1 tahun lalu · 143 view · 4 min baca menit baca · Politik 54376_22646.jpg
Sumber Foto: https://pixabay.com

Saya Mencoblos karena Uang

Sebelumnya saya ingatkan, tulisan ini mungkin kurang cocok bagi pembaca yang sok idealis.

Perkenalkan saya seorang bujang berusia 25 tahun dan bekerja sebagai OB. Sebagai seorang OB yang masih dalam masa percobaan kerja, saya digaji 1,5 juta. Ya, saya anggap cukuplah untuk sekadar ngopi dan menyisihkan untuk uang belanja Ibu saya.

Niat saya untuk melanjutkan pendidikan saya singkirkan dahulu, terdengar muluk. Saya pikir mustahil untuk menyisihkan lagi gaji saya yang nominalnya tidak terlalu besar tersebut untuk melanjutkan pendidikan kuliah.

Sistem pembayaran UKT dan biaya semesteran yang cukup tinggi membuat saya berpikir ulang untuk melanjutkan kuliah. Untuk sekadar menikmati malam minggu di warung kopi, yang tidak sampai mengeluarkan biaya sepuluh ribu saja, saya masih sering dibayari teman, apalagi kuliah?

Beberapa hari lalu ada secercah harapan bagi saya untuk sedikit menambah uang jajan saya. Pemilihan serentak berlangsung.

Terus terang saya ingin mendapat “serangan fajar” seperti yang sering digadang banyak orang akan datang menjelang hari pencoblosan. Sepuluh, dua puluh, atau mungkin lima puluh ribu, saya siap menerimanya dengan rasa syukur.


Tolong jangan menghakimi saya dengan keinginan ini. saya hanya berpikir praktis di Negara yang tidak praktis ini. Bagi kalian yang menganggap saya sebagai warga Negara yang tidak memiliki pemikiran maju, ya terserah Anda. Semua orang bebas menilai, dan netizen maha benar dengan segala kuasa jarinya.

Mungkin kalian bisa memiliki idealisme tinggi, setinggi tembok kampus. Tapi, saya hanya mengharap selembar uang yang bisa menambah uang bensin saya.

Hari pencoblosan tiba, dan ternyata apa yang saya harapkan nihil. Menjelang menit-menit pencoblosan, tidak ada orang yang menghampiri rumah saya untuk mengarahkan pilihan saya dan memberi sejumlah uang. Kecewa betul rasanya. 

Padahal saya sudah terlihat rapi untuk berangkat ke TPS. Baju seragam OB sudah saya semprot dengan minyak wangi. Saya berniat mampir dahulu ke TPS untuk mencoblos, karena tempat saya bekerja memberi keringanan (bukan libur) untuk datang terlambat agar saya bisa menyalurkan hak pilih saya.

Jujur, sebenarnya saya malas untuk datang ke TPS. Apalagi saya tidak diberi libur dan tidak mendapat “serangan fajar”. Toh, berulang kali saya mengikuti ajang yang dibilang pesta demokrasi, tapi dampaknya tidak saya rasakan.

Tetangga saya yang berprofesi sebagai penjual kue keliling dan mempunyai anak down syndrome, tetap tidak bisa menyekolahkan anaknya. Jalan yang saya lalui setiap hari untuk mengantar ibu saya ke pasar juga masih berlubang. Dan kekonsistenan ruwet lainya di sekeliling saya.

Saya berdalih kepada ibu saya dengan alasan takut telat berangkat kerja. Padahal lokasi kerja saya tak lebih dari lima belas menit perjalanan dengan sepeda motor dan saya mendapat keringanan dari kantor. 

Tapi ibu saya ini bisa dikategorikan sebagai warga Negara yang baik. Apa pun yang menjadi tanggung jawab sebagai warga Negara dia lakukan dengan sepenuh hati. 

Pajak dibayarnya tepat waktu; sosialisasi dari pemerintah untuk membersihkan kamar mandi dari jentik nyamuk, dia laksanakan; kegiatan kerja bakti, beliau tidak pernah absen mengirim pisang goreng dan seceret kopi bagi bapak-bapak yang ikut kerja bakti.

Singkatnya, ibu saya memaksa saya untuk tetap hadir ke TPS. Karena paksaan ibu, saya akhirnya hadir juga.


Hampir semua yang hadir menggunakan setelan batik dan celana kain untuk bapak-bapak dan ibu-ibunya. Semua cukup terlihat rapi dengan setelan kondangan starter pack. Sementara kawula mudanya hampir terlihat seragam dengan setelan baju yang biasa dikenakan ketika berada di pusat-pusat perbelanjaan.

Setelah mengumpulkan kertas undangan pemilih terdaftar kepada panitia pemilihan dan menunggu 15 menit, akhirnya saya dipanggil untuk mencoblos. Saya tidak tahu calon kepala daerah mana yang akan saya pilih. Semuanya tampak seragam dalam foto itu.

Calon laki-lakinya semuanya mengenakan peci, baju putih, dan senyum tersungging. Sementara perempuannya mengenakan hijab, riasan wajah tebal, dan tersenyum pula.

Saya buta dengan politik di Negara ini. Tidak ada informasi apa pun yang saya tangkap dari para calon pemimpin daerah ini. Acara TV yang menyiarkan debat politik begitu menjenuhkan. Saya lebih memilih menonton kartun spongebob.

Kata-kata yang terlontar dari para calon pemimpin daerah ketika debat tidak saya pahami betul. Saya merasa takjub ketika sepintas melihat acara debat tersebut. Hampir semua para pendukung calon pemimpin tersebut bersorak ketika mereka mendengar apa pun yang dikaitkan junjungannya seperti UMKM, RAPBD, Sektor Agraria, dan sederatan istilah yang terdengar asing di telinga saya. Singkat kata, para pendukung tersebut sangat paham politik daripada saya.

Dua foto calon pemimpin daerah beserta pasangannya terpampang di depan mata saya, dan saya bingung. Hampir sepuluh menit saya berdiri di depan bilik saya.

Ah, tapi saya sadar, siapa pun calonnya, mungkin, tidak banyak perubahan yang terjadi; tetangga saya, mungkin, kelak tetap kesulitan menyekolahkan anaknya; jalan menuju ke pasar yang saya lalui, mungkin, akan tetap seperti itu beberapa tahun ke depan; dan, mungkin, semuanya akan tetap seperti ini.

Tapi, seketika itu juga saya ingat tujuan saya hadir ke TPS: agar ibu saya senang, dengan menunjukkan jari kelingking saya sudah ternoda dengan tinta biru. Lagi pula saya tidak bisa berlama-lama dalam bilik, karena saya harus berangkat bekerja. Maklum, masih dalam masa training kerja.


Artikel Terkait