21511_19543.jpg
Cerpen · 5 menit baca

Saudara

Konon pada abad-18 India mendapat ancaman peperangan. Semua pemuda dipaksa wajib militer. Mereka disapih dari rutinitas harian, termasuk diharamkan menyentuh istri sendiri.

Ini bukanlah soal patriotisme pun nasionalisme. Melainkan negara tak boleh kalah. Tidak boleh dirampok. Perempuannya jangan diperkosa. Agar jangan ada teriakan anak-anak kecil meratap ketakutan mencari di tengah kerumunan mayat, di mana orang tua mereka.

Adalah Ar dan Yo. Singkat namanya. Sesingkat harapan dan strata mereka dalam masyarakat. Orangtua telah lama meninggal. Tanpa gelar. Mereka terserang penyakit muntaber karena kaum dalit memakan apa yang dikumpuli dari sampah demi sampah.

Inilah yang selalu menjadi harapan Ar, saudara tertua yang harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi Yo.

“Yo harus sekolah. Ia harus sukses. Jika kini aku hanya meraup makanan sisa pesta, maka ia harus mendapat undangan resepsi. Di kursi paling depan. Tanda kehormatan. Meskipun pekerjaan sol sepatu. Ahhhh…. Apalah dayanya.”

Seusai menjahit, Ar berjalan dari ruko ke ruko. Orang yang baru melihatnya mengira ia tersesat di jalan ramai New Delhi. Ia mencari sesuatu. Pena. Ia berniat membeli pena sebagai hadiah untuk Yo.

Pada tahun-tahun itu, notabene masyarakat yang masih menulis di atas batu, pena termasuk barang mahal.

“Berapa harganya,” tanya Ar sembari merogo-rogo saku.

“5 rupee,” penjual menjawab tegas.

Ia lekas membawa hadiah itu dalam tasnya. Tak ingin angin meniup. Ia menggenggam rapih depan tubuhnya sembari tangan layu mearangkul. Ada saat ia berlari seolah bayangan lebih dulu tiba.

“Ayo lekas naik!” teriak seorang prajurit.

Banyak anak muda, laki-laki, dipaksa naik sebuah truk terbuka.

“Hendak ke mana mereka,” dengungnya.

“Yo!!!” Teriak Ar menghampiri truk.

“Pak, ia anak sekolahan. Tak pandai bertempur. Biar saya yang menggantikannya.”

“Tidak, kamu juga harus ikut!” bentak prajurit berkostum hijau pudar itu.

Truk berlaju pelan. Mungkin diperintahkan oleh seorang prajurit yang memandang ke depan dengan alis terangkat. Di atas truk itu, anak-anak berseragam lengkap menunduk meratapi nasip. Yang berpakaian biasa, tampak biasa-biasa saja. Truk melaju ke jalan besar dan sejam berlalu, trukpun tiba di sebuah champ. Tempat pelatihan calon militer.

Bagi Ar, aduh jotos adalah caranya bertahan hidup dalam keramaian perkotaan. Yang semakin bebas, keamanan tak dapat dijamin. Ia orang fisik. Berbeda dengan Yo, manusia kepala. Pertempuran adalah anarki. Lagian ia sakit jantung. Tururnan dari ayah yang telah meninggal. Namun, ayahnya bukan karena jantung yang menghabisinya, namun muntaber hingga dehidrasi.

“Aku ada bersamamu,” bisik Ar lembut.

 Kepandaian Ar dalam bertempur dikagumi dalam peperangan.

“Anda kami angkat menjadi panglima perang,” sambutan Jendral.

“Menjadi panglima berarti aku dapat mengeluarkan Yo dari tempat ini. Yah… ia harus sekolah,” batinnya.

Memang benar jika dengan jabatan, manusia punya hak preogratif. Privilese khusus untuk memaksakan kekuasaan. “Sejarah seringkali menyaksikan bahwa kekuasaan merupakan keputusan dan produk dari golongan yang memiliki kapasitas lebih. Walaupun kadang demi species-nya sendiri”.

“Aku tak butuh penghargaan. Aku butuh dirimu. Kau pikir bersekolah dan sukses tanpa dirimu bermakna, tidak.”

“Tapi kau harus sekolah. Kau harus berdiri di atas kakimu untuk menopangku kelak. Perang akan berakhir, namun stigma sosial untuk kita orang kecil tetap abadi. Aku yakin, jika itu dibuat dalam sejarah, maka sejarah bisa dirubah. Kaulah yang akan merubahnya,” tegas Ar.

“Jangan sekali-kali mengajariku untuk memahami hidup, jika yang kubutuhkan adalah mempertahankan hidup,” bantah Yo. 

Sebiasanya, para panglima mendapat makanan yang lezat. Entah apa motifnya, yang jelas yang memimpin harus kuat dalam pertimbangan mental dan fisik. Ayam, sayur termasuk buah serta bir menjadi menu utama. Prajurit justru sebaliknya.

Adapun Ar selalu menyisahkan makanannya. Pulang paling terakhir kala jamuan malam usai. Maunya, membungkus makanan yang tersisa untuk Yo.

“Ia pasti suka.”

“Ayo makan!” bujuk Ar.

Yo tertidur seolah tak mendengar apapun. Ar tak bisa berlama-lama. Ia kembali ke biliknya. Keesokan harinya, makanan itu didapatinya basi di drum sampah. Yo tidak memakannya. Kendati demikian, Ar selalu melakukan hal yang sama. Dan sama pula reaksi sang adik.

“Apa yang kau mau,” kesal Ar memandang cermin kamarnya.

Pagi-pagi benar saat sadar dari tidur semua pasukan dikumpulkan secara mendadak.

“Besok musuh akan tiba di perbatasan. Saatnya kalian buktikan, bahwa mati bagi bangsa adalah kehormatan. Kecuali Yo tak boleh ikut.”

“Tidak aku harus ikut berperang,” geramnya.

“Ini perintah panglima sendiri”

“Kau tak bisa ikut berperang. Kau dan teman-temanmu,” sela Ar di balik barisan para prajurit muda.

“Siapa Anda,” sinis Yo.

Pertanyaan Yo yang konyol menyinggung kakaknya. Ia terkejut, dan langsung mengangkat tangan kanannya dan menampar sekuat mungkin adik yang paling dikasihinya.

“Buktikan padaku jika kau mampu berperang?” ancam Ar.

“Baiklah. Pilih seorang prajurit jika kau ingin melihat kemampuanku.”

“Ok. Jika itu maumu,” sela Ar geram.

Yo dipukuli hingga babak belur. Jantungnya pun melemah dan tertidur pasrah di atas gundukan pasir yang membentang bak pesisir. Ia digiring ke kamar. Ar tampak berdiam kesal. Bukan karena keras kepala adiknya. Namun, tak bisa berbuat apa-apa saat Yo dipukuli.

Ia kembali ke biliknya. Alam seolah mengerti kesedihan hati kedua saudara ini. Hujan. Yah, hujan bukannya menumbuhkan, namun menambah emosionalitas.

“Dingin. Pasti ia kedinginan. Adikku yang malang, maafkan kakakmu ini.”

Ia merengkuh selimut tidurnya yang tebal. Melipat tak rapi dan mendekap ke dada melangkah ke arah kamar para prajurit. Mereka semua tertidur pulas dalam ruangan empat kali sebelas luasnya. Ia mengamati satu persatu dan berhenti pada adiknya sendiri yang menggigil karena dingin dan demam akibat luka memar di wajah. Ar mendekat. Mengambil selimut dan menutup rapi tubuh adiknya.  

Yo tertidur pulas. Namun masih ada kakinya yang berusaha menggeser selimut dari tubuhnya. Selimut pemberian kakak. Ia tak butuh.

“Baiklah. Jika itu maumu. Kau tak pernah menghargai pemberian dari sodara yang selalu ingin menjagamu. Kalau itu maumu, urusi hidupmu sendiri. Kau tidak pernah memahami hukuman suara hati yang mengadiliku hari berganti hari. Bahkan permenit.”

Ar mengambil kasar selimut besar itu, melangkah keluar dengan kesal. Gemetar dengan sikap adiknya.

Sebiasanya, seorang panglima mampu merasakan kehadiran musuh lewat getaran tanah. Ia merasakan itu sewaktu kakinya saat melangkah keluar dari kamar prajurit. Bahkan sampai ke kamarnyapun getaran itu masih dirasa. Sewaktu ia menutup mata untuk memastikan getaran itu sampai ke telinga, getaran itu telah lebih dulu tiba di hatinya. Yah, getaran yang diakibatkan oleh adiknya yang sedang tidur gementaran di atas lantai kosong di kamar prajurit. Getaran itu menembus ujung jantungnya, hingga ia berlari seperti orang gila kembali ke kamar itu.

Sewaktu ia masuk ke depan pintu, ia mendapati adiknya yang tengah menatap ke arahnya hampa.

“Adikku yang malang. Kakak ini,” bisik Ar sembari merangkul adiknya.

Ia mengangkat selimut membungkus adiknya dan merangkulnya. Semalam-malaman ia memeluk adiknya. Yo tidak menolak. Ia tertidur pulas dalam dekapan sang kakak. Hingga tak ingin melihat matahari esok. Agar pelukan itu semakin dirasa. Semakin lama. Hingga matahari berhenti terbit bagi dirinya.

Yo telah kembali ke rumah. Bersama ayah dan ibu menyiapkan tempat bagi Ar yang masih menangis sejadi-jadinya. Sepenuh-penuhnya. Saat fajar kembali dan adiknya telah kaku dalam dekapannya. Kaku menggenggam pena yang dihadiakan sang kakak sewaktu dalam perjalanan menuju ajal.