Bukan Sigmund Freud yang menemukan teori dorongan kematian, apalagi mengaitkannya dengan dorongan seksual. Bukan pula Carl Jung yang pertama kali berpikir tentang konsep anima/animus. 

Pemahaman tentang transference/counter-transference mungkin juga tidak akan pernah berkembang seperti yang kita kenal selama ini. 

Sabina Naftoulovna Spielrein, psikiater dan dokter anak asal Rusia, psikoanalis perempuan yang pertama, yang juga menjadi analis Jean Piaget. Sekian lama terabaikan, ia diperkenalkan kepada publik sebagai mantan pasien yang menjadi perempuan “kedua” dalam hidup Carl Jung (lihat film A Dangerous Method, diperankan Keira Knightley).

Padahal ada yang jauh lebih penting untuk dibicarakan dari Sabina selain hubungan percintaannya dengan Jung. Tokoh perempuan yang terabaikan ini adalah pemikir modern di zamannya, sekaligus penulis, peneliti, dan pengajar di sejumlah universitas di Eropa.

Perempuan pertama yang tergabung dalam Vienna Psychoanalytic Society ini juga adalah salah satu pendiri kelompok elite intelektual internasional bersama dengan Eugen Bleuler, Carl Jung, Sigmund Freud, Carl Abraham, Eduard Claparède, Jean Piaget, dan Lev Vygotsky. 

Sabina tidak mengembangkan satu teori ataupun metode sistematik tertentu. Tetapi ia sangat kritis dan daya analisisnya tajam. Ia gencar mengajukan pertanyaan yang memancing munculnya ide-ide baru yang memperjelas ataupun memperdalam konsep yang sudah ada.

Ia sangat berbakat dalam mengembangkan rencana penelitian yang orisinal. Ia mengundang kolega-koleganya agar tidak menjadikan psikoanalisis sebagai ilmu yang menutup diri. 

Ia mengangankan psikoanalisis yang kritis dan terbuka, dengan memadukan psikoanalisis dengan pendekatan lain dalam psikologi, seperti psikolinguistik dan neuropsikologi. 

Ia banyak menulis tentang psikologi anak, mulai dari “Mengenal jiwa anak” sampai “Mengapa kata mama dan papa menjadi kata pertama anak”. Tulisan-tulisannya seputar tema ini banyak memengaruhi Anna Freud (yang malah dinobatkan sebagai pelopor psikoanalis anak), Melanie Klein, Jean Piaget, Lev Vygotsky, dan Donald W. Winnicott. 

Ia merupakan salah satu yang pertama di antara psikoanalis yang tertarik meneliti perkembangan bahasa pada anak-anak untuk melihat koneksi antara bahasa dan pikiran.

Ia juga banyak menulis tentang psike perempuan. Jika umumnya psikoanalisis memandang perempuan secara negatif: pasif dan masokis, tidak demikian dengan Sabina. Ia melihat psike perempuan sebagai aktif dan dinamis, dengan empati sebagai karakter terpenting dalam psike perempuan.

Ya, di awal abad 19, perempuan ini sudah berteori pula tentang empati. Sejauh ini, Sabina adalah orang pertama dalam dunia psikologi yang bicara tentang empati. Pemikirannya mengenai pulsion of destruction telah menginspirasi Freud untuk mengembangkan teori dorongan kematian. Sementara Jung jelas berutang pada Sabina yang telah membantunya dalam mengembangkan konsep anima, persona, individuasi, dan bayangan.

Tepatnya, pemikiran Sabina mengenai psike perempuan yang telah mengilhami pengembangan konsep anima/animus dari Jung. Ia pula yang memperdalam pemahaman Jung mengenai transference dan counter-transference, Eros, ketidaksadaran, dan mitologi.  

Artikel Melanie Klein mengenai penyapihan, payudara “baik” dan “buruk”, juga terinspirasi dari pemaparan Sabina dalam Konferensi Psikoanalisis Internasional yang ke-6 di Den Haag pada 1920. 

Tetapi baik Sigmund Freud, Anna Freud, Melanie Klein, maupun Carl Jung tidak pernah memberikan kredit yang selayaknya kepada Sabina (Sigmund Freud hanya pernah mengutip namanya sebagai referensi biasa).

Karya-karya Sabina Spielrein

Dunia psikoanalisis yang maskulin sementara ia mengadopsi pendekatan feminis, eklektisisme-nya yang kurang umum apalagi di kalangan psikoanalis (mengenai eklektisisme ini dapat dilihat dari keragaman tema tulisan-tulisannya), rivalitas dengan Anne Freud, dan politik Stalin, telah membuat Sabina terabaikan. 

Kita perlu berterima kasih kepada Aldo Carotenuto dan Carlo Trombetta yang menerbitkan korespondensi antara Sabina Spielrein, Freud, dan Jung pada 1980. Sejak itu, penelusuran mengenai psikoanalis feminis ini dilakukan dan tulisan-tulisannya mulai diterjemahkan.

Tulisan utama dan yang pertama dari Sabina Spielrein merupakan bagian dari disertasinya, berjudul ‘Über den psychologischen Inhalt eines Falles von Schizophrenie (Dementia praecox)’ [On the psychological content of a case of schizophrenia (Dementia praecox)]

Disertasi ini bisa jadi merupakan disertasi pertama mengenai psikoanalisis. Yang pasti adalah disertasi pertama tentang psikoanalisis yang ditulis oleh perempuan untuk pertama kalinya. 

Disertasinya merupakan studi kasus yang sangat meyakinkan, berisikan sesi-sesi terapi Sabina terhadap seorang pasien skizofrenia. Ini merupakan karya pertama dalam kajian psikosis (kegilaan). Karya ini sangat penting bagi Freud karena menjadi bukti ilmiah dari keberadaan dorongan-dorongan ketidaksadaran. 

Dalam karyanya ini, tampak sensibilitas dan kecakapan luar biasa Sabina dalam menguraikan proses-proses ketidaksadaran. Ia menyajikan protokol dialog-dialog dengan pasiennya.

Awalnya, apa yang diungkapkan si pasien seperti tidak ada arti. Tetapi Sabina sebagai terapis mengelompokkan materi percakapan ini dan menjelaskan dengan cara sedemikian rupa yang membuat pembaca menangkap emosi, perasaan, dan konflik ketidaksadaran si pasien. 

Jung, Freud, dan Bleuler sangat terkesan dengan hasil kerja keras Sabina ini. Karya ini diterbitkan dalam sebuah jurnal ilmiah Jahrbuch für Psychonalytische und Psychopathologische Forschung (1911). Berkat disertasinya ini, Sabina diangkat menjadi anggota Vienna Psychoanalytic Society sekaligus menjadi anggota perempuan pertama dalam organisasi ini.

Tulisan keduanya yang juga sangat penting terbit satu tahun kemudian (1912) ‘Die Destruktion als Ursache des Werdens’ [Destruction as the cause of coming into being/Destruction as the cause of becoming]. Tulisan ini merupakan surat cintanya terhadap Jung setelah akhir hubungan cinta mereka. 

Sabina merenungkan pengalaman cintanya dan kekecewaannya terhadap Jung sebagai kekasih sekaligus terapis. Dalam refleksinya, ia mempertanyakan bagaimana mungkin manusia merasakan kepuasan melalui penderitaan dan kenikmatan melalui kepedihan?

Baca Juga: Mitologi Psikhe

Dari pertanyaan ini, ia mengembangkan teori paradoksal mengenai pengabdian perempuan dan memperkenalkan salah satu dorongan primer: destruktif.  Libido, menurutnya, punya dua sisi: kekuasaan untuk membuat segala sesuatu indah dan pada saat yang sama dapat merusak.

Dari sinilah Freud kelak mengembangkan konsep dorongan kematian (1920) setelah sebelumnya ia mengkritik pemikiran Sabina ini sebagai karakter Rusia yang ambivalen. 

Sabina menulis lebih dari 30 artikel (yang sejauh ini berhasil ditemukan dan diterjemahkan), berisikan gagasan-gagasannya yang cemerlang dan orisinal. Ia awalnya menulis dalam bahasa Jerman, kemudian bahasa Prancis. Baru artikel-artikel terakhirnya yang ia tulis dalam bahasa Rusia yang adalah bahasa ibu baginya.

Daftar karya-karya Sabina secara lengkap dapat dilihat di sini: List of Spielrein's Publications