Indonesia adalah negarat kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau, nama alternatif yang biasa dipakainya adalah Nusantara, dengan populasi hampir 270.054.853 jiwa pada tahun 2018, Indonesia menjadi negara berpenduduk terbesar ke-empat di dunia. 

Hal tersebut membuatku menjadi pemuda yang sangat beruntuk menjadi bagian dari pemuda Pertiwi dengan segala keunikan yang dimilikinya.

Harus aku akui, sebagai mahasiswa Indonesia turut ikut sangat berbangga diri dengan segala keunikan tersebut, aku bangga menjadi bagian bangsa Indonesia, menjadi dari bagian pemuda Indonesia yakni mahasiswa Indonesia yang menjunjung tinggi rasa solidaritas Pancasila. 

Kebanggaan tersebut tidak terlepas karena aku terlahir dan dibesarkan di bumi Pertiwi, Nusantara ini. 

Aku mencintai Indonesia dengan rasa kewajiban sebagaimana agamaku mengajarkan untuk mencintai bangsa dan negara, Nusantara ini adalah tempat di mana aku dilahirkan dan dibesarkan dengan hasil sumber daya alam (SDA) yang dihasilkan tanah subur ‘surga’ Nusantara ini.

Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi rasa solidaritas dalam segala perbedaan, dan aku sangat senang hidup dengan banyak sekali perbedaan ini, baik di lingkungan kampus, desa dan sebagainya. 

Aku mencintai perbedaan, sebab aku menyadari perbedaan akan menimbulkan rasa gotong royong dan solidaritas jika kita memahami dan mencintai dengan benar. Aku meyakini hal itu karena Tuhan telah menciptakan perbedaan untuk saling mencintai dan menyayangi sebagai manusia ciptaannya. 

Apalagi dengan kondisi seperti saat ini, pandemi korona telah menguji rasa solidaritas dan gotong-royong Ibu Pertiwi ini, dan kita harus mulai sadar untuk saling berpangku tangan dan berjalan bersama dengan tekat dan rasa peka pada diri kita masing-masing dengan tetap menjunjung tinggi nilai gotong-royong pada sila-sila Pancasila.

Saya, Pancasila dan Pandemi

Di rumah ibuku selalu mengajarkanku untuk selalu peka terhadap segala keadaan, misalnya ibu selalu melarangku untuk keluar rumah untuk kepentingan bersama menangani covid-19, ataupun ketika ibu memberikan izin untuk keluar rumah selalu mengingatkanku untuk selalu menggunakan masker dan atau menggunakan sesuai protokol yang ada.

Sangat begitu beruntuk bagi kita yang masih memiliki keluarga yang lengkap di masa pandemi korona seperti saat ini. Sebab tidak ada nikmat yang begitu indah di dunia ini akan kehadiran keluarga yang lengkap serta canda tawa di tengah-tengah keluarga kita masing-masing.

Aku mungkin salah-satu termasuk yang disebut di atas, meskipuan menganyam pendidikan di Jakarta dan jarang pulang kampung ke pelosok Kalimantan Barat membuatku semakin terasah untuk menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

Lebih dari satu tahun lamanya menghabisakan waktu di kampung halaman membuat aku semakin sadar arti rasa solidaritas terhadap keluarga di rumah, terutama di masa pandemi korona saat ini. 

Bukan hanya nilai kebersamaan akan tetapi jauh daripada itu adalah bahwa aku telah menyemai nilai-nilai Pancasila di dalam keluarga untuk selalu memiliki nilai rasa solidaritas yang tinggi terhadap keluarga.

Teringat sebuah pepatah Kiai kampung “di manapun kamu menimba ilmu, pada akhirnya akan pulang ke kampung halaman masing-maisng, merasa, membantu dan membangun kampung halaman kalian”.

Menghabisakan waktu di rumah dengan waktu yang cukup lama terkadang memang sangat membosankan bagiku, apalagi aku sudah terbiasa merantau dan menghabisakan sekolah menengah ke atas berasrama di Jawa sana sehingga membuatku terbiasa merantau, jauh dari keluarga.

Namun saat ini, di masa pandemi ini aku sangat semakin sadar, kalau rasa solidaritas kebersamaan adalah nilai yang sangat begitu berharga untuk selalu kita jaga dan kita rawat bersama untuk menjadi Indonesia yang maju dan bermartabat. Bangsa ini adalah bangsa yang sangat besar. 

Di masa pandemi korona ini sudah sewajarnya untuk saling membantu satu sama lain. 

Di masa pandemi saat ini kita harus tetap saling menghargai, menghormati sesama warga tanah air. Sebab Indonesia yang beradab dahulu karena memiliki banyak kebudayaan yang berbeda dan bersatu. 

Di masa pandemi saat inilah, sekali lagi kita mulai diuji rasa solidaritanya atas perbedaan kebudayaan, agama, suku, dan sebagainya. Namun, sudah kita ketahui masyarakat Nusantara ini akan selalu bersatu bersama, dan saling membantu satu sama lain.

Di sini perbedaan kebudayaan yang sedang diuji di masa pandemi korona ini merupakan sesuatu yang bersifat dinamis, dalam arti selalu berubah setiap waktu, menyesuaikan perubahan lingkungan yang terjadi seolah menjadi milik bersama dan bersatu padu. 

Kebudayaan menjadi suatu wahana bagi bangsa ini untuk memecahkan berbagai persoalan di masa pandemi korona. Kebudayaan yang terdiri dari berbagai unsur atau pranata sosial telah membentuk suatu sistem sosial yang terintegrasi dan adaptif. 

Namun, meskipun stabilitis merupakan ciri kebudayaan, perubahan bukanlah suatu keniscayaan, tapi solidaritas, gotong royong, persatuan dan kesatuan akan selalu tetap tumbuh dan berkembang di tanah Pertiwi ini.

Sampai di sini, mungkin bangsa ini masih bertanya-tanya. Kalau di lingkungan keluarga, kampus dan desa saja bisa menciptakan rasa solidaritas dan rasa gtong royong yang tinggi meskipun di masa pandemi korona saat ini. 

Bagaimana dengan Indonesia yang terdiri Milyaran keluarga, ribuan kampus, dan ratusan ribu desa? Bangsa ini masih belum terlambat untuk membangun negara ini, menjadi negara yang beradap dan terpandang di mata bangsa lain. 

Maka, dalam menciptaka rasa solidaritas dan gotong-royong di masa pandemi korona ini.

Terlebih dahulu kita tanamkan kecintaan dan pemahaman yang baik terhadap rasa solidaritas dan budaya gotong royong Pancasila yang ada di lingkungan-lingkungan kecil, seperti di lingkungan keluarga, kelompok-kelompok, komunitas, organisasi di sekolah (kampus), dan lain-lainnya. 

Agar apa yang didambakan bangsa ini menjadi bangsa yang beradab bisa terwujudkan dengan tetap berpangku pada nilai pada sila-sila Pancasila.