“Ini bukan cara anak malas, tapi cara anak cerdas!” Lanjut Pak Soepono menyimpulkan apa itu sebenarnya metode malas bermatematika.

Indonesia 1985.

Tahun 1985 bagi Indonesia era Orde Baru, memang tercatat sebagai tahun awal didengungkannya ‘Era Tinggal Landas’ menuju ‘Indonesia Emas’ sepuluh tahun yang akan datang, tahun 1995.

Banyak program baru gagasan pemerintah yang dinilai menjadi terobosan pada tahun 1985.

Dibidang ekonomi dikenal Paket Oktober yang disingkat Pakto, berupa program disektor perbankan yang mengijinkan banyak bank swasta beroperasi di Indonesia, beramai-ramai mengajak banyak orang untuk menyimpan dan meminjam uang guna membantu keperluan, terutama membuka usaha.

Banyak orang yang waktu itu hanya mengenal bank-bank bernama BRI, BNI, Bumi Daya, Bank Dagang Negara, BCA, maka sejak Pakto digulirkan, lalu semarak bertebaran nama-nama bank baru yang mempromosikan pinjaman lunak sebagai modal berinvestasi. Sementara itu padahal, Koperasi masih beroperasi.

Program Pakto bahkan sempat disindir halus oleh awak media dalam bentuk ungkapan ‘Indonesia; kapitalis bukan, sosialis malu-malu’.

Dalam kehidupan sosial politik juga digulirkan program azas tunggal Pancasila, yang menjadi pijakan awal masa program masif berupa penyuluhan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) atau disebut pula Eka Prasetya Panca Karsa.

Program mengikuti penataran P4 menjadi wajib diikuti oleh siswa, mahasiswa, pegawai negeri, aparat pertahanan dan keamanan yang dikelola khusus oleh lembaga negara yang bernama BP7 (Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), secara nasional.

Pada sektor pertanian dan perikanan pun tak luput dari program terobosan pemerintah pada tahun 1985, berupa peningkatan Intensifikasi Massal yang terbukti sangat berkotribusi pada pencapaian swasembada pangan hingga Indonesia mendapat anugerah dari badan dunia Food And Agriculture Organization, FAO, pada tahun 1984.

Sementara itu, disektor perikanan diterbitkan satu undang-undang tentang pengelolaan perikanan yang menjadi suatu terobosan dalam upaya pengelolaan dan peningkatan kapasitas perikanan, sebagai salah satu kekayaan alam tanah air.

Adapun dalam dunia pendidikan tingkat menengah atas, berupa program pendidikan yang bersistem memfasilitasi murid-murid berprestasi untuk diberi kesempatan melanjutkan studi pada perguruan tinggi negeri, tanpa tes.

Raihan program-program pemerintah tersebut di atas, masih belum menyentuh bahasan tentang suasana interaksi sosial budaya yang mencapai puncak keemasan pada era 1980-an.

Tahun 1985 itu ibarat separuh langkah menuju Indonesia emas. Kondisi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan nasional, atau yang dikenal Ipoleksosbudhankamnas, begitu solid dan sangat stabil.

Beberapa sejarah masa lalu yang kelam sebagai bangsa, seolah telah terlampaui.

Tahun 1985, bisa dikatakan sebagai tahun awal kesuksesan Indonesia dalam masa kepemimpinan presiden kedua Republik Indonesia, Bapak Soeharto beserta tim Kabinet Pembangunan IV dalam menjalankan program Pembangunan Lima Tahun keempat, negara Indonesia.


Nilai Rapor.

Tahun 1985, terdapat kebijakan pemerintah dibidang pendidikan dalam hal penerapan kurikulum berbasis minat bakat dan kemampuan bagi setiap murid sekolah tingkat menengah atas.

Kebijakan tersebut kemudian dijadikan acuan bagi setiap pengurus sekolah dan para guru untuk menerapkan metode belajar dan mengajar yang mengutamakan pencapaian nilai setiap mata pelajaran dari setiap murid.

Selanjutnya, pencapaian nilai akhir setiap mata pelajaran tersebut dicatat dalam sebuah buku rapor mulai kelas satu hingga kelas tiga.

Kelak, ketika para murid hendak lulus maka mereka mendapat kesempatan pula mendaftar ke perguruan tinggi negeri pilihan beserta bidang studi yang diminatinya.

Program tersebut dikenal sebagai Penelusuran Minat bakat Dan Kemampuan (PMDK) yang menjadikan akumulasi nilai rapor dan Danem hasil evaluasi belajar tahap akhir sebagai pertimbangan utama.

Program PMDK tersebut menggantikan program Proyek Perintis, yakni seleksi masuk calon mahasiswa dari lulusan SMA yang dikelola oleh perguruan tinggi tertentu, tanpa tes.

Waktu itu, program tersebut diharapkan menjadi sarana bagi anak didik sekolah tingkat menengah atas agar terfasilitasi proses penyadaran akan minat, bakat dan kemampuan dirinya masing-masing, untuk kemudian menentukan studi lanjutan pada perguruan tinggi negeri yang dipilihnya.

Tentunya, pendampingan oleh para guru sangat dibutuhkan dalam proses pemahaman diri atas minat, bakat dan kemampuan tersebut.

Program tersebut, dalam kenyataannya berpengaruh pada proses belajar dan mengajar.

Para siswa pun siswi termasuk para orang tua ataupun walinya, diberi pemahaman tentang program PMDK agar melibatkan diri didalamnya, yang kemudian memacu perolehan prestasi siswa dan siswi dalam bentuk akumulasi nilai dari setiap mata pelajaran yang bakal tercatat dalam buku rapor.

Perlahan, suasana belajar menjadi lebih berorientasi pada pemahaman isi materi pelajaran, di dalam kelas.

Mata pelajaran yang bersifat praktik di luar kelas seperti olah raga, perlahan dinilai bukan sebagai prioritas.

Apresiasi atas kegiatan berolah raga juga ektrakurikuler luar kelas lainnya, termasuk kegiatan tahunan dalam bentuk pertandingan dan lomba berbagai cabang olah raga dan seni, perlahan mulai meredup.

Para murid cenderung diajak untuk mengoptimalkan pencapaian prestasi sekolah dalam bentuk akumulasi nilai-nilai yang dituangkan dalam buku rapor.


Pak Soepono.

Kebijakan pemerintah untuk mengembangkan program PMDK di setiap sekolah menengah tingkat atas, tentunya menjadi acuan utama dalam mengelola proses belajar dan mengajar bagi pengurus sekolah, terutama menjadi kewajiban bagi setiap Kepala Sekolah (Kepsek).

Sebagai persiapan proses menjalankan program PMDK secara sistematis, maka terdapat banyak rotasi tugas Kepsek untuk mengelola sekolah-sekolah yang perlu ditingkatkan sistem belajar mengajar yang sejalan dengan program pemerintah tersebut.

Banyak Kepsek yang mendapat mutasi dari sekolah yang memiliki peringkat unggulan, untuk bertugas meningkatkan peringkat sekolah yang berperingkat rata-rata.

Tugas mutasi tersebut tak hanya berlaku untuk sekolah dalam satu kota, melainkan antar kota dalam propinsi yang sama.

Ketika saya masih menjadi siswa SMAN 5 Malang pada tahun 1985, sebagai Kepsek bernama Pak Soepono. Beliau orangnya tinggi, putih, rambut lurus agak ikal sedikit beruban tersisir rapi ke samping kanan berhidung mancung, berwajah selayaknya seorang dokter umum.

Pak Soepono berpostur proporsional, selalu kenakan sepatu kulit putih, berkendaraan Vespa Piaggio berwarna kopi susu. Cara berjalan beliau agak membungkuk karena sering menghadapi kolega dan murid yang tak setinggi tubuhnya. Sering melangkah cepat dan selalu siap jika terdapat kelas kosong karena jeda antar pelajaran terlalu lama atau karena guru pengajar sedang absen.

Pak Soepono berlatar belakang guru matematika. Oleh karenanya, dalam setiap menjalankan tugas sebagai guru pengganti dadakan, maka setiap materi pelajaran yang seharusnya diajarkan oleh guru yang datang, mendadak berubah menjadi matematika.

Namun cara mengajar matematika beliau sangat menyenangkan.

“Matematika itu mudah!” Begitu selalu ucapan Pak Soepono untuk mencairkan suasana kelas.

Selalu ada murid yang ditanya, materi pelajaran matematika apa yang dianggap sulit sambil diminta mengingat soal tersulit yang dihadapi murid.

Begitu soal paling sulit ditulis oleh perwakilan murid di papan tulis, lalu Pak Soepono mencerna soal sejenak, kemudian kembali menghadap ke para murid.

“Kalian mau cara rajin apa cara malas?”

“Cara rajin, Pak!” Serempak murid sekelas membalas.

Pak Soepono pun lalu menjelaskan rinci di papan tulis, cara menyelesaikan soal serajin-rajinnya. Mendapat penjelasan rinci tentang jawaban soal matematika paling rumit, semua murid hanya diam. Beberapa diantaranya menatap papan tulis dengan pandangan mata membulat pertanda paham.

“Sekarang, cara malas ya!"

Pak Soepono kembali menghadap papan tulis. Dilanjutkannya menggurat kapur putih, mengurai angka-angka yang lebih pendek, jalan pintas dari penyelesaian soal matematika cara rajin.

Tak perlu waktu lama, menyelesaikan soal matematika rumit cara malas pun jauh lebih ringkas. Shortcut math!

Murid seisi kelas masih terdiam. Namun kali ini banyak yang melongo, sadar akan adanya metode malas bermatematika.

“Ini...” Ujar Pak Soepono menghadap kelas, sambil jari telunjuknya mengetuk-ketuk papan tulis.

“Ini bukan cara anak malas, tapi cara anak cerdas!” Lanjut Pak Soepono menyimpulkan apa itu sebenarnya metode malas bermatematika.

Seisi kelas lalu tersenyum geli, menyadari jika mereka belum sepenuhnya cerdas.

Waktu itu, Pak Soepono belum setahun menjalankan tugas baru sebagai Kepsek SMAN 5 Malang, yang sebelumnya beliau menjadi Kepsek di SMAN 1 Blitar.

Dalam catatan peringkat sekolah menengah tingkat atas, SMAN 1 Blitar memang memiliki reputasi berperingkat unggulan di Jawa Timur.


Transformasi.

Sebagai Kepsek baru di sekolah yang hendak dinaikkan peringkat dari rata-rata menjadi unggulan, maka Pak Soepono yang terbiasa mengelola sebuah sekolah berkategori unggulan, lebih memilih untuk menetapkan visi dan misi yang mendasar untuk merubah nilai-nilai SMAN 5 Malang.

Setelah puluhan tahun dikenal teladan dalam hal pelajaran dan kegiatan berolah raga, maka SMAN 5 Malang menjadi sekolah yang bakal diarahkan agar kelak unggul dalam hal pencapaian pelajaran umum berkategori wajib.

Tak mudah memang menjalankan visi dan misi yang merubah nilai-nilai yang telah mendasar dan menjadi kebanggaan bagi para murid dan guru selama puluhan tahun.

Pada masa-masa demikian, terdapat semacam friksi diantara para guru. Ada kesan kurang kompak dalam menjalankan proses belajar mengajar yang ditangkap para murid. Setidaknya, terdapat dua kubu pada masa awal menjalankan visi dan misi Kepsek yang baru waktu itu.

Pertama adalah kubu yang terdiri dari murid dan guru yang pro terhadap dijalankannya program-program yang berorientasi pada prestasi dibidang keolahragaan.

Aspirasi dari kubu ini kurang setuju jika kebanggaan SMAN 5 Malang dalam bidang olah raga, mendadak berganti menjadi sekolah yang serius, berkategori unggulan.

Sebaliknya, kubu kedua lebih memilih untuk mengikuti visi dan misi baru gagasan Pak Soepono, sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam mengembangkan sistem menuju dijalankannya PMDK sesuai visi dan misi pendidikan nasional.

Tentunya, sosok Pak Darjono sang legenda pembangun karakter berolah raga khas SMAN 5 Malang berada pada kubu pertama.

Sejak adanya visi dan misi baru itu, maka kegiatan tahunan Porseni SMAN 5 Malang meski masih tetap berjalan, namun gregetnya perlahan memudar.

Waktu pun terus berdetak, sejalan dengan visi dan misi meraih cita-cita sebagai sekolah unggulan. Nilai-nilai yang diajarkan bagi siswa dan siswi untuk tetap berolah raga ataupun berkegiatan di ruang terbuka juga menjadi pertimbangan.

Hingga, pada kisaran tahun 2000-an awal, SMAN 5 Malang menyandang predikat sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.

Sebuah perjalanan panjang yang tak pernah usai bagi suatu lembaga pendidikan menengah atas, untuk meraih cita-cita sesuai semboyan bertekad sejak pertama.

Terima kasih SMAN 5 Malang, telah menanamkan benih berupa nilai-nilai Dharmekyastu Yogya sebagai bekal bertualang, meniti masa depan.