"Ampooong... Tong baku WA dengan orang... Niih dia punya WA singkat e..." ☺ ☺ (Diah, via WhatsApp)

Ini balasan chat dari media sosial WhatsApp yang kuterima dari temanku Diah yang tinggal di Ternate sana. Dia sebel melihat balasan pesanku yang kadang cuma kujawab dengan simbol-simbol  emoji sang “pasukan” senyum alias Mr. Smile.

Jika emotikon adalah simbol, maka emoji adalah "kenyataannya", atau riilnya alias Smile, si mahluk medsos dengan ikon yang terlihat bahagia dan lucu. Warnanya kuning ceria yang sangat menarik hati dengan eksperesi muka tertentu, misalnya; sedih, mengedipkan mata, tersenyum lebar, peluk erat, bingung, jatuh cinta, pipi memerah, menjulurkan lidah, cium, dan sebagainya.

Aku senang BGT menggunakan emoji ini☺, apalagi yang tersenyum simpul. Menurutku, ketika dipakai, jadi berkesan seakan-akan kita jadi berkomunikasi dengan berhadapan langsung dengan orang atau teman di medsos itu.

Lagi pula, dengan menggunakan dan memperdayakan si senyum ini, kita bisa langsung memperlihatkan ide kita secara langsung, to the point, dan instan tanpa menggunakan otak untuk berpikir yang lama. Tanpa menghabiskan banyak waktu untuk mengetik pesan berlama-lama yang menghabiskan pulsa data (ups! Padahal ada mode gratis dan wifi).

Namun, dari sini, kadang kita (maksudnya aku, kamu, dia, dan mereka) salah mengartikan pesan yang menggunakan emoji senyum itu. Baik yang dikirimi (penerima pesan) maupun yang mengirimkan (si pengirim pesan).

Mengapa Kau Benar, dan Aku Selalu Salah?

Apakah arti simbol, sign, atau tanda itu sebenarnya? Khususnya untuk emoji ini. 

Terus terang, aku tidak punya referensi buku tentang itu, lalu kucoba untuk mencarinya dengan searching di internet. Katanya, simbol merupakan perwakilan gagasan, ide berupa bentuk objek, atau gambar. Bisa jadi si senyum adalah perwakilan dari diri yang mengirimkan pesan.

Kemudian, aku pernah menanyakan pada beberapa teman-temanku tentang arti sebuah emoji bagi mereka. Karena emoji ini sudah lama kita gunakan. Dulu pertama kali mungkin sudah diperkenalkan oleh Yahoo Messenger (YM), lewat chatting

Bukan hanya ada si smile di YM, tapi kita familiar dengan kata “ASL, Plz” (Age, Sex, Location, Please?). Ini untuk tahu, alias perkenalan awal dengan seseorang di dunia maya. Yang suka YM, ayo! Angkat tangan. Kemudian dia, si smile juga ada di: email alias surat elektronik, Facebook (FB), Twitter, WhatsApp (WA), Line, Black Berry  Messenget (BBm), Path, dan sebagainya.

Kata seorang kawan yang kutanya tentang penggunaan emoji ini, katanya; hati-hati menggunakannya karena terkadang kita salah dalam persepsi. Mungkin maksud kita tertawa dengan mengirim emoji ekspresi tertawa. Namun bisa jadi menurut orang lain kita menertawakan topik yang sementara dibahas atau bisa jadi menertawakan diri mereka si lawan bicara.

Aku punya pengalaman yang memalukan. Dulu di tahun 2009, aku tidak mengerti arti emoji smile di email. Ada yang gambar, maaf t** kotoran yang dikerumuni lalat itu. 

Mungkin juga karena laptopku lagi eror, aku mengirimkannya ke teman yang anaknya lagi ultah. Maksudnya, aku mau mengucapkan selamat ulang tahun sambil menambahkan gambar mobil tank (si t**kulihat seperti mobil tank).

Lalu beberapa hari kemudian baru kuperhatikan. Aduh, ternyata aku salah menilai gambar, simbol emoji itu. Aku jadi tidak enak body and soul. Untung saja aku masih berteman baik dengan beliau, mungkin beliau pikir aku ini, Dull.

Terus, pernah lagi, seorang sahabat baikku perempuan yang lama kami tidak Keep in touch lewat media sosial. Waktu itu aku mengirimkan pesanku tapi cuma memberikan tanda smile yang lagi senyum, bahagia dengan gambar cinta di matanya. Sebagai tanda aku bahagia lihat dia online.

Sahabatku balik bertanya,“Kenapa, Ri? Maksudnya apa?” Sahabatku malah tidak mengerti maksud emojiku.

Bayangkan, aku yang lagi bahagia, lihat dia online di medsos. Namun, responsnya kaget lihat emojiku. Aduh, aku jadi pusing. Padahal aku cuma bermaksud bilang, senang melihatmu, teman.

Mungkin dia menangkapnya beda. Ya iya sih, beda konsep, pemikiran. Aku terkadang menganggap sesuatu yang kumengerti bisa dimengerti orang lain juga secara universal.

Atau karena kesalahanku juga, terkadang membalas pesan teman yang lain cuma dengan emoji smile yang simple, karena malas berpanjang-lebar. Menurutku, itu adalah komunikasi sederhana, simple, tapi tetap senyum (datar bgt gak, sih?)

Atau malah menurutku ketika ada pesan yang tidak penting ditanggapi atau aku malas untuk mengomentari cukup dengan tanda senyum saja itu titik, sudah cukup.

Ada juga karibku, Noy, yang kutanya arti suatu simbol pada emoji smile ini. Dia menjawab bahwa kita bisa menggunakan sesuai perasaan atau feeling kita dengan melihat apa yang tergambar di wajah si emoji.

Jadi bisa dikira-kira kalau itu tergambar di wajahmu. Menggunakan emoji merupakan bahasa manusia yang sederhana, menarik, unik, dan konkret. Artinya tegas, langsung, dan lugas ketika kita sama-sama mengerti penggunanya yang instan tapi perlu penalaran juga (nggak asal juga, bro).

Misalnya di FB ada pilihan emoji merasa senang sekali atau merasa konyol yang aku lihat sering banget dipakai. Jadi, sudah diketahui secara universal.

Emoji vs Kata

Padahal memang tidak selesai di situ, hanya dengan emoji. Ada orang yang butuh kata-kata, ada yang butuh kalimat yang jelas, dibilangin atau bahkan mungkin diceramahi.

Suatu contoh, ketika kamu (laki-laki) tidak bisa mengerti perasaan cewek yang kamu taksir, ketika kamu ajak makan keluar, nge-date via medsos dengan kata-kata: “Keluar yuk, ntar aku jemput.” 

Tidak lucu kemudian ketika dia cuma jawab dengan balasan ☺ emoji yang berekpresi bahagia.

Kemungkinan besar kamu akan bingung, Ini bahagia diajak tapi mau tidak ya cewek ini diajak keluar. Atau cuma ingin merespons secara wajar dan sopan dengan emoji senyum?

So' perlu diperjelas, ditanyain lagi itu biar lebih jelas. Kata-kata saja kadang tidak cukup apalagi simbol.

Seperti sebuah kata mutiara, "Sometimes words just cannot describe what you feel inside, and that's the time for silence." (Steven Aitchison). 

Terjemahan bebasnya nih, kadang kata-kata saja tidak bisa mendeskripsikan apa isi hatimu, dan itulah adalah waktu untuk berdiam diri, benar juga. Apalagi yang pakai bahasa batin alias kalbu? Ngomongnya pakai hati. Wah, perlu kearifan dan kebijaksaan tingkat tinggi untuk mengetahui simbol bahasa itu.

Think Happy with Emoji Symbol?

Walau sekarang banyak banget stiker yang mencerminkan identitas suatu kelompok. Misalnya tulisan Alhamdulillah dengan gambar KH. Maaruf Amin, atau tanda jempol Ok ala NU, sampai gambar dua jari tanda ikon cinta Korea. Tapi, emoji smile tetap yang aku sukai saat ini. Yes, Im happy to use it.

Emoji, dia adalah simbol bahagia itu sendiri penuh senyum pada sekitarnya, fun, enjoy, dan penuh ide. 

Kayaknya perlu diteliti.