Bagiku, kekerasan terjadi di muka bumi ini adalah tersebab umat manusia tidak pernah mau jatuh cinta. Sehingga hari dan malam-malamnya hanya disesaki dengan gumpalan awan-gumawan kebencian dan keiri-hatian. Padahal, tak ada satu pun yang dapat menyibukkan hati seorang pecinta kecuali rindu, rindu, dan rindu! Yang sesekali dipolesi dengan pertemuan, lalu cumbu! Meski terkadang virus cemburu coba datang menghinggapi, kalau dia benar punya cinta, tak akan ada kebencian dan kekerasan yang timbul dari hidupnya.

Lalu, manusia mana yang tidak suka dan mendambakan hadirnya makhluk bernama cinta? Kalau hakikatnya ia datang tidak lain dan tidak bukan hanya untuk memberikan kedamaian dan ketenangan seperti yang aku rasakan di bumi permai, kampung Krucil, Desa Winong, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara (28-29/11/2014), tempat saudaraku, Ahmadi, melangsungkan hidup bersama anak-cucunya—sebut saja komunitas (jemaat) Ahmadiyah.

Dulu, tatkala dunia sempat digoyang keras oleh gempa kebencian yang begitu dahsyat sehingga manusia hidup dalam keadaan resah, gelisah, dan susah. Ingatkah tentang tubuh Ahmadi yang basah kuyup oleh derasnya hujan fitnah, caci-maki, dan bahkan tidak jarang berakhir dengan pembantaian layaknya binatang? Bah! Itu sangat menyedihkan dan menyebalkan! Aku sakit hati.

Selain itu, mataku juga dibuat perih oleh tingkah laku orang-orang yang saling berebut menjadi Tuhan dengan mulut yang tak henti-henti berfatwa akan halalnya darah Ahmadi beserta anak-cucunya dan tangan menggenggam parang siap menebas kepala mereka. Ini seperti kehidupan di mana bukan cinta yang menjadi pijakan, tapi hanyalah kekuatan dan kebengisan sebagai konstitusi dasarnya—seperti tragedi berdarah antara suku Dayak dan Madura beberapa tahun yang lalu. Lantas, agama suci mana yang mengajarkan tentang kebencian dan kebengisan? Agama suci yang mana, sayang?

Ah! Sudahlah. Biarlah. Kebencian akan senantiasa binasa tersebab cinta adalah hakikat dan satu-satunya penguasa di alam semesta. Love for All Hatred for None! cinta adalah bahasa yang akan menembusi segala ruang dan zaman. Cinta adalah pemusnah paling ampuh dari segala keburukan hidup. Cinta adalah cahaya purnama yang akan senantiasa menerangi kegelapan malam yang ditakuti. Sebab cinta itulah kebenaran yang dibangun berdasar keadilan. Bila cinta ditiadakan, jangan harap keadilan dan kebenaran bisa ditegakkan!

Barangkali cinta inilah yang telah mengantarkanku bertemu dan bergaul dengan Ahmadi beserta anak-cucunya selama dua hari di kampung Krucil. Aku pergi ke sana bersama teman-teman peserta FGD & Studi Ekskursi dengan tema “Mengkaji Ahmadiyah Indonesia dalam Perspektif Aqidah, Syariat dan Kebangsaan” yang diselenggarakan oleh Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), di mana kedatangan kami disambut dengan senyum mereka yang rekah dan mesra penuh ketulusan.

Kedua bola mataku dimanjakan dengan wajahnya yang berseri-seri tanpa kemunafikan. Pun juga dengan bentangan bumi yang permai. Gerimis yang manja. Angin yang sesekali nakal membuai. Hijau ranum pepohonan dan ladang-ladang, gunung-gunung, kali yang terus mengalir airnya dengan gemericik, aduhai aku tak tahan! Aku terkesima! Aku bersyukur kepada Zat Yang Maha Cinta karena pertemuan ini telah mengobati sakit hatiku dari lara, yaitu lara masa lalu tentang pengusiran dan pembantaian Ahmadi beserta anak-cucunya.

Di bumi Krucil yang permai ini Ahmadi dan anak-cucunya biasa hidup dan bercengkrama penuh cinta dan kasih sayang dengan alam di sekitarnya. Begitu pun sebaliknya. Alam memberikan kecintaannya kepada mereka. Sampai-sampai anak-anak FPI (Front Pembela Islam), Muhammadiyah, NU (Nahdlatul Ulama) dan bahkan Pejabatnya pun hidup rukun dan damai bersama mereka. Tak ada yang saling mengusik. Tak ada yang saling menindas. Semuanya berjalan dengan kakinya masing-masing dengan cinta sebagai penunjuk arahnya. Inilah hebatnya cinta. Inilah nikmatnya jatuh cinta. Umat manusia, maka jatuh cintalah!

Di sini pula, aku diajarkan hidup mandiri tanpa harus meminta belas kasihan kepada negara—meski tidak akan menafikan (menerima) bantuan darinya (baca: negara). Saudaraku, Ahmadi dan anak-cucunya, melewati peliknya hidup yang kadang memaksa untuk mengemis dengan sistem candah (infak) yang biasa diajarkan sejak dini dan dibayarkan setiap bulan oleh Ahmadi dan anak-cucunya dengan kadar kemampuan masing-masing kepada petugas yang biasa menyambangi rumah-rumah mereka.

Kemudian, candah yang terkumpul tersebut dikelola secara sistematis dan transparan oleh badan khusus yang menangani hal tersebut untuk membantu sesama, khususnya anak-cucu Ahmadi yang sedang mengalami krisis pangan, sandang, dan papan sebagai wujud rasa cinta mereka kepada sesama. Sehingga tidak heran apabila Ahmadi dan anak-cucunya tidak menadahkan tangan dan menghinakan diri kepada negara dalam melangsungkan hidupnya seperti membangun rumah ibadah (masjid), rumah pendidikan (PAUD, TK, Madrasah), dan lain sebagainya.

Mereka pun bisa menggaji sendiri para tenaga pengajarnya dan para mubalig yang menyebarkan ajaran-ajaran cinta yang ada dalam Islam. Sekali lagi, ini semua (membangun dan menggaji) dilakukan tanpa harus mengemis kepada negara—walau tidak menafikan (menerima) bantuan dari negara. Karena mereka bisa mandiri. Bisa mengelola SDA (Sumber Daya Alam) yang didapatkan salah satunya dari sistem candah tersebut. Hmmm... bukankah ini adalah ajaran Islam yang sangat dipuja oleh Nabi Muhammad Saw., yaitu mandiri?

Saking solidnya pengelolaan dana melalui sistem candah ini sempat ada pernyataan dari salah satu pengurus Ahmadiyah di sana, kurang lebih begini pernyataannya, “sekali pun seribu kali orang-orang merusak masjid kami, Insya Allah keesokan harinya kami bisa membangunnya lagi tanpa harus meminta bantuan dana kepada negara.”

Mengetahui adanya sistem candah ini, terkadang pikiranku berkhayal sembari berkata, “bagaimana ya kalau seandainya orang-orang di kampungku meniru sistem candah—meski pun namanya tidak harus candah dalam mendapatkan dan mengelola dana demi kepentingan bersama?”

Hal ini disadari lantaran ketika aku pulang ke kampung, Madura, di mana bukan sebuah pemandangan yang asing lagi bagi mata tentang keberadaan orang-orang yang meminta amal di jalan raya—kenyataan semacam ini ternyata juga banyak dijumpai di daerah-daerah lain di luar Madura.

Memang tujuan mereka adalah baik, yaitu untuk membangun masjid yang kokoh, indah nan megah, sebagaimana kemudian dapat disaksikan. Meskipun begitu, namun bagiku cara yang digunakan adalah kurang baik. Tidak lain karena selain mengganggu terhadap kenyamanan orang-orang saat berkendaraan di jalan, juga terkesan membuat rendah ketinggian dan kemuliaan agama Islam.

Bagiku cara meminta amal di jalan-jalan tersebut tidak ubahnya para pengemis, di mana meskipun Islam sendiri melarang untuk mencela atau menghardik para pengemis (aḍ-Ḍuḥâ: 10), namun sejatinya Islam menghendaki umatnya menjadi orang yang mandiri dan pemberi, bukan peminta atau pun pengemis, sebagaimana dipahami dari ayat al-Qur’an:

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya (an-Nisâ’: 9)”

dan hadis Nabi saw., yaitu;

al-yadu al-‘ulyâ khairun min yadi as-suflâ (tangan di atas/pemberi adalah lebih baik dari pada tangan di bawah/penerima) dan laisa li al-mu’mini an yużilla nafsahû (janganlah seorang mukmin merendahkan dirinya).

Tau sendirilah, MUI (Majelis Ulama Indonesia) ternyata hanya pandai berfatwa akan keharaman meminta amal di jalan, namun belum bisa memberikan solusi dan langkah konkret untuk menyelesaikan masalah tersebut. Buktinya, setelah fatwa haram tersebut dikeluarkan oleh MUI, nyatanya pungutan amal di jalan-jalan kian marak.

Kalau memang ada solusi dan langkah konkret semestinya akan sedikit berkurang. Begitu pun dengan para pejabat dan ulama setempat—sebagai pewaris para Nabi ‘alaihim as-salâm, di mana tugasnya bukan hanya membersihkan dan mendidik jiwa manusia, namun juga sejatinya harus berusaha keras untuk menyelesaikan persoalan-persoalan pelik yang sedang dihadapi oleh umat—yang seakan menikmati dengan realitas pungutan amal di jalan tersebut.

Sepertinya hal itu (meminta amal di jalan) bukanlah sebuah persoalan atau masalah serius yang harus segera diselesaikan oleh mereka bersama, namun lebih kepada “pemandangan” hidup yang bisa dinikmati oleh setiap mata, kapan saja dan di mana saja. Sehingga mereka enggan beranjak dari zona “nyaman”, yaitu diam membisu dan tidak melakukan tindakan apa-apa alias membiarkannya sahaja.

Oleh karenanya, dalam hal ini bukan berarti aku adalah orang yang anti amal atau pun melarang seseorang meminta amal—bagaimana tradisi amal juga banyak dikenal oleh negara-negara Barat sekali pun, yaitu ketika meminta amal dengan cara mengadakan pertandingan sepak bola atau konser atau pun cara-cara lainnya untuk membantu korban bencana dan lain sebagainya.

Akan tetapi, dalam hal ini aku lebih menyoroti kepada persoalan cara ketika meminta amal. Dengan kata lain, alangkah baiknya apabila cara meminta amal di jalan tersebut bisa diganti dengan cara-cara lain yang lebih baik. Ya, bisa saja meniru sistem candah yang dipraktikkan dan kemudian dikelola secara sistematis oleh kalangan Ahmadi, di mana bukan hanya demi kepentingan membangun masjid semata, tetapi demi kepentingan-kepentingan lainnya; atau cara-cara lain asalkan bukan dengan cara meminta di jalan-jalan raya.

Bagiku, tentu apabila ada iktikad baik dari para pejabat dan ulama untuk menyelesaikan masalah ini akan menemukan cara terbaik dalam mendapatkan dan mengelola dana semisal ketika hendak membangun masjid tanpa harus meminta amal di jalan. Mengingat kapasitas keilmuan atau daya kekuatan pikir mereka sudah tidak bisa diragukan lagi.

Hal lain yang aku saksikan selama berada di Krucil adalah kebiasaan Ahmadi dan anak cucunya dalam melaksanakan salat Tahajud secara berjamaah. Memang, meski pun secara hukum Islam (fikih) status salat Tahajud adalah sunah, namun masyarakat Ahmadi menjadikan salat Tahajud sebagai salah satu salat yang harus dikerjakan. Anak-anak pun diajari untuk melaksanakan salat Tahajud secara berjamaah.

Biasanya mereka (anak-anak Ahmadi di Krucil) setiap seminggu sekali diwajibkan menginap  di masjid, di mana ketika waktu tengah malam tiba mereka akan dibangunkan untuk melaksanakan salat Tahajud bersama masyarakat lainnya di dalam masjid. Salat Tahajud termasuk sunah Nabi saw. yang sangat berat dijalankan, bukan? Kecuali bagi orang-orang yang benar-benar mengharap rahmat dan rida  Allah swt. sehingga nafsu malas dan rasa kantuk pun mereka lawan.

Berbeda dengan poligami yang dianggap sunah Nabi saw. oleh sebagian orang, di mana tidak sedikit orang yang berlomba-lomba untuk mempraktikkannya—barangkali karena terkait dengan kepuasaan nafsu syahwat (seksual). Makanya tidak heran apabila kita menjumpai istri kedua atau ketiga atau keempat dari orang yang berpoligami adalah lebih muda, lebih cantik, lebih bahenol, dan lebih menjanjikan pastinya dari pada istri-istri sebelumnya.

Selanjutnya adalah ajaran loyalty (kesetiaan), freedom (kebebasan), equality (persamaan), respect (penghormatan), dan peace (perdamaian) dari saudaraku, Ahmadi, benar-benar aku rasakan di bumi permai, Krucil ini. Akhirnya, kepada para pembenci Ahmadi dan anak-cucunya, sayang, cintaku tak sejenuh gerimis! Wa Allâh al-Mursyid wa A’lam bi aṣ-Ṣawâb...


#LombaEsaiKemanusiaan