Saya pengangguran, tidak dapat gaji, dan saya dianggap aib keluarga.

Saya menghabiskan banyak waktu di rumah, sehingga saya harus menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga ketika semua orang beraktivitas di luar. Jadi, kapan saya bisa bekerja?

Saya pengangguran, seperti yang terlihat dan diyakini semua anggota keluarga saya. Anak gaul zaman sekarang menyebutnya “nolep”, dari kata “no life”. Tapi, apakah saya tidak memiliki kesibukan?

Saya pernah ingin jadi wartawan. Lulus kuliah, saya mengutarakan maksud tersebut kepada ibu saya, tapi ditanggapi “jangan. Itu pekerjaan laki-laki. Nanti kamu harus ke sana dan ke sini.” Itu respons penolakan. 

Tidak ada gunanya merengek. Saya bukan anak laki-laki. Saya tidak istimewa dan tidak akan mendapatkan dukungan. Serentetan peristiwa di masa lalu telah membuktikannya.

Kenyataannya, saya juga sibuk, sibuk menggembleng diri saya sendiri menjadi lebih kritis. Menulis adalah satu-satunya hal yang dapat saya lakukan dengan baik. Seperti juga mencintaimu. Ah, tidak. Ralat yang terakhir.

Jadi, saya sibuk menulis. Mengarang cerita pendek, opini politik, dan esai-esai yang saya harap bisa dimuat di media dan mendapatkan bayaran. Jika tidak, cukuplah ketenaran.

Tapi, tidak ada yang menganggap menulis sebagai sebuah kesibukan, sumber penghasilan atau hal yang harus dikembangkan apalagi didukung oleh orang tua. Padahal, dengan cara inilah saya berusaha tidak melupakan keinginan diri untuk menjadi jurnalis, mengasah ketajaman berpikir dan kemampuan mengetik dengan sebelas jari, dua jari tengah—kiri dan kanan.

Saya pengangguran. Dan anggota keluarga saya malu memberikan jawaban jika ditanya mengenai kesibukan saya saat ini. Jadi, makna saya ya sebatas itu. 

Rasa malu. Anggota keluarga yang tidak bekerja itu memalukan. Terlepas dari apakah ia melakukan hal-hal yang produktif atau tidak, selama kegiatan itu tidak atau bahkan belum menghasilkan rupiah, ia adalah aib keluarga. Saya menjadi aib keluarga.

Saya bukannya tidak berusaha mencari pekerjaan lain setelah keinginan untuk menjadi wartawan saya hiatus-kan sejenak. Tapi, tidak satu pun lamaran saya diterima. Apakah seharusnya saya melamar kamu saja?

Tidak ada satu pun panggilan wawancara. Saya berusaha meraba bahasa ilahi, melihat setiap pertanda. Saya sampai pada kesimpulan, Tuhan sepertinya tidak menakdirkan saya untuk menjadi karyawan orang lain. Alasannya sederhana: uang.

Setelah berusaha lulus kuliah dengan susah payah, nyatanya, sekarang pun saya, kita, masih harus berdarah-darah. Mendapati keadaan orang tua yang sederhana, pas-pasan dan terkadang untuk makan pun susah. Saya diam.

Kabupaten saya masih tergolong wilayah tertinggal. Tampak lesu, memang. Tidak ada perusahaan besar. Teman-teman masa sekolah saya, saya ketahui mengabdi sebagai tenaga pendidik—yang kata Mendikbud insya Allah akan diganjar surga atau sebagai tenaga honorer di kantor-kantor pemerintahan yang dibayar tiga bulan sekali. Pun tampaknya lebih besar pasak daripada tiang.

Untuk mendapatkan pekerjaan, setidaknya harus ke luar kota. Ke luar kota? Butuh uang. Biaya tempat tinggal dan makan selama mencari pekerjaan, butuh uang. Uang sebagai modal itu yang tidak saya miliki, tidak orang tua saya miliki, sudah habis untuk membiayai pencarian kerja saudara saya yang laki-laki.

Saya mafhum mengapa Tuhan tidak membiarkan satu pun lamaran kerja saya diterima. Semua pekerjaan yang saya lamar berada di luar kota. Jikapun bisa sampai pada tahap wawancara, risikonya masih begitu besar. Mencari utang untuk biaya perjalanan, tanpa jaminan pasti akan diterima, dan tentu saja membebankan orang tua. Saya, sekali lagi, diam.

Sebuah artikel yang dibagikan seorang kawan di media sosial tidak menyelesaikan masalah saya—tentu saja, tapi setidaknya memberikan pemahaman atas apa yang terjadi dan dialami oleh orang-orang seperti saya. Pengangguran yang tidak memiliki modal untuk keluyuran mencari pekerjaan. Hahahah Saya ingin menertawakan nasib.

Artikel itu, intinya, mengatakan bahwa semua yang kita dapatkan tergantung pada privilege, bahasa Indonesianya menjadi privilese, berarti hak istimewa. Lebih sederhananya—akses. Ibu saya memaki saya mengapa tidak kunjung juga mendapatkan pekerjaan. Saya apakan otak saya yang menurutnya pintar itu?

Saya jawab dengan suara lemah. Percuma pintar kalau miskin. Toh tidak akan bisa ke mana-mana. Kemampuan otak saya, yang sejauh ini saya selalu bersyukur memilikinya, hanya mampu mengantarkan saya ke gerbang perguruan tinggi negeri melalu jalur SNMPTN beberapa tahun yang lalu.

Selebihnya, untuk dapat bertahan hidup, aktif, atau bahkan berprestasi selama kuliah, kemampuan otak sangat jelas harus diimbangi dengan kemampuan finansial keluarga. Jika memiliki sokongan ekonomi yang baik, maka kemampuan otak bisa ditingkatkan. 

Banyak berbeda jika keadaan finansial yang kurang baik, sebab ini adalah tentang pencapaian orang tua. Pekerjaan orang tua, sumber penghasilan orang tua, tidak dapat diubah.

Anak-anak disekolahkan untuk dapat membantu mengubah keadaan orang tua. Sialnya, ia tidak punya cukup amunisi untuk berperang melawan hidup yang makin buas. Bukan tidak mungkin, tapi butuh waktu lebih lama.

Banyak meme-meme beredar yang menyindir realitas pencari kerja. Ijazah akan kalah dengan yang punya pengalaman. Lulusan baru akhirnya gigit jari. Kecerdasan, ijazah, pengalaman, akan kalah dengan yang punya duit dan orang dalam. Lulusan baru, miskin pula, akhirnya gigit lidah. Sakit!

Tidak ada yang salah dengan orang tua. Hanya saja mohon pengertiannya untuk tidak memaksa anak melakukan hal yang tidak dia inginkan, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Bukan karena dia tidak ingin berbakti, tapi ia sadar akan kemampuan diri dan risiko yang harus ditanggung menjadi abdi negara.

Anakmu ini harus berhenti menulis hal-hal yang politis, terutama tentang pemerintahan, dan ia tidak bisa. Ia tidak bisa untuk tidak nyinyir. Jika penyesalan datangnya di akhir dan yang di awal itu adalah pendaftaran, maka sekarang ia mendaftar untuk mengatakan, turut menyesal tidak mampu mewujudkan mimpimu memiliki anak yang PNS, karena itu bukan impiannya.

Ia hanya ingin tetap menulis, sekarang dan nanti. Termasuk menulis tentang dirinya yang hanya menjadi aib keluarga.