"Sekali bertekad, lalu bersungguh-sungguh menjalankannya, maka bagi siapapun yang melakukannya bakal menuai hasil, sesuai yang diharapkan. Itu sudah menjadi hukum alam."

Bersahaja.

Dharmekyastu Yogya adalah kalimat bahasa Sansekerta yang bermakna mengamalkan hasil menggali ilmu pengetahuan, dengan berperilaku penuh kebersahajaan.

Makna kalimat tersebut telah menjadi sebuah tekad yang disandang oleh SMAN 5 Malang sejak berdirinya pada 13 September 1965.

Sekali bertekad, lalu bersungguh-sungguh menjalankannya, maka bagi siapapun yang melakukannya bakal menuai hasil, sesuai yang diharapkan. Itu sudah menjadi hukum alam.

Demikian pula dengan SMAN 5 Malang, berbekal makna kalimat bertekad tersebut, dalam perjalanannya membentuk atmosfir suasana belajar dan mengajar yang berisikan interaksi antara guru dan murid yang keduanya sama-sama berperilaku bersahaja.

Makna petikan peribahasa ‘Guru kencing berdiri, murid kencing berlari’, tak sekedar kalimat peribahasa biasa, namun lebih mewakili sebuah upaya agar suasana belajar mengajar menjadi nyaman, berorientasi pada cara berpikir antara guru dan murid yang selaras serta sejalan.

Upaya yang demikian, membuat para guru turut menyesuaikan perilaku murid SMAN 5 Malang, yang kebanyakan memiliki karakter bersahaja.

Sikap bersahaja tersebut sedikit banyak dipengaruhi oleh lingkungan hidup di mana para siswa pun siswi sekolah berasal. Wilayah hunian di sekitar SMAN 5 Malang, menjadi sumber bibit murid yang bakal menimba ilmu pengetahuan di sekolah ini.

Kawasan hunian di wilayah Kasin, Ngaglik, Talun, Kauman, Bareng, Gadang, Janti, Mergan, Polehan, Betek, Dinoyo hingga Tlogomas adalah kebanyakan murid bertempat tinggal.

Tak hanya dari wilayah tersebut, namun juga di Kabupaten Malang, seperti Wagir, Ngajum, Pakis Saji, Karang Ploso, Kepanjen hingga Pagak, adalah tempat-tempat beberapa murid SMAN 5 Malang berasal.

Wilayah-wilayah kota Malang dan sekitarnya yang berlingkungan hidup tak terlalu mengindahkan gaya hidup perkotaan itu, turut memberi bekal sikap bersahaja bagi anak yang tengah bertumbuh kembang.

Sikap bersahaja yang dimiliki sebagian besar para siswa dan siswi tersebut lalu menjadi menjadi modal utama bagi para guru dan pengurus sekolah untuk mengkreasi dan mengembangkan metode belajar mengajar yang tepat.

Agar makna mengamalkan hasil berilmu pengetahuan, kelak bisa tetap melekat bagi setiap lulusan SMAN 5 Malang.


Arsitek Tionghoa.

Gaya arsitektur bangunan sekolah SMAN 5 Malang terbilang unik. Tak seperti kebanyakan sekolah di kota Malang yang merupakan gedung bangunan peninggalan masa kolonial Belanda.

Dalam catatan sejarah, SMAN 5 Malang pertama kali diresmikan pada minggu kedua bulan September tahun 1965, menjalankan awal kegiatannya menjadi satu bagian dalam salah satu gedung sekolah dalam kawasan persekolahan Tugu di kota Malang.

Meletusnya peristiwa dini hari tanggal 1 Oktober 1965 di Jakarta yang berbuntut huru hara sosial politik di Indonesia, lalu berujung ke dialihkannya kepemilikian sebuah sekolah bernama Machung, sebuah sekolah bagi warga keturunan Tionghoa, menjadi milik pemerintah.

Bangunan sekolah yang memiliki halaman sangat luas di area jalan Tanimbar kota Malang tersebut, lalu ditetapkan menjadi tempat bagi SMAN 5 Malang untuk berkegiatan.

Sebagai bangunan sekolah yang sebelumnya digunakan oleh warga keturunan Tionghoa, turut memengaruhi arsitek bangunan sekolah juga luas halaman yang dimilikinya.

Kesan saya pertama kali masuk ke dalam area SMAN 5 Malang, seperti berada di kawasan suatu perguruan silat seperti dalam film-film silat klasik karya sineas Hongkong.

Pemandangan dalam sekolah juga demikian, berisikan bangunan ruang-ruang kelas berderet memanjang mengitari satu area luas di dalamnya.

Bentuk atap dan genting sekolah, juga model dinding ventilasi di atas setiap jendela ruangan mengingatkan bentuk dan model bangunan serta halaman yang terekam dalam karya sinema silat klasik Hongkong tersebut.

Mungkin, dulunya sekolah Machung ini tak hanya kawasan pendidikan tingkat menengah bagi warga Tionghoa di kota Malang, namun sekaligus sebagai asrama para murid bertempat tinggal. Semacam asrama perguruan kungfu Shaolin, begitu lah.


Aksara Cina.

Sering saya temui di atas bangku-bangku meja kayu tebal dalam ruang kelas, terukir guratan tulisan-tulisan beraksara Cina. Bisa jadi jarum sebuah jangka alat menggambar teknik, yang dijadikan sebagai pena penggurat tulisan di atas meja kayu.

Sangat dimungkinkan tulisan tersebut adalah ungkapan hati para siswa ataupun siswi warga Tionghoa yang tengah mengalami masa remaja. Karena saya tak paham huruf aksara Cina, maka saya hanya bisa menduga arti dari setiap guratan di atas bangku dan meja.

Beberapa tulisan Cina yang sering saya jumpai, lalu saya reka-reka arti dan maknanya sebagai sesama remaja, seperti;

'Fei Hung & Meilani pernah duduk di sini.'

Atau;

'Cik Hwa guru sastra, gak ketulungan cantiknya.'

Atau;

'Koko ku orang e baik hati, loman dan rajin sembayang.'

Atau;

'Mochi buatan ne mamaku enak sekali . Bilang e mamaku; Nyo! bok sungkan-sungkan! Kamu nek sukak ambik en ae.'

Atau;

'Pelajaran kimia iku pancen gatheli.'

Atau, ungkapan kisah cinta legenda Sam Pek dan Eng Tay;

'Ku ingin bersama mu, berbaring tenang dalam tidur panjangmu. Ditemani kupu-kupu menari, di atas batu nisan kita.'

Juga lain sebagainya, masih banyak rekaan makna ungkapan kata-kata hati khas remaja masa puber pertama.


Pak Darjono.

Berolah raga untuk meraih prestasi sekolah merupakan ciri khas melekat sebagai karakter anak didik SMAN 5 Malang sejak awal-awal tahun berkegiatan di tempat baru nan luas di jalan Tanimbar, hingga awal tahun 1980-an.

Nama Pak Darjono, merupakan sosok yang dikenal sebagai pelopor pembangun karakter tersebut, secara sistematik. Berperawakan atletis meski tergolong kecil, beliau berusia lima puluhan ketika saya menjadi siswa.

Beraut muka tegas, rona wajah Pak Darjono selalu kemerahan. Tak pernah kenakan baju formal selayaknya para guru pengajar, namun selalu mengenakan setelan olah raga, berjaket parasut, bersepatu untuk berlari. Langkah berjalannya begitu cekatan.

Pak Darjono tak pernah terlihat menaiki ataupun menumpang kendaraan. Melainkan selalu berjalan kaki sekira lima kilo meter dari rumah di kawasan Celaket ke SMAN 5 Malang, pergi dan pulang. Beliau sangat ramah menyambut siswa ataupun siswi yang berminat untuk berolah raga. Lalu menjadi sangat disiplin ketika olah raga dijalankan.

Beberapa cabang olah raga kelompok macam basket, bola tangan, badminton, voli, sepak bola, hingga atletik macam lari cepat, maraton, pencak silat, karate, catur, lompat tinggi, tolak peluru dan lompat jauh adalah ragam olah raga yang tak hanya diajarkan sebagai mata pelajaran teori saja. Namun juga diterapkan sebagai kegiatan berolah raga di lapangan terbuka, pada pelajaran wajib ataupun ekstra kurikuler.

Pada setiap angkatan selama Pak Darjono aktif mengajar olah raga, selain basket dan voli yang rutin menjadi materi pelajaran, juga terdapat kegiatan rutin tiga bulanan sekali, berupa siswa dan siswi satu kelas berlari joging dari lapangan basket sebelah dalam sekolah menuju suatu tempat di daerah Wagir kabupaten Malang, berkisar 10 km jauhnya.

Angkatan saya pernah mengalami kegiatan joging berkala tersebut hingga kelas tiga semester genap yang telah dikurangi materi pelajaran berolah raga berganti persiapan ujian akhir.


Porseni.

Setiap tahun terdapat kegiatan yang mewadahi siswa ataupun siswi yang berminat pada jenis-jenis olah raga tersebut dikemas sebagai ajang pertandingan tahunan antar kelas dan tingkat yang dinamakan Pekan Olah Raga dan Seni (Porseni) khas SMAN 5 Malang.

Untuk seni, pertandingan berkisar pada lomba melukis, grup folk song, tari tradisional ataupun kontemporer baik individu maupun kelompok, membaca sajak puisi, menulis kreatif dan berpidato.

Kegiatan Porseni dilaksanakan dua hingga tiga bulan sebelum hari jadi SMAN 5 Malang dirayakan, setiap tanggal 13 September.

Jalannya aneka pertandingan dan lomba Porseni dilakukan secara setengah kompetisi yang kemudian puncak penentuan juara pertama, kedua dan ketiganya dilaksanakan sepekan jelang tanggal lahir sekolah.

Porseni merupakan acara yang ditunggu semua murid dan didukung oleh para guru, dengan Pak Darjono sebagai sosok inisiator. Setiap sore hari hingga jelang petang, selama jalannya pertandingan olah raga dan seni, tempat sekolah diramaikan oleh aksi para peserta dan sorak sorai para pendukungnya.

Pengumuman jadwal pertandingan dan lomba disampaikan setiap hari berupa pengumuman langsung oleh wakil pengurus OSIS dan panitia lomba, dari kelas ke kelas dan berupa lembar pengumuman yang ditempel pada majalah dinding sekolah.

Suasana demikian berjalan selama tiga bulanan hingga puncak Porseni tiba. Selama kegiatan itu pula, para murid dan guru pun mendapat keberimbangan kinerja. Pagi hari suasana tekun sunyi berbagi pengetahuan dalam ruang kelas. Sore hari berganti melepas riuh riang di tempat terbuka bebas.

Saya tak berbakat berolah raga. Lari pun tak bisa cepat, kurang tangkas. Jika pun masuk dalam kontingen pertandingan basket antar kelas, saya juga jarang terima umpan bola dari kawan.

Namun saya punya spesialisasi tersendiri, yakni berlari ke sana kemari membuat bingung dan mengecoh langkah lawan. Lelarian membingungkan ala saya, telah menyumbang kontribusi yang lumayan.

Dalam hal lomba menggambar dan melukis, saya cukup diandalkan. Pernah ketika duduk kelas dua, saya mengikuti lomba kegiatan Porseni berupa melukis bertemakan lingkungan hidup. Berkelompok dua orang, saya dan satu teman.

Lukisan cat air saya berupa pohon tua berdaun jarang yang memegang kayu enggrang keluar dari bumi melayang dalam ruang luar angkasa. Warna lukisan saya berkomposisi terang benderang.

Sedangkan teman saya melukis pemandangan berisikan banyak hewan mamalia yang kebingungan mencari pangan karena predatornya telah punah. Warna lukisan teman saya ini cenderung gelap, muram.

Hasilnya lumayan, diganjar panitia lomba sebagai juara ketiga. Hadiahnya seperangkat alat lukis dan sebuah paket cat air. 

Kami pun berbagi dua hadiah tersebut, seadil-adilnya. Saya memilih cat air warna muda macam hijau pupus, kuning, biru muda, putih, merah muda. Sementara teman saya lebih memilih warna gelap, hitam, coklat, abu, hijau tua, biru tua, merah tua, ungu.

Semua karya lomba berkesenian waktu itu menjadi hak dimiliki panitia. Entah sekarang karya-karya lomba pada disimpan di mana.

Padahal menarik untuk dikumpulkan lagi, dipindai, difoto lalu diunggah ke media sosial abad 21. Sebagai kenang-kenangan pernah menikmati masa remaja yang menyenangkan di SMAN 5 Malang.

(Bersambung).