"Ahok sudah minta maaf"

Ya, ketika artikel ini saya tulis, Ahok sudah minta maaf. Berbeda dengan apa yang saya prediksi sebelumnya, Ahok tidak akan dan tidak perlu minta maaf!

Kaget juga membaca berita, bahwa Ahok akhirnya minta maaf, sesuatu yang tidak perlu dilakukannya sebenarnya, karena ia tidak bersalah sehingga tidak perlu minta maaf.

Namun saya harus bisa mengerti dan memahami suasana kebatinan antara Teuku Umar dan Balai Kota, yang membuat Ahok akhirnya meminta maaf.

Setelah sekian hari mengamati dan membiarkan polemik Ahok dan surat Al Maidah ayat 51, akhirnya Bu Mega memutuskan untuk turun tangan. Sepertinya ia  khawatir,  bahwa kisruh Ahok ini akan berkepanjangan. Dan juga setelah ia melihat bahwa  pihak-pihak yang sudah turun guna menegahi, ternyata belum mampu meredam suasana. 

Ia pun akhirnya turun tangan untuk mengatasinya sendiri. Ia sangat tahu karakter Ahok si pemberani itu, ia tidak mungkin mau mengalah jika ia benar.  Suasana pun mereda, dan setidaknya cukup terkendali dan tidak lagi memanas seperti beberapa hari sebelumnya.

Langkah Bu Mega ini sebelumnya tidak terdeteksi oleh radar penulis, dan memprediksi sebelumnya bahwa Ahok  tidak akan, dan juga tidak perlu meminta maaf. Namun begitulah ternyata, naluri seorang ibu jauh melampaui nalar dan logika politik, ketika ia melihat ada sesuatu hal yang tidak perlu dipertahankan, sekalipun itu sebenarnya sangat bisa untuk tidak dilakukan.

Ia pun meminta Ahok untuk segera melakukannya tanpa ragu, dan mempercayakan urusan selanjutnya kepada Bu Mega.

Dan kemarin pagi, antara percaya dan tidak, namun harus mempercayai  judul berita yang ditayangkan kompas.com  "Ahok minta maaf". Berarti Ahok salah dong, sehingga ia harus minta maaf? Pertanyaan yang tidak perlu jawaban tentunya, muncul usai membaca berita tersebut.

Akhirnya, saya bisa mengerti kenapa Ahok melakuian hal itu, setelah hari ini Bu Mega bersama Ahok dan rombongan berangkat ke Blitar, nyekar ke makam Bung Karno.  Suatu tindakan penyelamatan yang tidak diduga telah dilakukan oleh Bu Mega untuk Ahok dalam kisruh ini. Di mana ia melihat bahwa,  Ahok dan timnya agak kewalahan mengatasi  serangan kubu lawan yang memanfaatkan sentimen agama guna menghantam Ahok.

Usai maaf disampaikan, Bu Mega berupaya mendinginkan suasana dengan membawa Ahok menjauh dari panasnya perseteruan dengan kubu pesaing yang memanfaatkan ucapan Ahok di Pulau Seribu. Ia membawa Ahok ke Blitar, nyekar ke makam Bung Karno, yang juga merupakan pesan yang sangat mendalam  kepada semua pihak untuk tidak lupa sejarah  kebangsaan dengan mengingat Bung Karno.

Dan suasana pun berangsur membaik,  karena Ahok sepertinya ikut  terproteksi oleh  nasionalisme Bung Karno yang ternyata masih hidup. Ingatan pada Bung Karno ini setidaknya membuat kubu lawan, yang terus mempengaruhi massa untuk marah kepada Ahok  berhenti sejenak, dan mengurungkan niatnya untuk terus memborbardir Ahok dengan tuduhan penistaan.

Ahok, utamanya timya bisa merasa lega, setidaknya bisa menghela nafas setelah berhari-hari  kerepotan menangkis serangan bertubi-tubi kaum polagama, yakni perpaduan antara kepentingan politik dengan agama.

Tidak cukup dengan itu saja, dari Jakarta Bu Mega sudah meminta Risma untuk menjemput, dan akhirnya Bu Risma dan Ahok harus ikut skenario Bu Mega, 'berdamai'. Ternyata damai itu indah, seperti yang selama ini selalu kita baca di spanduk yang menempel di kantor Kodim dan Koramil. Ahok-Risma pun tidak punya pilihan lain, selain berdamai. 

Rekonsiliasi ini tentu disengaja, dan memang skenario Bu Mega untuk  mengajak pendukung Risma di Jakarta melupakan apa yang telah lalu. Jika Bu Risma saja bisa baikan dengan Ahok, tentulah mereka yang mengaku sayang Risma bisa baikan dengan Ahok juga.  Dengan demikian, momentum ini akan membawa mereka kembali pada Ahok dan mendukungnya di Pilkada DKI. 

Itulah yang bisa kita saksikan kemarin, tiga upaya yang dilakukan Bu Mega demi Ahok. Memang harus diakui, bahwa Bu Mega sangat sayang kepada Ahok, dan itulah sebabnya ia merasa perlu turun tangan untuk melindungi Ahok dari tangan-tangan jahil politisi dan kubu lawan yang tidak henti-hetiinya berupaya menghajar Ahok. 

Layaknya seorang ibu yang mendengar suara ribut di luar, Bu Mega muncul  dari balik pintu menyapa kubu lawan yang sudah berbaris dan berjejer di depan pagar rumah dengan pentungan dan batu. Mereka sedang mencari Ahok yang ternyata adalah anak dari pemilik rumah. 

Dengan senyumnya yang khas, ia menyapa mereka: " Hei, kalian rupanya. Pada ngapain berdiri di situs? Ayo main di belakang saja, ada Ahok di sana sedang main dengan banteng. Pak Joko dan Om Budi juga ada di belakang  jagain Ahok."  Demikian Bu Mega menyapa mereka, yang tidak kurang membuat mereka akhirnya saling memandang, dan satu per satu batu dan pentungan itu pun terlepas dari genggaman mereka.

Tadinya mereka sudah berencana menghabisi Ahok, namun setelah tahu bahwa Ahok adalah anak pemilik rumah yang ada bantengnya itu mereka pun surut.