Saya mengalami menstruasi pertama kali di kelas dua SMP. Sejak saat itu, sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk memikirkan jerawat yang kerap tumbuh di wajah saya. Mereka tumbuh tanpa ampun setiap bulannya. 

Mulanya hanya di kening, lalu merambah ke pipi kanan dan kiri. Meradang, matang, pecah dan menghitam. Begitu terus hingga saya mengetik tulisan ini.

Tak betah saat melihat cermin dan sebal mendengar komentar teman-teman membuat saya jenuh. Entah bagaimana ketidakmulusan wajah saya seakan menghalangi saya dari banyak hal.

Hampir semua tips di internet telah saya coba, termasuk cara yang kini saya sadari tidak masuk akal untuk menghilangkan jerawat di wajah saya. 

Irisan jeruk nipis, lemon, mentimun, kentang, bawang putih, bahkan kunyit sudah pernah hinggap di wajah saya. Pun dengan berbagai merk produk perawatan kulit yang ada di drugstore. Kesemuanya tidak memberikan efek signifikan, bahkan saya pernah alergi dan iritasi saat mencobanya.

Saya pernah menggunakan masker kain ke mana-mana, untuk menghindari debu dan kotoran lainnya saat di luar rumah, pasti ini akan efektif pikir saya. Tapi tentu saja hal tersebut tidak menghasilkan apa-apa kecuali rasa engap sebab kesulitan bernapas karena saya harus banyak berjalan di luar.

Saya juga pernah berpikir bahwa puasa dapat mengurangi jerawat karena saya tidak akan banyak mengonsumsi makanan yang dapat memperburuk jerawat. Hasilnya? Tentu saja nihil.

Tetapi satu hal paling konyol dan tak masuk akal yang pernah saya coba ialah meminta ibu saya untuk mendoakan agar jerawat-jerawat saya segera hilang sedangkan saya tidak mengubah apa pun dalam pola hidup saya. Saya pikir doa ibu yang terkenal mustajab akan mampu menghilangkan jerawat saya. Betapa desperate dan bodohnya saya ketika itu!

Memasuki bangku kuliah semester lima, akhirnya saya datang ke dokter dengan mengesampingkan kekhawatiran saya akan ketergantungan obat dokter setelahnya. Ternyata saya hanya diberi obat minum dan obat totol oleh dokter. Singkatnya, jerawat sedikit saya mereda. Untuk sementara.

Sejak menebus obat tersebut beberapa kali dan sedikit perbaikan pola hidup, keganasan jerawat saya sedikit berkurang, namun kerusakan di kulit saya yang timbul akibat jerawat menahun cukup untuk membuat saya histeris. Tipikal bekas yang ditinggalkan ialah hyper-pigmentation dan ice pick scars, belum termasuk dampak lain seperti kusam dan pori-pori terbuka. But acne hormonal is never dies as long as i have menstruation.

Karena sepertinya memang tidak ada cara untuk menghentikan jerawat hormonal yang tumbuh selama saya masih menstruasi, maka saya memutuskan untuk merawat kulit saya sebaik yang saya bisa. Saya mencari tahu tentang apa yang terjadi pada kulit dalam periode menstruasi.

Hal-hal yang selama ini saya sadari namun tidak saya ketahui hubungannya menjadi jelas. Terkadang kulit saya terasa kering, kemudian berminyak, pori-pori seperti menganga. Namun, hari-hari berikutnya, kulit saya terasa membaik. Saya pernah terkecoh dan mengira kulit saya membaik karena saya minta didoakan oleh ibu saya. Namun ternyata hormon sayalah yang melakukannya.

Hormon saya dan diri saya sendiri—yang saya sadari belum lama ini bahwa diri saya sendiri juga yang menyebabkan jerawat muncul—bekerja sama menumbuhkan jerawat di wajah saya.

Ketika hormon membuat produksi sebelum berlebih pada wajah saya, terkadang saya mendukungnya dengan tidak mencuci wajah dengan teratur yang menyebabkan banyak kotoran dan bakteri menutupi pori, tidak minum air, dan memakai pelembab yang cukup sehingga sebelum terus diproduksi karena kulit merasa dehidrasi serta sembarangan menempelkan wajah di atas permukaan benda kotor.

Lengkap sudah membuat pori-pori tersumbat saya marah dan meradang. Kemudian ia pecah dan meninggalkan bekas hitam sambil berkata “mampus kau!” Lalu saya marah-marah sendiri dan berpikir mengapa Tuhan begitu tega menakdirkan wajah saya berjerawat.

Saya memang ditakdirkan memiliki kulit wajah tipe kombinasi yang sensitif dan rewel, tapi yang memilih meratapi jerawat tanpa melakukan treatment saya sendiri. Hidrasi yang cukup, kebersihan yang konsisten, ketelatenan menggunakan produk-produk yang sesuai dan tentu saja pengetahuan dasar tentang kulit adalah koentji saat merawat jerawat.

After all, saya sadar jerawat hanyalah jerawat. Sesekali saya juga masih mengeluh soal jerawat saya. Jerawat memang perlu dirawat, yang tidak perlu-perlu amat itu ya ngomentarin orang yang jerawatan.