Sehari sebelum #Aksi4November, saya bertugas meliput persiapannya di Posko Demo. Saya datang ke posko di Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) di Jl. Menteng Raya – paling dekat dengan lokasi aksi di Balaikota Jakarta. Panitia posko mengklaim saat itu sudah ada 700-an orang yang datang.

Saya bertemu Mahfud Siddiq (47) yang jauh-jauh datang dari Purworejo, Jawa Tengah.  Dia sudah tiba sejak Rabu malam bersama 50-an rekannya dengan menggunakan bus.

Tanpa prasangka apa-apa, saya mendekatinya. Saya datang dengan kepala kosong dan sedikit pertanyaan mendasar – yang saya susun sedemikian rupa sehingga semoga terdengar netral.

“Pak, tuntutan buat besok apa sih yang mau disuarakan pas aksi?” tanya saya.

“Ya itu. Seperti yang dikatakan MUI sama Habib Rizieq itu.”

“Apa, pak, tuntutannya?”

“Ya tuntutannya ya kita kan di sini kan dukung... sedangkan kita nggak berwenang kasih dukungan yang semacam ke yang agak-agak resmi pakai tanda tangan, enggak. Kita moril. Moril sekaligus kita kan yang namanya mau gerak itu mesti ada yang namanya keyakinan,” paparnya panjang lebar, banyak jeda, zig zag.

Bagaimana dia bisa pergi jauh-jauh ke Jakarta tanpa tahu memprotes apa? Ini adalah aksi besar dan dia tidak tahu alasannya.

Saya lanjut ke pertanyaan kedua, mengenai pidato Ahok yang mengutip ayat suci. Saya ingin tahu bagian mana dari penyataan itu yang menyinggung perasaannya. Namun jawabannya pun tidak menjelaskan apa-apa.

 “Sementara kan kita orang kampung, walaupun berani datang ke Jakarta. Ya.. keyakinan saja”

“Menurut bapak...” pertanyaan saya terpotong.

“Nggak nggak nggak nggak nggak perlu kita ekspos lah kita sudah tahu Ahok,” tegasnya.

“Bapak tersinggung sama pernyataan dia?”

“Ya kita kan bareng bareng orang banyak. Jadi nggak bisa, kalau saya (dibilang) tersinggung saya nggak bisa. Kita kan orang banyak. Keyakinan tadi itu loh.”

Saya kemudian berpikir jangan-jangan orang ini belum menonton videonya. Sebab, jangan sampai dia marah-marah kepada hal yang tidak dia ketahui. Kemudian saya tanyakan pada dia.

“Bapak sendiri sudah lihat videonya pas Ahok ngomong itu, yang ngutip Al-Maidah 51?”

 “Ya dikit-dikit,” jawabnya singkat.

“Bapak pas lihat videonya gimana tuh pak?”

“Ya kita kan... kayak kayak gitu... pokoknya gini aja, kita keyakinan sama saudara.”

Saya tidak perlu melanjutkan wawancara lebih jauh lagi. Saya hanya menambah beberapa pertanyaan mengenai jadwal kepulangan dan identitas dia. Sebab, sesederhana apapun pertanyaan yang saya lontarkan, dia tidak pernah menjelaskan apa-apa.

Jangankan menjelaskan persepsinya mengenai penistaan agama, menonton videonya pun saya ragu dia sudah melakukannya. Dia juga enggan menjelaskan soal apakah bus yang dia pakai disewa dengan uang kas organisasi atau apa.

Akhirnya saya menjabat tangan pak Mahfud sambil berlalu pergi.

Tidak, saya tidak mengatakan semua pendemo Ahok seperti bapak Mahfud ini –pasti ada sejumlah orang yang bisa menjelaskan panjang lebar dugaan penistaan agama oleh Ahok termasuk aspek hukumnya.

Namun demikian, bapak Mahfud ini adalah satu contoh bahwa ketidaktahuan seringkali dimanfaatkan oleh orang-orang picik yang membajak Tuhan. Pada akhirnya saya hanya bisa berkesimpulan bahwa kebencian telah membutakan hati dan pikiran. Dan, ketidaktahuan bersama kebencian adalah virus paling berbahaya bagi kebhinnekaan. Ingat: benci boleh, bodoh jangan.