Kepada mentari yang mengirim kehangatan,

Kepada embun yang memberi kesejukan.

Kepada udara yang menemani kegundahan,

Kepada anda sang pelengkap keresahan.


Saya kira sudah tak pantas menggunakan kata aku,

Saya kira sudah tak pantas berucap kamu.

Karena kita sudah terlalu asing,

Karena anda sudah berpaling.


Lantas kenapa anda seolah yang terluka?

Kenapa anda yang merasa kecewa?

Oh saya tahu ini hanya bualan semata,

Supaya anda yang tampak tersiksa.


Belum  cukupkah arti saya dalam hidup anda?

Sehingga anda butuh nama lain untuk melengkapinya.

Belum cukupkan kasih saya untuk anda?

Sehingga anda masih mencari di luar sana.


Melepas anda untuk kebahagiaan anda?

Baik, akan saya lakukan.

Melupakan anda untuk kenyamanan anda? 

Baik, akan saya usahakan.


Bukankah ada kata seorang pujangga

Bahwa mencintai itu juga berarti rela.

Ya rela untuk melupa,

Bukan untuk di nomor dua.


Cinta yang membuat terlena.

Cinta yang membuat hina.

Cinta yang membuat gundah gulana,

Bagai bumi kehilangan surya nya .


Ya redup !

Tak berjiwa bagai raga yang tak hidup.

Bagai suara yang terdengar sayup,

Dan sesak seperti tak ada yang dihirup.


Oh nestapa sekali hati ini,

Kekecewaan yang melebihi porsi,

Dan lenyaplah kata kita kali ini.

Karena sudah ada saya dan anda sebagai pengganti.


Tentang kefanaan yang menjadi candu,

Tentang kesepian yang menjadi rindu,

Tentang anda yang menancapkan sembilu,

Menusuk ruang kalbu.


Oh apa ini berlebihan?

Apa ini terlalu menjijikkan ?

Suara hati yang saya tulis dengan kata  

Sebab tak bisa saya ucap lewat bibir yang berbicara.


Hati yang meringis,  

Mata yang menangis,

Cerita yang ironis,

Dari kisah yang tragis.


Mungkin anda berpikir saya kurang kerjaan,

Merangkai kata lewat tulisan,

Untuk anda pria pujaan.

Mohon bila ini sebuah kelancangan.


Saya menulis untuk  menyuarakan hati,

Dengan sajak ditemani ilusi,

Dengan pikiran yang tanpa henti,

Bagai arus yang mengaliri.


Disetiap goresan tinta,

Saya mengingat ada sepasang mata yang tak pernah terlihat nyata.

Saya mengingat ada tangan yang terbuka dengan lebarnya.

Memberi kehangatan yang ternyata semu semata.


Disetiap goresan tinta,

Saya melihat senyuman dengan ketulusan.

Saya melihat kasih dengan kenyamanan.

Dan seketika sadar penglihatan saya ternyata sebatas khayalan.


Lucu bukan?

Saya anggap anda rumah,

Hanya karena anda ramah,

Ternyata  anggapan saya salah.


Menertawakan kebodohan karena terbuai akan bualan,

Prihatin atas kedunguan karena masih jatuh dalam kubangan .

Seketika tersadar namun tak dihiraukan,

Masih saja beranggapan bahwa anda memang sang pujaan.


Ini saya gila atau bagaimana?

Masih berharap pada manusia pemberi luka.

Atau jangan-jangan anda yang gila?

Karena terlalu kuat menarik saya dalam dunia anda.


Berusaha sadar dan melupakan,

Eh jatuhnya takut kehilangan.

Terus menerus namanya selalu di pikiran.

Ayolah bodohnya jangan di subur-suburkan .


Dengan kata saya berharap melupa untuk sejenak,

Karena gelisah rasanya tak enak .

Apalagi disaat senyap,

Semua mengepul di kepala bagai uap.


Gila sungguh gila !

Anda membuat saya gila !

Ini anda sengaja atau bagaimana ?

Memberi kesenangan yang  indah namun fana.


Atau ini cara anda untuk menyadarkan diri ini ?

Bahwa anda hanya ingin menemani.

Iya ! Menemani tanpa di miliki.

Hanya minta disuguh kopi bukan hati.


Oh jenaka sekali anda ini.

Menemani saya setiap hari.

Namun tidak dengan sepenuh hati,

Hahaha lucunya anda ini.


Dengan ini saya pamit melangkah pergi,

Karena sepertinya anda sudah siap dengan hati yang lain lagi.

Namun maafkan saya,

Karena apa pun tentang anda masih hasrat candu bagi saya.


Saya sadar ini keterlaluan.

Saya sadar ini berlebihan.

Mencoba ikhlas namun belum sepenuhnya,

Mencoba pasrah namun belum rela.


Saya menulis dengan sederhana,

Guna menyampaikan kegundahan semata.

Bukan untuk membuat hati anda kembali terbuka,

Untuk kembali disinggahi oleh saya.


Malu rasanya seperti pujangga yang kehilangan jiwanya,

Dengan sajak yang berisi luka.

Namun bagaimana?

Sebab saya tak cukup pandai untuk menyampaikannya.


Masih saya paksakan walau sudah tak ada pembahasan ,

Masih saya jadikan alasan supaya dapat balasan.

Namun bagaimana anda memberi tanggapan?

Dengan senyum tak berdosa anda meninggalkan .


Lagi-lagi luka ,

Luka dengan beberapa modelnya .

Dari hati, raga, dan jiwa ,  

Sudah anda beri semuanya.


Mengabaikan adalah tabiat anda,

Kembali saat pengganti pergi adalah kebiasaan anda.

Membual sudah jadi kepribadian anda,

Dan melupakan anda adalah ketidakmampuan saya .


Kenapa bodoh sekali ?

Disakiti masih saja menguatkan diri.

Seolah tak ada yang terjadi.

Padahal rasanya ingin bunuh diri .


Eh tidak-tidak  ini hanya gurauan.

Supaya saya tidak terlalu merasa dicampakkan,

Oleh manusia tak berperasaan.

Namun berani menerobos hati dengan paksaan.


Ah sudahlah sudah saya putuskan,

Bawa tidak ada lagi kita untuk dipertahankan.

Biarlah saya dan anda menjadi jawaban.

Jawaban karena saling terasingkan.