Penikmat Sejarah
1 bulan lalu · 131 view · 4 menit baca · Politik 92654_88141.jpg
detik.com

Saya Golput!

Golput seringkali dianggap sebagai sikap apolitis, yang kurang baik bagi iklim demokrasi suatu bangsa. Karena itu, masyarakat didorong untuk menggunakan hak suaranya, agar angka golput bisa diminimalisir. Akan tetapi, pikiran untuk golput mungkin hinggap pada banyak orang ketika suasana politik nampak terpolarisasi seperti sekarang ini.

Golput atau golongan putih memang istilah yang populer terutama pada zaman orde baru, ketika masyarakat hanya bisa memilih kuning, merah, dan hijau. Sementara pihak yang menang selalu sudah tertebak. Jadi untuk apa memilih jika pemenangnya sudah diketahui? Karena itulah ada golongan putih yang tidak ikut memilih.

Sehingga, golput dalam konteks sekarang mungkin kurang relevan jika dibandingkan dulu. Sekarang kompetisi begitu sengit, bahkan kadang tak tertebak, mana yang terpilih. Semua melalui proses politik yang teramat keras di lapangan.

Pada zaman orde baru, golput adalah sikap politik. Ada sikap yang ingin ditunjukkan : tidak percaya dengan proses demokrasi yang dijalankan pemerintah, serta bertujuan menggerus legitimasi pemerintah sebab lebih banyak yang tidak memilihnya.

Bayangkan, andai partisipasi publik dalam pemilu kurang dari 50%. Lantas kemana suara lebih dari 50%? Karena itu, siapapun yang akhirnya menjadi pemimpin, legitimasinya di hadapan publik kurang begitu kuat sebab dipilih kurang dari separuh jumlah pemilih yang terdaftar.

Golput sekarang ini, mungkin tumbuh seiring makin terpolanya dukungan pada dua kubu. Padahal pemilu 2019 tidak hanya memilih presiden dan wakil presiden, namun juga DPD RI, DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kab/kota. Akan tetapi tensi dukungan ke capres cawapres begitu kuat.

Polarisasi sekaligus fanatisme pendukung yang membabi buta membuat orang enggan menjadi bagian dari salah satunya. Apalagi dengan label "cebong" dan "kampret" yang melekat. Orang semakin jengah dan memilih golput saja.

Padahal golput dan suara tidak sah adalah dua hal yang sebenarnya sama. Misal seseorang memilih golput dengan tidak datang ke TPS, tidak ikut mencoblos. Sama dengan mereka yang datang dan mencoblos semua calon sehingga suara tidak sah.

Bedanya, golput yang tidak hadir ke TPS, surat suaranya tetap baru dan tersimpan rapi. Meski kita khawatir, akankah surat suara yang jadi jatah kita, yang tidak kita ambil itu, akan tetap tersimpan rapi atau justru dimanfaatkan oknum-oknum yang hendak berbuat curang?

Ada juga yang golput, namun tidak total. Misalnya, ia golput dalam mencoblos presiden, namun mencoblos calon DPR dan DPD. Begitu pun sebaliknya, orang ke TPS hanya memilih capres cawapres dan tidak memilih yang lain, sebab tidak mau ribet karena banyaknya nama calon DPR yang tertera.

Memang ada yang golput total, ada yang golput sebagian. Selain itu, jangan dikira yang datang ke TPS tidak selalu golput. Bisa jadi "golput" karena keliru menggunakan hak suaranya. Tak sedikit kita jumpai surat suara tidak sah, entah karena terlalu banyak yang dicoblos atau lainnya, yang mungkin kesalahan teknis atau kurangnya pengetahuan seputar tata cara mencoblos.

Demi agar masyarakat menggunakan hak suaranya, hari pemungutan suara pun dijadikan hari libur. Agar para pekerja punya waktu untuk memilih, dan tidak golput karena terkendala pekerjaan.

Memang, semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu, politik semakin berdaulat, dan legitimasi kepemimpinan dari level daerah maupun pusat juga semakin kuat. Karenanya penyelenggara pemilu semaksimal mungkin berupaya agar masyarakat menggunakan hak pilihnya. Selain melalui instrument yang ada seperti PPK dan PPS, juga dibentuk relawan demokrasi.

Lantas bagaimana dengan mereka yang sudah jengah dengan "cebong" dan "kampret" yang memberikan dukungan dengan membabi buta? Karena saking fanatiknya sering keluar statemen-statemen lucu nan unik yang membuat kita makin tidak bersimpati?

Tentu itu bukan urusan penyelenggara pemilu. Itu adalah hasil improvisasi dan taktik tim kampanye masing-masing. Banyak hal dilakukan dan dimainkan untuk meraup simpati publik agar publik memilih calon yang diperjuangkan.

Padahal bisa jadi sebaliknya, publik justru tambah malas, muak, bosan, dan akhirnya tidak memilih. Padahal penyelenggara pemilu sudah berjuang keras dan bersusah payah agar masyarakat menggunakan hak pilihnya.

Penyelenggara pemilu menyatakan bahwa calon yang ada adalah putra dan putri terbaik bangsa, sehingga memilih yang manapun, tidak jadi soal sebab sudah melalui proses seleksi dari penyelenggara.

Tim kampanye tidak mungkin begitu. Mereka tetap mengunggulkan calon yang diperjuangkan. Itu tidak keliru. Namun tak jarang, disamping mengunggulkan calon yang diperjuangkan, juga menjatuhkan pesaingnya. Dengan harapan pesaingnya punya citra buruk dan publik akan beralih memilih calon yang mereka kampanyekan.

Kritik memang baik, namun kritik dari orang-orang yang juga memiliki ambisi tidak perlu didengar secara serius. Kritik dari ilmuwan, apalagi yang pakar dalam bidangnya lah yang patut didengarkan. Semoga makin banyak ilmuwan yang independen. Sebab itulah harapan satu-satunya, yang secara jernih membantu kita untuk memutuskan mana calon yang layak dicoblos, atau membantu kita untuk menetukam sikap apakah mencoblos atau tidak.

Kalau semua sudah ikut dukung-mendukung seperti tim kampanye, maka ruang kritis itu makin menyempit. Bahkan akhir-akhir ini alumni perguruan tinggi pun juga ikut serta memberikan dukungan, jangan-jangan mahasiswa juga? Semoga tidak.

Pada titik ini, kita perlu golput. Dalam arti golput untuk ikut dukung mendukung, golput untuk ikut-ikutan fanatik, golput untuk ikut berkampanye. Kita perlu golput agar bisa duduk santai dan secara jernih melihat sengkarut perdebatan dan trik kampanye masing-masing tim.

Golput dalam mendukung, berbeda dengan golput mencoblos. Mereka yang belum menentukan pilihan politik, dan tidak menentukan dukungan politik, bisa disebut golput dalam konteks memberikan dukungan.

Meski tidak menentukan dukungan politik, belum tentu tidak memilih dan mencoblos. Meski mungkin ada yang golput secara total. Tidak mendukung dan tidak mencoblos. Namun masih ada waktu dua bulan lebih untuk berpikir dan menimang-nimang.

Semoga pemilu 2019 berlangsung aman dan damai, sebab 2024 nanti bisa menjadi momentum emas perpolitik Indonesia, jika pemilu 2019 ini berlangsung kondusif. []