Qureta mampir secara tidak sengaja dalam hidupku; di tengah-tengah pandemi dan tiba-tiba muncul dalam salah satu WA Grup. Link tulisan yang kubaca ternyata memesona untuk kutelusuri lebih lanjut.

Aku bukanlah jurnalis atau penulis hebat dengan kosa kata yang memikat. Aku hanya lelaki biasa yang ingin mengurai kerisauan dalam hati, karena berbicara sudah mempan lagi. 

Mungkin dengan mengetik, sedikit duka, lara, risau, kacau, balau, dan ruwetnya benang kusut dalam hati bisa terurai. Mungkin juga ini bukan media yang tepat, karena isi cerita amat picisan, tidak layak. Tapi tidak apalah, namanya juga menghibur diri

Untuk memulai, sepertinya aku kesulitan menentukan topik dalam media ini. Topik yang ada hanya topik perempuan, tidak ada topik laki-laki. 

Menjadi lelaki biasa dalam dunia ini gampang-gampang susah. Stigma bahwa para lelaki harus selalu melindungi, selalu menjadi pemimpin, selalu lebih hebat dari perempuan, menjadi halangan yang begitu besar bagi para lelaki hanya untuk sekadar curhat.

Para lelaki seperti sudah hidup pada kodratnya, yang harus banting tulang, banting setir, atau banting piring ketika hidup sudah berantakan. Lelaki biasa seperti tidak punya tempat untuk curhat, karena curhat adalah hal yang cemen . Sekali curhat dan bertangis ria, maka cap cengeng akan langsung melekat. 

Anda para lelaki harus kelihatan hebat, setrong, gagah perkasa, walaupun dalam hati, isinya bonyok semua. Layaknya irisan bawang segar yang disiram minyak panas untuk menjadi sambal matah. Letoy dan loyo.

Aku, lelaki biasa yang dituntut harus punya jawaban atas semua masalah. Harus sigap, tidak boleh memble. Harus siap tidak boleh lelet. Harus tegar tidak boleh cengeng. 

Tapi apakah yang kami makan itu besi, bukannya nasi? Atau apakah yang kami minum itu air raksa, bukannya air mineral? Ah,. tapi tidak boleh pakai kata 'kami', nanti di luar banyak yang marah. 

Aku, lelaki biasa yang berharap boleh berkeluh kesah. Berharap bisa cengeng. Berharap bisa berhenti, duduk dan dikasihani. Haizz, alangkah rendahnya aku bila dibanding lelaki yang lain.

Aku yang tetap harus peduli dengan ke-aku-anku, harus tetap waras dan sadar, bahwa aku harus menjadi pemimpin duniaku. Apakah aku bisa? Aku juga tak tahu, tapi dunia di sana menuntutku harus bisa. Aku lelah.

Aku, lelaki biasa yang sudah kehabisan kata-kata untuk menghujat diri sendiri. Bahkan syarat minimum tujuh ratus kata, baru terpenuhi setengahnya. 

Apakah hujatanku kurang banyak? Apakah masih kurang hinaan terhadap lelaki biasa ini? Lelaki biasa yang sudah ingin menyerah karena terlampau lelah.

Aku, lelaki biasa yang hampir tiap hari berkoar-koar. Tiap hari berteriak: "Ayo semangat! Semangat! Jangan pernah menyerah! Anda pasti bisa!"

Haiz, sepertinya teriakan itu hanya retorika semata. Retorika untuk menutupi ruang-ruang kosong dalam hati yang sudah busuk atau digerogoti oleh... Ah, entah apalah itu.

Aku, lelaki biasa yang hanya mencoba untuk tetap setia, berjalan di jalan yang digariskan. Berjalan di sisi yang diharapkan. Berjalan di langit yang ditakdirkan dan berjalan di gelap yang dikondisikan.

Aku hanya tetap berjalan. Ke mana jalan itu akan membawaku, aku sudah tidak peduli akan hal itu. Suka-sukalah seperti yang sering kujawab akhir-akhir ini. 

Aku, lelaki biasa yang berharap bertemu dengan lelaki biasa lain di luar sana. Mungkin kita bisa nangis berdua, nangis bertiga, nangis bergerombol (maaf, dengan jarak tentunya).

Mungkin kita bisa cengeng berdua, bertiga atau berpaduan cengeng layaknya orkestra. Sehingga kecengengan kita menjadi harmoni yang indah layaknya kelompok-kelompok lain yang sudah biasa.

Aku, lelaki biasa hanya menutup kata. Sampai jumpa di kata-kata berikutnya. Berharap keluh kesah ini memang layak dijadikan cerita (ditolak 3 kali sudah).

Mungkin nun jauh di sana akan menjadi cerita yang memberikan kekuatan bagi para lelaki biasa lainnya. Ah, kalau saja ada lelaki lain itu.

Baca Juga: Lelaki Kertas

Aku, lelaki biasa, tidak tahu cara bertutur kata. Semoga jari-jari dan pikiran yang bergerak dalam waktu singkat ini, bisa meringankan hati yang sedang bimbang. Semoga menjadi obat yang indah dan vitamin tambahan bagi lelaki biasa lainnya.

Terakhir, aku, lelaki biasa berharap deretan huruf-huruf ini pas tujuh ratus kata. Entah bermakna, entah tidak bermakna. Bagiku, yang lelaki biasa, aku sudah tulis apa mauku.

Entahlah dengan apa maumu? Aku tidak tahu dan juga tidak ingin tahu.

Catatan (supaya pas tujuh ratus kata): Terima kasih, editor, yang sudah baca minimal tiga kali (karena ditolak tiga kali). Paling tidak sudah tiga kali dibaca. 

Terima kasih. Aku akan tetap kirim untuk ke-4 kalinya. Entah berakhir di draft atau di publish . Kalau berakhir di publish, catatan ini disertakan ya, karena bagian dari cerita. Kalau berakhir di draft, terima kasih sudah dibaca 4 kali.