“Bolehkah mengucapkan selamat Natal kepada kerabat, kawan, tetangga, atau kolega yang merayakannya ?”

Setiap jelang Natal, perdebatan tentang ini selalu menyeruak ke permukaan. Tanpa henti, terus terulang dan terulang. Kalangan yang menolak biasanya mengaitkan hal itu dengan masalah akidah yang harus diperlihara dengan ketat. Sedang kalangan yang membolehkan biasanya melihatnya sebagai masalah etika sosial.

Ada yang begitu cemas jika saya mengucapkan selamat Natal, dikhawatirkan akidah saya akan ternodai. Logika yang lazim dipakai rata-rata adalah ‘mengucap selamat Natal merupakan bagian darinya, akidah Anda akan ternodai!’. 

Berucap selamat Natal secara lisan, sebagai bentuk etika sosial berkawan atau bertetangga pada non-muslim, dan tidak sebagai taqrir hati, bukankah tidak ada kaitannya sama sekali dengan akidah dalam artian iman, melainkan hanya laku etika sosial semata?

Saudara kita yang non-muslim saat berucap “Selamat Idul Fitri” kepada kita yang muslim, bukankah mereka tidak menyematkannya dalam taqrir hati mereka? Layaknya ketika kita berucap “Selamat Natal” kepada mereka?

Menurut M. Quraish Shihab, dalam rangka interaksi sosial dan keharmonisan hubungan, Alquran memperkenalkan satu bentuk redaksi, di mana lawan bicara memahaminya sesuai dengan pandangan atau keyakinannya, tetapi bukan seperti yang dimaksud oleh pengucapnya. Karena si pengucapnya sendiri mengucapkan dan memahami redaksi itu sesuai dengan pandangan dan garis keyakinannya. (Lihat Membumikan Alquran, penjelasan tentang QS. 34: 24-25).

Berdasarkan petunjuk Alquran tersebut, memberikan konteks pemahaman bahwa, kalaupun non-muslim memahami ucapan selamat Natal sesuai dengan keyakinannya, maka biarlah demikian, karena muslim yang memahami akidahnya akan mengucapkan sesuai dengan keyakinannya pula. Memang, kearifan sangatlah dibutuhkan dalam rangka interaksi sosial dan keharmonisan hubungan.

Tidaklah keliru dalam kacamata ini, adanya fatwa dan larangan mengucapkan selamat Natal, apabila larangan itu ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan akan ternodai akidahnya. Akan tetapi, tidak juga salah bagi yang membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal tersebut merupakan tuntunan akan keharmonisan hubungan. 

Maka, sungguh Islam dalam hal ini tidak melarang kita (muslim) menyangkut harmonisasi hubungan antarumat beragama.

Sebagai umat muslim yang beriman, kita sangat bisa menjaga akidah kita untuk tetap tertancap di dalam hati, sekalipun lisan kita berucap selamat Natal kepada saudara kita yang non-muslim sebagai bentuk laku etika sosial semata. Tentu saja, relasi sosial sebaik apa pun dengan non-muslim tidak boleh mengikis akidah kita, itu jelas harga mati. Akidah adalah akidah, sosial adalah sosial.

Mesti dipahami di sini bahwa akidah Islam yang bersimbol pada pengucapan dua kalimat ‘syahadat’ sesungguhnya merupakan taqrir personal, yakni sumpah akan ketetapan hati untuk patuh serta taat pada Allah dan Rasul-Nya, yang bukan hanya berskala spiritual dan transendental, tetapi juga meliputi laku etika sosial maupun interaksi antar sosial.

Sungguh tidaklah logis untuk dicerna jika sesuatu yang bersifat elementer (furu') mengalahkan yang bersifat substansial (ushul), akidah Islam yang berjiwakan kedamaian dikalahkan oleh remah-remah paham pertikaian. Mengutip sebuah nasihat dari ulama Ushuliyyin kiranya layak dan patut untuk kita camkan di sini, “Dar’u al-mafasid muqaddamun ‘ala jalbi al-mashalih” (menghindarkan sebuah keburukan jauh lebih diutamakan dari pada meraih sebuah kebaikan).

Nah, mengucap selamat Natal kepada kerabat, kawan, tetangga, atau kolega yang merayakannya dalam rangka mengail kebaikan dan harmonisasi hubungan antarumat beragama jauh lebih diutamakan daripada berdakwah di tempat-tempat terbuka, sekalipun dengan niat ‘li ibtigha’i mardhatillah’, namun hanya berujung pada menyakiti perasaan saudara-saudara kita yang berbeda keyakinan.

Kalaupun Anda tetap kukuh bahwa mengucap selamat Natal tidak layak dilakukan oleh seorang muslim, maka mari lakukan itu di tempat-tempat terbatas sesama muslim, jangan sampai didengar oleh saudara-saudara kita yang non-muslim, demi menghindarkan rasa sakit hati mereka, apalagi sampai memicu adanya disharmoni sosial di negeri yang kita cintai ini. 

Sehingga dalam hal ini setiap muslim dituntut untuk menggambarkan kebaikan Islam dan moderasinya terhadap non-muslim.

Media sosial seperti Facebook, WhatsApp, Instagram, Twitter, dan sebagainya yang merupakan ciptaan non-muslim, di mana penggunaannya terbuka untuk semua kalangan, termasuk muslim maupun non-muslim, selayaknya dijadikan sarana berdakwah untuk menebar kebaikan, kerukunan, dan kedamaian, bukan tempat muslim menyakiti perasaan non-muslim ataupun sebaliknya.

Terlalu sayang teramat sayang, jika negara kita Indonesia yang beragam ini, terluka hanya karena persoalan yang bersifat elementer, yang diumbar dengan begitu fobia oleh sekelompok orang yang sepertinya memerlukan jelajah ‘fusion of horizons’ dengan lebih jauh dan jeli lagi.