Delapan bulan sudah, suamiku—satu-satunya—meninggalkan rumah, hanya membawa dua pakaian ganti, sebungkus rokok berisi setengah lusin batang rokok, dan beberapa buku yang tak kuhafal semua judulnya. 

Ia bilang bahwa ibu kota adalah tujuan utama, jika memang tidak ada pekerjaan di sana, ia akan pergi ke pinggiran ibu kota, Bekasi atau Bogor umpama. Kalau setengah tahun ia sudah ada pekerjaan tetap atau sementara, ia janji akan pulang ke rumah. 

Aku sebenarnya akan mengira begitu: pulang ke rumah ini, membawa pakaian baru hasil jerih kerjanya di ibu kota, dan mencium bibirku lamat-lamat sambil mengelus rambutku dengan kegemasan, lalu mengakhiri kerinduan ini di atas ranjang.

Tapi itu khayalanku.

Suamiku sayang, berjanjilah bahwa kau pasti pulang. Kau pasti pulang. Pulang untukku.

Satu bulan pertama ditinggal, aku masih bisa makan enak. Kerja serabutan untuk tetangga dekat atau tetangga jauh adalah caraku untuk bertahan hidup, sendirian.

Dua bulan pertama ditinggal, sama saja. Aku masih bisa tidur nyenyak. Jika ada mimpi buruk datang, aku pasti terbangun, aku tengok ke sebelah sisi kiri ranjang: foto suamiku, aku perhatikan baik-baik. 

Sebelum kembali tidur, aku sesekalinya mengelus bingkai foto itu, aku harap aku bisa menyentuh wajahmu—meski hanya balutan visual kecil tanpa wujud asli rupamu. Doaku, semoga suamiku hadir di mimpiku, mengusir segala bisik dan usik di mimpi-mimpi tidurku.

Tiga sampai enam bulan ditinggal, kerinduan semakin menyesakkan. Aku lebih sering berkunjung ke rumah tetangga bukan untuk bekerja serabutan saja. Saat ditanya di mana suamiku, aku menjawabnya jujur, suamiku pergi ke ibu kota, mencari ladang kerja dan akan pulang sebentar lagi. 

Bu Heni adalah orang yang sering bertanya mengapa harus ibu kota, mengapa tidak bekerja di tempat yang dekat saja. 

Bu Ririn, tetangga depan rumah, tidak begitu banyak bertanya. Ia menikah tiga bulan lalu, masih cukup belia untuk disebut sebagai pasangan suami istri, dan masih harus lebih banyak mendengar celoteh ibu-ibu yang lebih banyak cakap. 

Bu Prapto beda lagi, ia sering menyinggung kapan aku hamil, kapan punya momongan, sampai pada aku berpikir jangan-jangan aku mandul. Di antara semua ibu-ibu tetangga yang lebih hobi bertanya daripada diam itu, aku paling sebal ketika suami Bu Prapto ikut bergabung di obrolan. 

Pak Prapto misalnya, ia pernah dua kali bertanya dalam dua hari berbeda. Tanyanya, apakah aku tidak merindukan pelukan suami di ranjang. Itu pertanyaan pertama. Pertanyaan keduanya di hari esoknya adalah apakah aku tidak merindukan pelukan dan ciuman suami di ranjang.

Di bulan ketujuh dan kedelapan suamiku pergi ke ibukota, aku lebih banyak diam di rumah. Keenggananku ke luar rumah sebatas tidak ingin ditanya perkara aneh-aneh oleh Pak Prapto lagi.

***

Malam ini terlalu dingin untuk disebut malam yang dingin. Hujan yang awalnya gerimis kini menderu deras, airnya dari langit tumpah di halaman depan dan berbunyi gaduh di atap rumah.

Memasuki bulan kesembilan, suamiku pergi ke ibukota dan tanpa kabar: bekerja sebagai apakah ia di sana, berapa penghasilannya, dimana ia menetap tinggal, dan segala bentuk pertanyaan kekhawatiranku membumbung tinggi.

Apakah ia melupakanku? Apakah ia lupa dengan istrinya yang tinggal di rumah sendirian?

Pukul sembilan lebih tiga menit aku baringkan tubuhku di atas ranjang, kutengok foto suamiku sebelum aku memejamkan kedua mata.

Apakah kau melupakanku? Apakah kau lupa dengan istrimu yang tinggal di rumah sendirian?

***

Pagi hari selepas bangun tidur, aku berpikir untuk menyusulnya ke ibukota. Tapi itu hal bodoh. Aku pikir-pikir lagi, pergi ke ibu kota tanpa alamat pasti suamiku hanya sia-sia. Ibu kota memang sempit, tapi bukan berarti mudah mencari seseorang yang dirindukan.

***

Malam hari tidak terlalu dingin untuk disangka sebagai malam yang dingin. Pintu rumah diketuk dua kali dan dengan sahutan selamat malam terdengar jelas dari posisiku di dapur yang berjarak sebelas setengah meter dari pintu rumah.

Pintu rumah berbunyi lagi, kali ini tiga kali ketukan dengan sahutan yang lebih nyaring, “Selamat malam!”

Suara lelaki di teras rumah itu, cukup familiar di telingaku.

“Iya... Tunggu bentar, Pak.”

Pintu aku buka. Gelap di luar membuatku memperhatikan dan memastikan wajah tamu rumahku malam ini.

“Selamat malam, Bu Drini.”

“Selamat malam. Pak Prapto?”

“Maaf, boleh saya bicara sebentar?”

“Silakan.”

Aku mundur memasuki ruang tamu, mempersilakan Pak Prapto duduk. Aku duduk sebelum Pak Prapto duduk.

“Barusan saya ditegur istri saya, katanya ia pernah dengar kalau saya pernah nanya hal yang nggak pantas ke Ibu Drini. Saya mohon maaf bila itu memang itu nggak pantas...,” kata Pak Prapto sambil menundukkan kepalanya selang tepat setelah berucap maaf.

Aku diam, memilih diam dan menunggu kalimat apa yang akan diucapkan Pak Prapto malam-malam begini.

“Saya ditegur. Dan, saya diusir dari rumah...,” kata Pak Prapto memelas.

“Boleh saya tidur di sini? Di ruang tamu atau di teras juga tidak apa-apa, Bu,” pintanya kepadaku sambil tangan kanannya mengelus-elus siku tangan kirinya.

***

Pagi hari, Pak Prapto tidak kunjung bangun di ruang tamu rumahku. Sepayah itukah hati Bu Prapto ketika mengetahui pertanyaan seronok suaminya kepadaku? Sampai-sampai Pak Prapto harus pisah ranjang, diusir dari rumah, dan sekarang, suaminya dengan wajah sendu memelukku di ruang tamu rumahku.

Entah pikiran apa yang ada di kepalaku tadi malam. Sebegitu rindunya aku denganmu, suamiku—satu-satunya. Hingga aku tak bisa bersabar mengecup keningmu, menghirup hembusan nafasmu dan kau hirup hembusan nafasku. Aku tak bisa sabar delapan bulan tanpamu, suamiku. Satu-satunya.

Pagi hari, ketika aku lepas rindu ini dengan bermain ranjang bersama laki-laki lain, suamiku datang mengetuk pintu rumahku. Pak Prapto masih lesu, menutup matanya malas-malas: tanda tak ingin bangun terlalu pagi.

Suamiku datang, bersama perempuan berambut panjang.

“Rin... Aku pulang!” teriaknya di depan pintu. Aku bersigap mengambil selimut yang terkulai di lantai ruang tamu.

“Rin, aku pulang!” teriaknya sekali lagi.

Pintu rumah kubuka, dan aku menatap wajah memelasnya seakan ingin berkata sesuatu kepadaku.

“Mana pakaianmu?” tanyanya dengan intonasi garang.

“Maaf, mas. Aku selingkuh...,” aku perlahan-lahan menangis.

“Bangsat!” umpat suamiku, membangunkan Pak Prapto yang telanjang di kursi ruang tamu.

Hening sebentar.

“Aku pulang, Rin. Aku pulang. Aku di Jakarta lama bukan berarti boleh kamu selingkuh!” teriak suamiku.

“Lalu siapa perempuan itu, mas?” aku mulai berisak.

“Aku pulang untukmu, Rin. Aku berniat baik-baik untuk mengenalkanmu dengan calon istri kedua.”

“Kamu lebih bangsat, mas!” aku berteriak, lebih keras dari teriakannya yang tadi-tadi.

Tangisku mengalir sudah sampai pipi. Pandanganku kabur, kepalaku dan badanku jatuh menimpa ubin lantai ruang tamu. Aku pingsan.

***

Suamiku sayang, kau pasti pulang. Dan sekarang, kau telah pulang. Tapi kini, izinkan aku yang pulang. Pulang untuk meninggalkanmu. Berpulang, untuk mengubur kenangan, menuju kematian.