3 bulan lalu · 236 view · 3 min baca · Sejarah 32811_92001.jpg

Saya dan Buku Berserakan Menjadi Perpustakaan

Simalungun - Saya adalah anak ke-4 dari 6 bersaudara, orang tua saya adalah seorang guru. Dari kami 6 bersaudara, 5 dari kami mengambil jurusan keguruan di universitas swasta yang sama, hanya saudara saya yang sulung tidak mengambil jurusan keguruan, dia mengambil jurusan ekonomi akuntansi. 

Saya masih ingat pada saat saya masih duduk di bangku SMP dan SMA, kalau dulu setiap siswa wajib memiliki buku setiap mata pelajaran. Hal ini juga sudah pasti di rasakan oleh kakak dan Abang saya, dan hal ini juga di rasakan oleh adik saya. 

Mata pelajaran di SMP kurang lebih ada 10 dan SMA juga seperti itu. Jika di hitung, jumlah buku saya SMP ada 10 dikali 3 (kelas 1 sampai 3) adalah 30, jumlah buku di SMA juga seperti itu. Maka bila di jumlahkan buku saya di masa SMP dan SMA ada 60 buku. 

Jumlah buku saudara saya yang 5 lagi sudah pasti dengan jumlah yang sama. Jika buku kami ber-enam di satukan, maka jumlah buku kami semasa SMP dan SMA ada berkisar, 60 dikali 6 adalah 360 buku. 360 buku inilah yang terus saya lihat tersusun rapi di lemari kami masing-masing. 

Masa Perkuliahan 


Kami enam bersaudara semuanya merasakan bagaimana rasanya bangku perkuliahan. Selamat 4 tahun atau bahkan lebih (seperti saya lima setengah tahun) sudah pasti mempunyai banyak buku diktat untuk perkuliahan. 

Tetapi, kakak saya yang bungsu tidak hanya memiliki buku diktat di kos nya waktu kuliah. Saya sempat kaget, pada saat ingin membawa balik barang-barang kakak saya ke rumah (di karenakan kakak sayang telah selesai kuliah), ada satu koper yang ingin kami bawa pulang sangat berat, dan ketika dibuka isinya semua adalah buku. Bukunya beragam-ragam, selain buku diktat saat kuliah, ada juga novel dan komik (pada masanya saat itu belum secanggih saat ini). 

Abang dan kakak saya yang nomor tiga juga seperti itu, hanya saja buku mereka bukan lah buku komit atau novel, tetapi buku diktat SMP atau SMA. Semuanya dibawah ke rumah kami yang sempit. 

Hal ini juga berlaku untuk saya dan kedua adik saya. Tetapi, saya tidak hanya mengoleksi buku pelajaran SMP dan SMA saja, tetapi saya juga memiliki beberapa buku gerakan untuk kalangan mahasiswa, seperti buku bung Karno, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Paulo freire, dan lainnya. Semuanya diangkut ke tempat orang tua, karena kita harus keluar dari rumah kos. 

Ibu saya tidak mau ketinggalan, karena tuntutan profesi yang mengharuskan guru harus sarjana (S-1) maka ibu saya kuliah lah. Yang tak saya duga, ketika saya balik ke kampung, ternyata begitu banyak buku ibu saya hasil dari perkuliahannya. 

Buku Yang Berserakan 

Saat kuliah hingga kami selesai kuliah kami ber-enam, kami tidak tinggal di rumah orang tua tapi kami mencari sesuap nasi diluar kampung halaman, sehingga hanya tinggal ibu sendiri yang tinggal di rumah (karena ayah sudah meninggal dunia). 


Rumah pun akhirnya seperti tidak terurus, hingga buku-buku kami yang semasa perkuliahan di tumpukan di gudang bersama dengan barang-barang yang lainnya. Yang bikin saya tersenyum, hanya buku ibu saya yg tersusun rapi di lemari. 

Saya coba membersihkan rumah agar terlihat bersih dan rapi, termasuk tempat dimana ditumpukkannya buku-buku. Saya merasa kasian melihat keberadaan buku tersebut, banyak dari buku-buku tersebut yang hancur karena basa terkena air hujan. 

Saya coba pisahkan yang basa dan yang kering, yang basa langsung saya jemur agar dapat digunakan kembali. 

Perpustakaan Mini 

Kemudian saya lanjutkan membersihkan bagian yang lain, yaitu ruangan bekas tempat kios kami dulunya. Saya melihat sebuah tempat yang layak untuk tempat menyimpan buku-buku yang tadinya berserakan. Lalu saya bersihkan dan rapikan, setelah rapi maka saya susun satu persatu buku-buku tersebut dan ditambah dengan buku-buku ibu saya yg tersusun rapi di meja. 

Sejenak saya menatap rak buku yang sudah saya susun buku tersebut. Dengan buku yang begini banyak nya, ini sudah layak dikatakan sebagai perpustakaan. 

Maka, saya mulai mendesain warung yang tadinya kotor dan berdebu, menjadi sebuah perpustakaan yang nyaman untuk membaca. Saya buat sebuah meja dan kursi untuk teman-teman yang nantinya ingin singgah membaca. 


Kampung saya notabenenya adalah pekerjaan termasuk pemuda-pemudinya, sebab saya tinggal di PTPN4. Teman-teman yang terkhusus muda-mudinya sudah lebih membicarakan bagaimana bekerja dan menghasilkan uang, tidak lagi berbicara tentang pengetahuan apalagi persoalan minat membaca.

Semoga dari perpustakaan yang terbentuk karena mencari tempat yang nyaman untuk buku ini, akan menghasilkan minat baca teman-teman yang ada di kampung tempat saya tinggal. Itu yang menjadi harapan saya.

Artikel Terkait