Mahasiswa
11 bulan lalu · 154 view · 3 min baca · Agama 74441_49599.jpg
Dok. Pribadi

Saya Dikafirkan, Apakah Lantas Menjadi Kafir?

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti acara Peace Train Indonesia yang ke-6. Peace Train ini merupakan salah satu program traveling lintas-iman dengan menggunakan kereta api, menuju suatu kota yang telah ditentukan.

Acara ini diikuti oleh peserta dari berbagai agama dan kepercayaan, berjalan bersama mengunjungi komunitas agama-agama, komunitas penggerak perdamaian, rumah-rumah ibadah. Belajar bersama tentang keragaman bangsa Indonesia, belajar menghargai dan menghormati perbedaan yang sudah menjadi kesepakatan bersama, menyuarakan perdamaian dalam rangka memperkuat persatuan.

Saya mengunggah salah satu video ketika saya masuk Gereja Katolik di story' WhatsApp dan Instagram. Saya, yang statusnya sebagai Santri Mahasiswa dan ormasnya Nahdlatul Ulama walaupun NU-nya kultural, tidak sedikit mendapatkan kecaman keras dari teman-teman, bahkan sampai pada guru dan dosen. 

Saya sebenarnya tidak menganggap itu sebagai kecaman yang tidak baik. Justru itu sebagai peringatan buat saya bahwa memang harus berhati-hati ketika hendak masuk ke dalam rumah ibadah agama lain. Dan itu wajar-wajar saja.

Ada banyak sekali teman-teman yang memberikan tanggapan tentang video yang saya unggah beberapa hari yang lalu. Bahkan sampai pada tanggapan yang sangat ekstrem sekali. Mereka dengan tanpa berpikir panjang dan klarifikasi menganggap saya sebagai orang yang pindah keyakinan atau kafir dalam istilah umumnya.


Ada kecemasan yang terlalu berlebihan di antara mereka yang menganggap saya mencampur-adukkan keyakinan. Lantas apakah saya merasa terganggu dengan semua itu? Tentu saja tidak, karena pada sejatinya ketidaktahuan memang akan banyak menimbulkan kecurigaan.

Begitu juga dengan saya dulu, ketika saya hanya berdiam diri dan hanya melihat perdebatan Islam-Kristen di YouTube dan stasiun televisi, sering menganggap bahwa saya yang benar sendiri yang lain salah semua. Dalam konteks seperti ini, tentu akan banyak menyinggung perasaan agama orang lain. Padahal hal semacam itu tidak pernah diajarkan oleh Islam.

Belakangan ini memang sangat mudah mengkafirkan orang lain yang tidak sepaham dengan keyakinan agamanya. Ucapan kafir seolah-olah mengandung kebenaran. Ketika mengkafirkan orang, seolah-olah dia kafir benaran.

Prof. Sumanto Al Qurtuby pernah mengatakan dalam tulisannya bahwa status "kafir-sesat" sangat relatif-subjektif karena terbukti tidak semua umat Islam turut mengkafir-sesatkan sebuah kelompok atau sekte keagamaan tertentu. Kita bisa saja memandang sesat atas praktik keagamaan orang lain, tetapi sadarkah kita bahwa orang lain itu juga bisa jadi memandang sesat terhadap praktik keagamaan yang kita lakukan? 

Jadi tidak ada label “kafir-sesat” yang bersifat “objektif” dan “inheren” karena faktanya apa yang kita anggap “benar” dan “legitimate” itu belum tentu dianggap “benar” dan “legitimate” di mata orang lain.

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya saling mengolok-olok, saling membenci, saling mengklaim paling benar, merasa paling dekat dengan Tuhan. Islam mengajarkan kita untuk selalu menebar kasih sayang, saling mengenal, saling memahami, menghargai, dan saling tolong-menolong dalam kebaikan.


Melabeli atau memvonis seseorang dengan keimanan adalah perbuatan yang melampaui batas dan mutlak bukan kapasitasnya. Sering kali agama hanya dijadikan sebagai "stempel sakral" untuk menghakimi seseorang dengan kepentingan sesaat.

Mari kita padamkan api permusuhan dan kebencian yang dapat menyulut provokasi dan dapat menyebabkan kekerasan antar-pemeluk agama. Mari kita kubur dalam-dalam rasa curiga yang mendalam karena ketidaktahuan yang membodohi akal dan hati nurani kita.

Pengkafiran yang banyak dilakukan oleh pemeluk agama adalah kekeliruan yang sangat fatal. Toh ketika dikafirkan tidak lantas menjadi kafir. Kita tidak tahu kelak di akhir hayat seperti apa.

Kebenaran suatu wahyu tidak terletak pada pesan-pesan spesifiknya melainkan pada pesan-pesan universalnya. Oleh karenanya, seseorang bisa dengan mudah menjadi bias dalam berpikir dan berpendapat, khususnya terkait isu-isu sensitif, terkecuali ia mau dengan rendah hati untuk belajar lintas-agama.

Saya rasa semua agama mengajarkan kebaikan kepada sesama. Hanya rasa fanatik, ambisi dan politik yang mengubah ajaran agama menjadi alat.


Artikel Terkait