86199_40109.jpg
http://muziburrahmanmbojo.blogspot.co.id
Pendidikan · 6 menit baca

Saya Memboikot Kongres HMI

Kader yang waras tidak mungkin mau seorang pembohong, mafia proposal, penjual organisasi, dan antek-antek partai menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam. Kader HMI yang tuntas perkaderannya, mampu menangkap semangat asas Himpunan, pasti menolak bila dipimpin pribadi yang jauh dari sosok berkualitas insan cita.

Kongres HMI XXX rencananya diselenggarakan di Kota Ambon pada tahun 2018. Kita tidak tahu wajah kongres macam apa yang bakal nampak. Yang jelas, jika kongresnya sama seperti sebelum-sebelumnya, maka dapat kita pastikan Ketua Umum macam apa yang dilahirkan. Sungguh kongres yang demikian tidak menghasilkan apa-apa kecuali dagelan politik ala kaum bar-bar.

Naskah kongres HMI XXIX di Pekanbaru tahun 2015, tepatnya pada halaman 120, menegaskan Himpunan ini tujuannya adalah menegakkan nilai-nilai Islam. Islam yang dimaksud adalah ajaran yang identik dengan fitrah. Fitrah dalam HMI dimaknai sebagai barang berharga yang bersemayam dalam diri manusia, yaitu kecenderungan berbuat baik, benar, suci, dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi.

Semua orang yang melek berita pasti tahu, kongres HMI yang sudah-sudah selalu diwarnai aksi kerusuhan dan perbuatan komunal yang tidak layak dicontoh. Para kandidat pun terkadang bak mafia mabuk yang menghalalkan segala cara untuk memenangkan konstelasi. Mereka menjadi budak nafsu dan seorang Machiavellian ulung.

Ada kandidat yang bersekutu dengan pejabat kotor, menawarkan janji-janji politik, lalu mengantongi uang untuk maju dengan membeli suara dari ketua-ketua cabang yang terancam tidak bisa pulang karena tidak mampu membeli tiket. Saat situasi serba terpaksa, memilih Ketua bukan berdasarkan ide dan gagasan terbaik yang ditawarkan, tapi Kandidat mana yang sanggup memberi uang.

Semua kader HMI mencintai HMI. Tapi tidak semua kader menyukai kongres HMI, karena kongres yang selama ini dijumpai kader hanya peristiwa rusuh, baku hantam kekanak-kanakan, menyusahkan masyarakat setempat, dan ajang adu bacot tidak bermutu. Hanya gontok-gontokan, kuat-kuatan urat leher. Retorika dan pidato sering kali lebih mirip gonggongan kebohongan daripada dialektika intelektual.

Apakah kongres semacam itu layak dilanjutkan? Sebagai organisasi yang bertujuan mendidik kadernya agar berkualitas akademik dan intelektual, mengapa panggung pertarungan isinya hanya vandalisme dan bukannya ajang penawaran ide-ide pembaruan? Bila kongres HMI selalu tampil primitif dan ndeso, argumentasi apa lagi yang ditawarkan untuk mempertahankan kongres macam itu.

Mengapa organisasi yang menjunjung tinggi intelektualitas dan keislaman mesti mempertahankan kongres yang isinya hanya badut-badut politik, yang tiap dua tahun sekali diadakan, hanya mampu melahirkan Ketua Umum yang biasa saja? Pemimpin yang muncul bisanya cuma membual di depan wartawan dan budak pengejar popularitas, tapi mandul dalam menelurkan ide-ide segar pembaruan.

Dalam arena kongres, kandidat (bersama tim pemenangannya) yang jago bohong, mahir mengumbar janji, nyaring menggonggong, lihai dalam memoles citra dan rajin menebar hoaks, sudah ada semua selama ini. Tapi kandidat yang menawarkan ide cemerlang, sosok intelektualis, mempunyai karya buku, pejuang hak rakyat tertindas, dan murni bertarung dengan menjual solusi hampir tidak ada.

Daripada kongres menghabiskan dana milaran rupiah, entah dari APBD, uang senior atau hasil dari deal-deal politik antara panitia dengan kepala daerah, dan hanya menimbulkan keresahan masyarakat karena tidak pernah lepas dari kerusuhan merusak ala kaum bar-bar, lebih baik kongres HMI tidak pernah ada sama sekali.

Secara pikiran politik, mengerahkan massa ribuan orang siap rusuh, menebar hoaks untuk menjatuhkan citra lawan, mengintimidasi secara fisik dan mengulur waktu kongres supaya lawan yang modalnya tipis mengalami demoralisasi karena timnya mulai kelaparan, sah-sah saja. Sah bagi seorang megalomania dan kandidat yang lebih cocok jadi pasien rumah sakit jiwa ketimbang Ketua Umum PB HMI.

Dalam HMI, kongres adalah forum tertinggi untuk memfasilitasi pergantian pemimpin secara islami, bukan ajang memilih mafia organisasi. Kongres ialah musyawarah mencari pribadi kualitas insan cita, bukan preman tukang rusuh. Kalau seorang isi otaknya tidak ada ide baru yang konstruktif, dan daripada ke depan hanya menjadi pemerkosa organisasi, ya tidak usah mencalonkan diri.

Kalau Anda tidak bisa memperbaiki, minimal jangan merusak. Kalau Anda tidak menawarkan apa-apa, minimal jangan mengambil apa-apa. Kalau tingkah Anda hanya menciptakan masalah, lebih baik Anda diam. Kalau keberadaan Anda menambah kerumitan masalah, lebih baik Anda minggir dan jangan pernah maju. Kalau Anda ingin menjadi penipu, menipulah di tempat yang busuk, jangan di HMI.

Sebagai instruktur di Himpunan Mahasiswa Islam, saya mendambakan kongres yang tidak boros anggaran. Kongres yang seleksi kandidatnya tidak asal-asalan, yang mengutamakan otak ketimbang otot, dan kandidat yang lolos seleksi haruslah yang mempunyai karya nyata di bidang intelektual. Minimal dia harus memiliki karya tulis buku atau ilmiah, bukan pandai mengumbar janji belaka.

Saya membayangkan kongres HMI mirip para pendiri negara yang berdebat dalam majelis permusyawaratan, yang isi forumnya adalah penawaran ide dan teori. Karena Himpunan banyak masalah, maka kongres harusnya menjadi mimbar para kandidat yang berlomba-lomba menawarkan solusi. Bukan malah arena ring tinju, yang masing-masing pihak baku hantam saling menyakiti satu sama lain.

Dengan waktu kongres yang terkadang lebih dari sebulan, saya mendambakan masing-masing kandidat membedah buku karya orisinil masing-masing. Setiap calon memaparkan idenya, mengulas gagasan dan meyakinkan pemilih dengan solusi nyata bagi HMI, umat dan bangsa. Dengan begitu, tiap delegasi cabang memilih bukan karena uang, tapi berdasarkan gagasan terbaik.

Peserta kongres dan utusan yang memiliki hak bicara, memeras otak bukan demi mencari uang untuk membeli tiket pulang, tapi berpikir keras melontarkan pertanyaan untuk mempertajam gagasan yang disampaikan para kandidat. Kalau yang menjadi fokus pemilih adalah ide yang ditawarkan (bukan uang), maka bekal yang dibawa bukan usaha lobi-lobi, tapi buku dan pertanyaan intelektual.

Apakah bisa pemilihan Ketua Umum PB HMI lepas dari uang dan uang? Lalu delegasi tiap cabang dari seluruh Indonesia mendapat tiket, makan dan akomodasi dari mana? Ya, bisa dari hasil iuran rutin anggota, kegiatan wirausaha cabang, alumni atau simpatisan yang ikhlas membantu, atau pemerintah daerah setempat. Tentunya bantuan tersebut tidak boleh merenggut independensi ketua terpilih.

Faktanya, tiap pelaksanaan kongres ada dana milaran dikucurkan. Entah bantuan dari pemerintah, DPRD setempat atau pejabat yang berkepentingan. Kalau saja ‘’rombongan liar’’ dihadang untuk tidak datang, dan forum kongres murni hanya diisi delegasi resmi dari cabang-cabang, biaya yang kebanyakan habis untuk tiket, konsumsi dan penginapan, dapat ditekan seminimal mungkin.

Dengan alasan apa pun, entah niatnya hanya ingin meramaikan kongres sekalipun, orang yang bukan delegasi jangan dibiarkan masuk ke lokasi kongres. Terlebih bila kehadiran mereka jelas-jelas sengaja digunakan untuk alat penekan, sebagai pasukan tukang rusuh atau barisan pengacau. Kehadiran mereka harus ditolak, karena sesungguhnya sudah diwakili oleh utusan cabang masing-masing.

Kongres bukan ajang heboh dan ramai-ramai, tapi forum musyawarah intelek, pasar gagasan, penuh persaudaraan dan solutif demi terpilihnya Ketua Umum PB HMI yang islami serta progresif. Kongres Himpunan jangan meniru Munas Partai Politik, karena HMI seharusnya bukan tempat para politisi haus kekuasaan. HMI bukan sarang megalomania, tapi kawah candradimuka bagi kader bangsa.

Kongres yang dibiayai dari hasil uang masyarakat, entah yang didapat dari APBD, bantuan bupati atau Kementerian Pemuda dan Olahraga, tidak layak dikotori dengan insiden-insiden tolol nan primitif. Uang rakyat haram hukumnya dialokasikan untuk acara yang dipenuhi komedian bertopeng mahasiswa. Terlebih bila ludruknya berlomba-lomba menawarkan lelucon dan gurauan penuh dusta.

Kalau mahasiswa sudah lihai bohong dan mempraktikkan perilaku mafioso, bagaimana kalau sudah menjadi pejabat negara? Mahasiswa macam itu pasti bakal menjadi yang terdepan dalam menjual negara dan menguras anggaran bila kelak memimpin negeri. Daripada kongres hanya bakal mencetak calon pemimpin garong uang negara, lebih baik ajang seperti itu jangan diselenggarakan.

Kritik keras atas kongres HMI tidak hanya soal rombongan liar yang merusuh, tapi lebih kepada manfaat, efektivitas dan nilai guna yang dihasilkan. Kalau hanya musyawarah memilih ketua, tidak perlu habis milaran rupiah. Kalau memang kongres itu forum untuk memilih pemimpin terbaik, kenapa cara kotor dan aksi desktruktif digunakan? Pemimpin macam apa yang lahir dari merusuh?

Kalau ke depan HMI tidak mampu menyelenggarakan kongres yang pancasilais, menghormati ketentraman masyarakat kota setempat, hemat, damai, penuh kerukunan, bernuansa intelektual, dewasa dan benar-benar mengedepankan kualitas ide kandidat, maka harus ada kader HMI yang berani menolak dan memboikot kongres sampah semacam itu.

Menggunakan uang rakyat, boros anggaran, merusuh, merusak, tidak intelek, bar-bar, menyisakan sampah dan kerusakan, dipenuhi badut dan pasukan nasi bungkus, lalu menghasilkan Ketua Umum yang biasa saja, mengapa kongres sia-sia begitu mesti dipertahankan? Bagi pikiran waras, lebih baik hapuskan saja kongres sakit semacam itu. Kalaupun dipaksakan kongres tetap ada, mari boikot bareng-bareng.