Saya sudah suka membaca buku sejak kelas empat SD, namun baru menemukan perpustakaan 10 tahun kemudian saat kuliah. Keterbatasan bahan bacaan membuat saya lambat berkembang.

Pada awal menjadi mahasiswa tahun 2004 itulah saya mengetahui salah satu pusat ilmu, yaitu Perpustakaan Daerah Banten. Saya masih ingat saat mendaftarkan diri menjadi anggota Perpusda Banten, saya harus antre beberapa bulan untuk mendapatkan kartu. Saat itu kartu perpusda dicetak di Bandung oleh ManajemenQolbu (MQ) milik Aa Gym, yang saat itu sedang meroket namanya.

Alangkah bahagianya saya yang merindukan banyak bahan bacaan bisa sepuasnya menyelami teks demi teks di Perpusda Banten.

Berkenalan dengan Sastra

Sejak kecil saya haus bahan bacaan. Namun orang tua yang tidak mengerti akan pentingnya bahan bacaan bagi anak—kebetulan orang tua juga tidak lulus SD—membuat saya makin dahaga. 

Paceklik bahan bacaan juga saya alami ketika duduk di tsanawiyah dan aliyah. Tidak ada perpustakaan di sekolah. Saya sampai harus menyisihkan uang jajan untuk kemudian sebulan sekali saya belikan buku atau majalah. 

Tahun 2002 itulah untuk pertama kalinya saya tahu Perpustakaan Daerah Banten. Tempat bersemayamnya ribuan buku yang ingin saya lahap seluruhnya. Pada tahun itu pula saya berkenalan dengan buku-buku sastra. 

Banyak novel yang saya baca meski hanya beberapa saja yang masih saya ingat judulnya sampai sekarang. Saya membaca “Ronggeng Dukuh Paruk” karangan Ahmad Tohari, “Saman” karangan Ayu Utami, juga novel NH Dini, Marga T, Mira W, dan lain-lain. Satu lagi nama penulis yang bukunya sering saya baca, bahkan pinjam, Ajip Rosidi.

Yang juga sering saya baca dan pinjam adalah buku kumpulan cerpen Kompas. Kebetulan saya mulai belajar menulis cerpen karena tergugah setelah membaca buku Mengarang Itu Gampang karangan Arswendo Atmowiloto. Buku itu juga saya dapatkan di Perpustakaan Daerah Banten.

Saya biasa datang ke Perpustakaan Daerah Banten—yang saat itu masih di Jalan Saleh Baimin—setelah zuhur. Ada atau tidak ada kawan saya akan datang ke Perpustakaan Daerah Banten. 

Setelah membaca sampai menjelang asar, saya akan pergi ke Masjid Agung Ats Tsauroh, yang jaraknya sekitar 300 meter. Karena masih kere dan belum bisa mengendarai sepeda motor, saya biasa berjalan kaki dari Perpustakaan Daerah Banten ke Masjid Agung Ats Tsauroh. 

Intensitas saya belajar menulis di Rumah Dunia makin membuat saya tidak bisa lepas dari Perpustakaan Daerah Banten. Karena untuk bisa menulis perlu banyak membaca buku, maka saya sangat membutuhkan Perpustakaan Daerah Banten untuk bisa membaca buku bagus dengan gratis. 

Maka, tak berlebihan kiranya bila saya menyebut Perpustakaan Daerah Banten merupakan salah satu tempat yang mengubah jalan hidup saya. Tentu saja ke arah yang lebih baik. Saya tak bisa membayangkan hidup saya saat ini bila tidak menemukan Perpustakaan Daerah Banten.

Dilarang Pinjam Buku 3 Tahun 

Yang menarik dari Perpustakaan Daerah Banten adalah soal sanksi bagi peminjam buku yang telat mengembalikannya. Pihak Perpustakaan Daerah Banten tidak akan memberi sanksi denda uang bagi para "pelanggar aturan". 

Pengelola hanya memberikan sanksi tidak bisa meminjam buku sesuai dengan jumlah hari keterlambatan. Misalkan, bila terlambat mengembalikan buku selama tujuh hari, maka selama tujuh hari setelah pengembalian itu anggota Perpustakaan Daerah Banten tidak bisa meminjam buku. 

Pengelola juga tidak akan menerima uang untuk mengganti buku yang hilang, kecuali mengganti dengan buku yang sama.

Ngomong-ngomong soal sanksi, saya memiliki pengalaman yang tak akan terlupakan soal ini. Ceritanya saat itu saya mulai sibuk dengan pekerjaan saya sebagai wartawan. Karena kesibukan itu saya tidak sempat mengembalikan buku yang saya pinjam. Apalagi Perpustakaan Daerah Banten kemudian pindah dari Jalan Saleh Baimin ke lokasi yang sekarang, di Jalan Raya Jakarta-Serang KM 4 Pakupatan, dekat Terminal Pakupatan, Kota Serang.

Tak tanggung-tanggung, saya tidak mengembalikan buku sampai dengan tiga tahun! Selain karena kesibukan kerja, saya juga lupa di mana meletakkan buku yang saya pinjam. Saya sampai beberapa kali ke Perpustakaan Daerah Banten dan siap mengganti uang namun ditolak. 

Bagi saya yang pekerja lebih mudah mengeluarkan uang ketimbang membeli buku yang sama. Kebetulan, buku yang saya pinjam termasuk buku yang susah dicari. Saya ingat itu adalah buku kumpulan cerpen Putu Wijaya berjudul “Teror”.

Saat itu, meski sudah ada internet, namun belum ada forum jual beli seperti Bukalapak, Lazada, dan sebagainya itu yang memudahkan orang mencari barang. Maka saya biarkan saja sanksi pengembalian buku itu sampai akhirnya mencapai tiga tahun.

Setelah tiga tahun dan tanpa sengaja menemukan buku yang saya pinjam di antara buku-buku koleksi pribadi, saya mengembalikan buku itu. Namun sanksi tiga tahun tidak bisa meminjam buku harus saya terima. Bahkan ketika melanjutkan studi, saya hanya bisa membaca buku di perpustakaaan tanpa bisa meminjamnya.

Lucu bercampur sedih.