2 tahun lalu · 3297 view · 4 min baca · Politik ahok_14.jpg
Ilustrasi: 3.bp.blogspot.com

Saya Tak Suka Ahok!

Wacana dalam tulisan ini sebenarnya sudah agak basi. Momennya sangat mungkin sudah tidak pas lagi mengingat “Aksi Bela Islam II” telah usai dikumandangkan sejak lama. Meski demikian, di samping karena tidak dimuatnya tulisan ini di media massa yang saya harapkan pertama kali untuk memuatnya, isu dalam tulisan ini saya kira masih tetap relevan. Ya, walaupun sebenarnya hanyalah bentuk penegasan (pengulangan) kembali atas tulisan saya sebelumnya yang berjudul Mengapa Saya Ikut Aksi?.

Jujur saja, saya sama sekali tidak suka Ahok. Saya membenci dia. Saya membenci apa-apa yang telah, sedang, dan akan dia programkan sebagai kerja-kerja seorang pemimpin.

Ketidaksukaan ini berawal dari sejak dirinya ditunjuk sebagai Wakil Gubernur mendampingi Jokowi Periode 2012 – 2014. Hal itu kemudian berlanjut dengan penunjukannya sebagai Pelaksana Tugas lantaran Jokowi mengambil cuti panjang untuk ikut dalam Pilpres 2014.

Sampai saat pelantikan resminya sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 19 November 2014, pasca sohib ideologisnya benar-benar terpilih sebagai Presiden RI ke-7,  ketidaksukaan saya itu semakin memuncak. Apalagi saya tahu bahwa bahwa di Pilkada 2017 nanti, dirinya sudah terdaftar sebagai sang petahana untuk “Jakarta yang lebih baik”.

Sebenarnya, lagi-lagi  saya harus jujur, ketidaksukaan itu lebih bersumber dari keiri-dengkian hati saya sendiri. Saya sama sekali tak bisa sudi jika Ahok benar-benar jadi orang nomor satu kembali di DKI Jakarta. Sekali lagi, saya sungguh tak bisa sudi melihat kegemilangan Ahok di hari-hari yang kelak.

Selain itu, ketidaksukaan saya juga lahir dari kesukaan saya secara pribadi dengan pasangan calon lain. Entah itu Anies – Uno, ataupun pasangan Agus – Sylviana, yang penting bukan Ahok. Ya, meski dirinya sudah “terkonstruk” hebat sebagai pemimpin terlayak jika dibanding dengan calon-calon pemimpin lainnya yang hanya mampu sebatas berjanji.

Sungguh, saya tak suka Ahok. Titik! Saya benci dia. Dan saya tidak akan memaafkan diri saya sendiri jika sampai dia terpilih di Pilkada 2017 nanti.

Tapi gimana lagi ya, wong Ahok punya elektabilitas yang masih sangat tinggi. Jika  dibanding dengan pasangan calon lain, ia sangat dicintai oleh kebanyakan rakyat, khususnya warga DKI Jakarta. Beragam rilis lembaga survei pun telah menunjukkan hal itu. Bahwa Ahok, tentu dengan pasangannya Djarot, berhasil bertengger di posisi sebagai pemuncak. Dan karena itu, untuk melawannya di Pilkada nanti, saya kira sia-sia saja. Hampir mustahil untuk mengalahkan calon yang punya elektabilitas di atas rata-rata ini.

Sejumlah Kebijakan Populisnya

Saya tahu bahwa elektabilitas Ahok bukanlah hasil rekayasa belaka. Beragam kebijakan populis telah dia telurkan yang itu membuat dirinya semakin digandrungi.

Dalam hal reformasi anggaran misalnya, Ahok berhasil mengajukan e-budgeting (juga e-katalog guna menekan permainan birokrat) sebagai solusi untuk memperbaiki penyusunan APBD DKI Jakarta.

Disahkan dan diterapkannya kebijakan tersebut, membuat DKI Jakarta menjadi percontohan bagi daerah lain. Ttermasuk Walikota Bandung semisal, yang mengirim sejumlah pejabatnya hanya untuk belajar bagaimana mengelola APBD melalui sistem berbasis teknologi informatika ini.

Selain itu, sejumlah pelayanan sosial, kesehatan, dan transportasi juga menjadi perhatian serius dari sosok pemimpin pekerja keras ini. Pada tanggal 3 April 2015 misalnya, setidaknya sudah ada 15 Puskesmas yang diresmikan dengan taraf pelayanan setingkat Rumah Sakit Umum. Layanan Transjakarta gratis juga disediakan di setiap rumah susun di Jakarta, di samping bus-bus reguler lainnya. Belum lagi peningkatan asupan gisi bagi anak-anak yang kurang mampu, khususnya bagi pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP).

Dan yang terpenting dari semua itu adalah upaya Ahok dalam menangani bencana banjir, yang saya tahu sebagai bencana musiman warga Jakarta. Dalam rangka ini, sejumlah tempat, baik kali (sungai) maupun waduk, telah dinormalisasi. Misalnya saja normalisasi Kali Sunter, Waduk Rawa Badung, Cengkareng Drain, pembangunan sodetan Ciliwung, pembenahan Waduk Kebon Melati, dan sejumlah kanal-kanal banjir lainnya yang tengah dijadikan garapan prioritasnya.

Tak berhenti sampai di situ, Ahok juga melakukan pembangunan fisik juga renovasi bangunan lama. Mulai dari pembangunan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak, renovasi terminal, rumah sakit, rumah susun, sampai pembangunan masjid-masjid.

Penataan ruang dan pembenahan pariwisata pun kian ditingkatkan, seperti dengan merelokasi Kampung Pulo, Kalijodo, Bukit Duri, dan Pasar Ikan. Semua upaya ini semata untuk menghadirkan “Jakarta yang lebih baik”.

Dari kesemua kerja-kerja Ahok yang populis itulah, tak ayal kiranya jika dirinya mendapat banyak penghargaan, seperti dari Bappenas, KPK, Democracy Awards, dan sejumlah rekor MURI. Dan ini tentu wajar. Sebab sebuah kerja keras, terlebih demi kepentingan umum, memang patut mendapat apresiasi.

Hanya dengan Kelicikan

Saya memang tidak bisa menafikan kerja-kerja nyata seorang Ahok ini. Tetapi gimana lagi. Saya tetap tak suka dirinya.

Guna merealisasikan ketidaksukaan saya itu, saya harus berpikir cara lain bagaimana saya harus melawan Ahok. Dan satu-satunya cara paling efektif yang bisa dilakukan adalah dengan kelicikan, dalam hal ini ikut berdemonstrasi dengan isu penistaan agama.

Ya, saya harus ikut aksi demonstrasi bukan untuk menyuarakan aspirasi layaknya sang demonstran. Saya ikut aksi tersebut dengan menjadikannya sebagai medium kampanye untuk calon pemimpin lainnya—meski calon lainnya ini belum terbukti kerja-kerja nyatanya sebagaimana yang Ahok telah tunjukkan.

Mengapa saya harus ikut aksi demonstrasi dengan isu yang sebenarnya diada-adakan ini? Tak lain hanya untuk mencekal Ahok saja. Bahwa Ahok harus dibikin redup, direduksi elektabilitasnya, kalau bisa dibatalkan dirinya sebagai peserta Pilkada, melalui aksi yang sama sekali tidak mencerminkan budaya intelektualitas, yakni aksi yang menjadikan agama sebagai kedok semata.

Licik? Tentu saja. Tapi apa boleh buat. Tak ada cara paling efektif untuk melawan calon yang punya elektabilitas tinggi selain dengan kelicikan. Inilah politik ala Machiavellian. Segala cara menjadi halal. Nalar sehat harus dibungkam demi terealiasasinya kepentingan pribadi saya.

Artikel Terkait