Ini bukan cerita biasa. Ini adalah narasi perjuangan yang saya kumpulkan dari mozaik-mozaik rindu juga pengalaman hidup yang bara.

Kala itu, saya sesungguhnya belum ingin menikah sebelum gelar doktor sempurna kuraih. Mimpi itu terus menghantui hingga Tuhan mempertemukan saya dengan perempuan yang aduhai cerdasnya. Pertanyaan-pertanyaannya mampu merobohkan benteng-benteng jawaban yang sekian lama saya susun.

Sebenarnya dia juga pengen studi lanjut doktoralnya tapi tidak tanpa suami katanya. Harapannya membuat saya teringat kisah-kisah inspiratif tokoh bangsa, misalnya B.J. Habibie yang didampingi istrinya Hj. Hasri Ainun Habibie kuliah di Jerman untuk menyelesaikan kuliah doktoralnya.

Pasti akan menjadi kisah luar biasa jika saya dan dirinya bisa kuliah lagi meski hanya di dalam negeri. Harapan ini akhirnya menyatu seketika, kami kemudian membalutnya dengan ikatan komitmen yang syahdu.

Waktu berjalan, musim berganti, satu persatu masalah terpecahkan. Hingga akhirnya saya memantapkan niat berkenalan dengan orang tuanya. Alhamdulillah, saya kemudian diserang satu pertanyaan, hanya satu tapi mengejutkan. Tanpa basa basi orang tuanya hanya bertanya, kapan?

Saya kaget bukan main, dan untungnya saya sudah menyiapkan jawaban yang tangguh. Benar, ayahnya mampu memahaminya dengan khidmat.

Keputusan ini sungguh harus kupertanggungjawabkan dengan baik, Begitupun kepercayaan yang diberikan kepada saya. Dengan modal pengalaman cinta yang berliku, saya akhirnya mampu melewati dan memahami sifat dan karakter calon Istri saya yang aduhai ini.

Karena semuanya telah sampai pada ujung yang dinanti. Saya akhirnya bisa mengundang seluruh sahabat dan saudara-saudara sekalian hadir menyaksikan sumpah cinta seumur hidup ini.

Memang hubungan kadang aneh. Orang dipasang-pasangkan karena berbagai alasan, dan saya berterima kasih kepada Tuhan sebab saya dan dia menyatu selain karena cinta juga karena visi yang se-ia se-kata.