Penulis
1 bulan lalu · 18 view · 5 min baca menit baca · Gaya Hidup 63484_92083.jpg

Satu Sisi Kertas dan Kreativitas si Kecil

Tanpa menghayati filosofi dari sehelai kertas pun, saya semenjak dulu sudah suka menyimpan kertas dan koran bekas. Tak heran, kertas bekas skripsi hasil coret-coretan dan konsultasi pembimbing yang hanya terpakai satu sisi masih bertahan hingga sebulan yang lalu. Padahal, sekarang sudah tahun 2019. Sedangkan saya mengerjakan skripsi di tahun 2001!

Begitu juga kertas-kertas makalah, seminar dan kegiatan lain, selama bertahun-tahun teronggok rapi di dalam lemari. Maksud semula hanya untuk digunakan sebagai kertas buram atau digunting kecil-kecil menjadi catatan daftar belanja atau ‘to do list’. Sedangkan materi yang menarik sengaja disimpan untuk dibaca ulang atau dokumentasi pengetahuan.

Sementara untuk koran bekas, entah mengapa selalu ada passion untuk mengkliping, terutama untuk tema-tema yang menarik perhatian saya. Sisanya baru dijadikan loak atau kebutuhan pembungkus. 

Saat masih belum bekeluarga dan pindah kos, maka barang saya yang paling banyak adalah buku, kertas dan koran bekas. Begitu kebiasaan yang terbawa bahkan hingga saya memiliki dua anak.

Namun kini, kertas-kertas yang hanya terpakai satu sisi itu termanfaatkan oleh hal yang tak saya rencanakan sebelumnya. Yakni, kreatifitas menulis si bungsu.

Kreatifitas menulis anak bungsu kami yang perempuan memang sudah terlihat sejak ia berumur dua tahun. Dinding rumah kami nyaris tak ada yang kosong tanpa coret-coretan sejauh tangannya bisa menjangkau. Kami, orangtua, membiarkan kreatifas ‘mural’nya itu.

Berangsur, saya memberikan kertas-kertas bekas yang tak terpakai satu sisi tersebut. Tak disangka, si kecil malah menyambut baik. Iapun mulai menulis, menggambar, dan berimajinasi di satu sisi helai kertas tersebut. Selesai digambar, ada yang ia lem dan dibuat seolah menjadi surat. Ada juga yang ditempel di pintu dan dinding kamarnya.

Bahkan, di umurnya yang enam tahun, si kecil seperti sudah tergantung pada kertas. Malah ketika hendak bermalam ke tempat lain, ia mengkhawatirkan apakah ada kertas atau tidak di tempat itu dan meminta membawa kertas dari rumah.

Kini, kertas-kertas yang semula tumpukannya nyaris setinggi saya duduk, berangsur mulai menipis. Si kecil pun sudah bersiap masuk Taman Kanak Kanak. Mungkin setelah ini ia bakal menulis di media yang lain. Mungkin juga ia bakal tertarik hal lainnya. Tapi, satu sisi kertas-kertas bekas saya sudah termanfaatkan oleh hal positif yang merangsang kreatifitasnya.

Pemanfaatkan Kertas Dua Sisi


Sebelum ada edukasi paperless, penggunaan kertas kebanyakan hanya pada satu sisi. Tak hanya skripsi, bahan makalah, seminar dan lain-lain pun, kebanyakan hanya di-print di satu sisi. Sementara, satu sisi lainnya terbuang begitu saja. Padahal, berapa banyak kertas yang dihemat dibanding jika dua sisinya yang dimanfaatkan.

Namun, saat ini, sejumlah perguruan tinggi yang sudah memproklamirkan diri sebagai green campus atau menjalankan program ‘go green’, mewajibkan mahasiswanya untuk mencetak bolak balik di dua sisi. Baik untuk makalah, laporan ataupun tugas akhir.

Hal yang sama harusnya diterapkan di semua instansi, baik pemerintah maupun swasta yang sampai saat ini masih menggunakan satu sisi kertas. Dengan menggunakan dua sisi kertas, maka bisa menghemat 50 persen penggunaan kertas dari biasanya. Kalau dilakukan secara kolektif, penghematan kertas tentu bisa dilakukan secara besar-besaran.

Ini memang bukan tentang masalah penghematan finansial individu. Tapi, lebih dari itu, penghematan banyak hal dari proses sebatang kayu menjadi sehelai kertas. Berapa banyak energi listrik, bahan bakar dan air yang dapat dihemat dalam proses produksi kertas.

Alam telah bermurah hati memberikan bahan baku yang telah membawa peradaban besar bagi manusia. Lantas, kenapa manusia tidak mau mempertimbangkan untuk bermurah hati pula melakukan penghematan sehingga alam pun tidak terforsir jika kertas yang dibuat banyak terbuang percuma.

Penggunaan kertas di dua sisi atau menggunakan sisi lainnya untuk manfaat lain merupakan salah satu cara sederhana dan mudah sebagai partisipasi individu dalam rangka ‘go green’. 

Dengan langkah sederhana, jika dilakukan banyak orang, tentu cukup memberi kontribusi dalam rangka menjaga bumi. Meskipun kertas dibuat dari hutan produksi yang memiliki izin, tapi tetap saja harus menunggu minimal hingga lima tahun sampai sebatang pohon yang cukup besar bisa digunakan untuk menjadi bahan baku yang menghasilkan 23 rim kertas. (tirto.id)

Apalagi mempertimbangkan terus bertambahnya jumlah penduduk yang sejalan dengan meningkatnya kebutuhan kertas. Jika tidak berhemat, tentu kesediaan alam tidak akan linear dengan kebutuhan manusia. Maka, penghematan kertas dan penggunaan kertas secara bijak adalah satu langkah yang seharusnya menjadi suatu keniscayaan.

Memperlakukan Sampah Kertas 

Riset yang dilakukan Sustainable Waste Indonesia (SWI) dan diekspos tahun 2018 mengungkap, sampah kertas mencapai 9 persen dari total sampah sebanyak 65 juta ton yang diproduksi masyarakat Indonesia setiap hari. 

Jenis sampah yang paling banyak adalah sampah organik sebanyak 60 persen, sampah plastik 14 persen, sampah metal 4,3 persen dan sampah kaca, kayu dan bahan lainnya sebanyak 12,7 persen.


Dari puluhan juta ton sampah yang dihasilkan itu, 24 persennya atau sekitar 15 juta ton tidak ditangani sehingga mengotori ekosistem dan lingkungan. Hanya 7 persen sampah yang didaur ulang dan sisanya dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Dari sampah yang tidak ditangani itu, termasuk pula sampah kertas yang padahal jika dimanfaatkan bisa bernilai guna dan bernilai ekonomis. 

Kalaupun tidak mau menyimpan kertas-kertas bekas satu sisi untuk dimanfaatkan suatu saat seperti yang saya lakukan, bisa saja hanya dengan melakukan pemilahan. Dijual kepada pengumpul atau tukang loak. Atau, kalau mau lebih kreatif, bisa diolah menjadi berbagai jenis bahan kerajinan dan keterampilan, bisa menumbuhkan nilai ekonomi baru.

Kertas bekas juga merupakan bahan sekunder pembuatan kertas. Kertas bekas dapat dimanfaatkan hingga 5 kali sampai serat-serat kayunya habis. Setelah habis sama sekali, bisa dijadikan kompos.

Sayangnya, belum banyak bank-bank sampah yang tersedia untuk menampung sampah masyarakat. Edukasi dan sosialisasi untuk memilah sampah pun masih perlu terus dilakukan. 

Selain itu, di perkotaan, sebelum diangkut oleh truk sampah milik pemerintah, sampah masyarakat biasanya dikelola secara mandiri oleh RW masing-masing. Diangkut dengan becak motor oleh petugas kebersihan yang ditunjuk dan dibawa ke titik tertentu yang dilewati truk sampah pemerintah. Petugas kebersihan tersebut biasanya sekaligus sebagai tukang pilah sampah. 

Namun, pekerjaannya memilah tak dipermudah dengan dibedakannya sampah-sampah masyarakat. Sampah masyarakat berbaur antara sampah organik rumah tangga, sampah plastik, kertas hingga limbah berbahaya.

Di perdesaan lebih parah lagi. Belum banyak desa yang secara mandiri melakukan pengelolaan sampah. Tak ada becak atau truk sampah yang akan membawa sampah masyarakat. 

Masyarakat secara pribadi memikirkan kemana sampah mereka akan dibuang. Ada yang membakar dan ada juga yang membuang begitu saja ke jurang. Lama-kelamaan, kondisi itu tentu bakal mencemari lingkungan mereka sendiri dan mengundang bencana alam.

Yang belum banyak disadari masyarakat, selain berhemat kertas, cara lain memperlakukan sampah kertas adalah dengan memilah dan mendaur ulang sampah kertas jenis tertentu. Jika tak bisa mendaur ulang sendiri, bisa dikumpulkan dan dijual kepada pengrajin daur ulang kertas. 


Namun sekali lagi, mungkin karena sistem yang belum mendukung dan perilaku yang belum terbiasa, membuat pemilahan dan perlakuan terhadap sampah kertas masih belum bijak. Padahal menurut relawan WWF Indonesia, Maria Theresia, dilansir dari okezone.com, dari 1 ton kertas daur ulang, dapat menghemat 17 pohon, 380 galon minyak, 3 kubik lahan, 4.000 KWH energi dan 7.000 galon air.

*

Kembali pada kertas-kertas bekas yang hanya termanfaatkan di satu sisi. Ayo mulai gerakan dari diri sendiri untuk melakukan penghematan kertas dan memperlakukan sampah kertas dengan bijak! 

Setidaknya, gunakan satu sisi kertas yang kosong untuk mendukung kreatifitas si kecil atau untuk hal lain yang bisa dimanfaatkan!

Artikel Terkait