Akhrinya saya memilih Juventus sebagai pemenang Liga Champions tahun ini. sebuah pilihan yang diambil setelah seminggu terakhir memetakan potensi dan runutan sejarah kedua tim yg akan adu kekuatan. Selain itu, saya juga memperhatikan bisikan-bisikan ghaib (semacam kekuatan yg tidak bisa dilihat, gitu sederhananya) 

Jujur, tidak memilih Madrid itu hal yang sangat berat. Bahkan bila tidak tuntas penjelasannya bisa-bisa dituduh anti Islam dan penista agama. Terlebih di Madrid pelatih dan ada pemainnya beragama islam. 

Dalam setahun ini, Juventus telah menjadi kekuatan yg menakutkan. Si "Nyonya Tua" keluar sebaga juara Liga dan juara coppa Italia musim ini. Selain itu, hanya 3 kali kebobolan di liga champions. Statistik yg sungguh impresif. 

Madrid di pentas domestik, harus bersusah payah merebut trofi Liga Spanyol, kepastian juaranya-pun baru bisa dipastikan di menit akhir. Selain itu, di liga champions musim ini, Madrid telah kebobolan 12 kali. 

Dalam kesejarahannya, anak-anak Italia lebih punya daya juang yang tinggi ketimbang Spanyol. Kekaisaran Romawi yg awal pendirannya di Italia tengah telah menjadi bukti sejarah tentang daya juang dan kemampuan bertahan yg cukup mumpuni. 

Perang Romawi vs Persia merupakan perang terpanjang dalam sejarah dunia. Perang selama 5 Abad. Meski tidak tidak ada pemenang, tapi Romawi tidak pernah ditaklukan karena pertahanan yg cukup apik. Ya, itu yg mengilhami Juventus kata ahli sejarah. 

Maka wajarlah Juventus menjadi simbol kebesaran kaum bangsawan Italia, sekaligus menjadi penegasan tentang kebesaran Imperium Romawi. 

Kemampuan menyerang dan bertahan telah membuat kekuasaan Kekaisaran Romawi membentang luas di daratan eropa barat, tengah, dan Asia Barat (Negara-negara Arab). Pun peradaban di wilayah spanyol itu merupakan sisa kebesaran Imperium Romawi. 

Catatan sejarah yg sempat membuat saya ragu dengan daya juang Italia, yakni pada perang dunia ke II. Pertahanan begitu ringkih, dan ketidakbecusan pemimpinnya telah membuat negara ini tak berdaya mendapat gempuran Sekutu. Sekali serangan balik langsung menyerah. 

Namun, itu masih lebih baik bila dibandingkan Spanyol. Spanyol sudah hancur sebelum perang dunia ke II, hanya karena konflik internal. Perang saudara di spanyol merupakan konflik internal paling brutal di daratan Eropa jelang Perang Dunia. Satu juta jiwa melayang karena urusan idiologi: Republik vs Fasis vs komunis. 

Mungkin sudah bawaan sejarahnya, konflik internal yang berujung pada ego pemain merupakan problem pokok klub- klub dari semenanjung Iberia. 

Selain itu, dalam urusan pertahanan, anak-anak Spanyol juga sangat lemah. Lihat saja serangan pasukan Thariq bin Ziyad yang hanya bermodalkan onta yg haus dan sakit-sakitan telah membuat spanyol takluk, dan negara-negara di semenajung Iberia terjajah selama kurang lebih 500 tahun. 

Kutukan ketidakkompakan dan pertahanan yang lemah itu akan menjadi titik lemah Madrid dalam perebutan liga champions tahun ini. 

Dalam urusan spanyol, saya hanya terkagum-kagum pada Barcelona. Klub sepakbola yg lahir dari sejarah panjang kaum catalan dalam menuntut kemerdekaan. Sayangnya, klub catalan itu sudah tersingkir duluan. Sedih hatiku mengenangnya.

Dan pada akhirnya, dengan penuh seksama, saya memilih Juventus sebagai pemenang. 2-1 tuk kemenangan Juventus. Demkian penjelasan panjangnya. Semoga, pilihan pada Juve tdk kemudian dianggap saya anti Islam.