suratan biar tidak ribut mengganggu orang lain yang membaca buku atau lagi buat skiripsi.

Atau kita saling men-support ketika aku ikut audisi 'Perempuan Cantik' dan kamu ikut audisi menyanyi. Walau sama-sama tidak terpilih, kita tetap fun. Ini bukan yang sekadar having fun di suatu tempat.

Kita juga masuk dalam pacaran yang sehat. Kamu nganterin aku ke dokter gigi ketika gigiku sakit. Aku masak bubur ayam buatmu ketika kamu sakit. Bukan cuma itu, kita selalu cuci tangan dan baca doa sebelum makan. 

Kita juga tidak berbuat kotor. Misalnya, kita selalu membuang sampah pada tempatnya. Apalagi, berbicara kotor. Di telepon, kita cuma bilang "papa-mama", tidak lebih. Kalaupun diganti kata-kata yang lain dengan "ayah-bunda". Indonesia BGT, kan?

Namun, setelah kita lulus kuliah, kita pulang ke kampung masing-masing, nyari kerja juga di kampung masing-masing. 

Setelah pacaran "dekat", kita sempat melanjutkan ke pacaran jarak jauh (PJJ), atau long distance relationship (LDR). Cuma telepon-an, sms-an. Kemudian ketika media sosial makin canggih, kita pun beralih menggunakan BBM, WhatsApp dengan japri, Messenger, dan lain sebagainya. 

Tapi semuanya hambar, sehingga membuat kita sama-sama bosan. Mungkin, karena lama gak diapelin, jadinya aku merasa dianggurin. 

Kita putus, putus hubungan, tanpa ikatan. Aku lalu menjadi diriku sendiri tanpa kamu. Kamu pun begitu, jadi diri kamu sendiri tanpa aku. Kita bukan lagi sepasang kekasih, kita hanya teman biasa. Dulu kita selalu berdua, bersama, sekarang kita jalan sendiri-sendiri. 

Syukurlah, kata teman, masih mending jadi jomblo daripada jagain anak orang. Aku tak perlu berlama-lama jagain jodoh orang lain. Kamu pun begitu tidak lagi menjaga jodoh orang lain. Sakitnya tuh masih di sini. Untung, bukan sakit yang ditinggal nikah. Nanti, aku bisa cari pacar untuk kujadikan suamiku, jodohku.

Lagi pula, di era digital ini, kita bisa "menjual diri" lewat ikut biro jodoh online. Asal jangan "jual diri" lewat online saja. St...st...st... banyak kok aplikasi cari jodoh kayak chat-chat gitu.

Tapi, sayang seribu sayang, aplikasi-aplikasi itu bukan untukku. Aku lebih suka yang ketemu langsung. Seperti pepatah, tak kenal maka tak sayang. Aku harus melihat langsung orang yang ingin aku jadikan jadi teman hidupku selama-lamanya.

Aku pun mencarinya ke mana-mana, si Mr. Right. Mulai dari mall sampai masjid. Mulai dari dikenalin teman hingga kenalan sendiri. Mulai dari brownish sampai dadu, eh duda. Mulai dari mahasiswa sampai dosen.

Tapi, belum ada yang nyangkut di kail. Walau aku sudah punya "ikannya". 

Orangnya cakep, dan keren. Biar pelan asal selamat, siapa tahu jodoh, pikirku ketika ku-PDKT, hikz. Jadi ingin menyanyi lagunya Anang-Ashanti, Jodohku, maunya (a)ku dirimu. Aku tidak mau pacaran lagi. Karena pacaran bukan sekadar buat lucu-lucuan, tapi untuk ke jenjang serius, pernikahan. 

Tapi dia tahu gak sih kalau aku sayang sama dia? Seandainya saja dia membaca tulisan ini. Jadi, sayang, kamu kapan halalin aku?