Indonesia merupakan negara di Asia Tenggara yang dilalui garis khatulistiwa. Berada di antara Benua Asia dan Benua Australia serta Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Wilayah Indonesia berbatasan darat dengan Malaysia di pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di pulau Papua, dan dengan Timor Leste di pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.

Republik Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang terdiri dari 13.487 pulau. Di masa lalu,  nama Indonesia sering disebut Nusantara.[1] Negara terbesar keempat yang beranggotakan 237 juta jiwa pada sensus tahun 2010. Terdiri dari berbagai macam ras, suku, bangsa, agama, dan budaya yang membuatnya menjadi negara multikultural.[2] Suku Jawa adalah suku terbesar dengan populasi 41,5% dari seluruh penduduk Indonesia.

Negara Indonesia berbentuk republik dengan dipimpin oleh seorang presiden dan wakil persiden. Negara yang bersemboyan “Bhinneka Tunggal Ika” ini merupakan anggota dari PBB dan satu-satunya yang pernah keluar dari PBB, yaitu pada tanggal 7 Januari 1965 dan bergabung kembali pada tanggal 28 September 1966 dan dinyatakan sebagai anggota ke-60. Indonesia juga merupakan anggota dari ASEAN, OPEC, OKI,  dan G-20. Pemerintah Indonesia pun aktif dalam kancah pergaulan internasional. Bahkan, di bulan April 2015, Indonesia menjadi tempat penyelenggaraan peringatan 60 tahun KAA.

Negeri Maritim

Siapa yang tak tahu bahwa Indonesia merupakan negara maritim dengan wilayah laut terluas. Laut yang menyimpan berbagai potensi keanekaragaman hewani dan hayati. Pesona laut Indonesia tak kalah dengan laut yang ada di luar negeri, hal ini terbukti dengan tingginya minat turis mancanegara yang meluangkan waktunya untuk berkunjung ke Indonesia demi menikmati keindahan laut atau sekedar menyalurkan hobinya dalam olahraga air.

Jutaan biota laut seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan, hidup di laut Indonesia. Hal ini menguntungkan bagi penduduk di kawasan pesisir Indonesia yang dapat mengelola potensi laut sebagai sumber penghidupan. Sebagai contoh, Pulau Madura merupakan pulau dengan penghasil garam terbesar di Indonesia.

Sebagai negara besar dengan jumlah penduduk yang padat, tentunya Indonesia juga mengalami berbagai masalah. Salah satunya menyangkut wilayah perbatasan. Masalah perbatasan umumnya memiliki makna dalam hubungannya dengan batas-batas yang memisahkan antara satu negara dan negara lain.

Posisi geografis yang yang menjadi jalur lalu lintas perdagangan laut dunia, menjadikan Indonesia sebagai incaran negara- negara tetangga yang berbatasan langsung dengan wilayah darat dan laut, yang relatif lebih maju dan makmur dibandingkan dengan negara kita.

Di antara perbatasan Malaysia-Indonesia, Filipina-Indonesia, Papua Nugini-Indonesia, Timor Timor-Indonesia, perbatasan Singapura-Indonesia yang akan saya bahas di sini. Masalah perbatasan antara Singapura dan Indonesia sudah berlangsung sejak abad XIX di daerah yang sekarang dikenal dengan Kepulauan Riau. Selat Singapura merupakan salah satu selat tersibuk di kawasan Asia Tenggara dan bahkan di AsiaTimur.

Selat ini menjadi jalur laut internasional bagi kapal-kapal dari arah Selat Malaka yang menuju Cina atau wilayah-wilayah di Asia Tenggara seperti Vietnam, Kamboja, Filipina, Brunei Darussalam dan wilayah lain di Asia Timur. Selat Singapura secara langsung juga membagi wilayah Kepulauan Riau dengan wilayah Singapura. Oleh sebab itu, Selat Singapura juga ramai dengan masalah.

Perbatasan Singapura-Indonesia terletak di pulau Batam yang secara geografis sangat strategis menjadi jalur pelayaran internasional yang berjarak kurang dari 12,5 mil laut (±20) dari Singapura. Wilayah ini berbatasan dengan Malaysia dan Singapura di sebelah utara, kecamatan Moro di sebelah selatan, kecamatan Karimun dan laut internasional di sebelah barat, kecamatan Bintan Utara dan Bintan Selatan di sebelah Timur.

Pulau Batam ini terdiri dari delapan kecamatan, yakni kecamatan Sekupang, kecamatan Belakang Padang, kecamatan Bulang, Galang, Sei Beduk, Nongsa, Lubuk Raja, dan Batu Ampar. Kota Batam memiliki luas wilayah sebesar 1.648,2 km². Dari wilayah seluas itu, 1.035 km²  berupa wilayah perairan. Dengan kondisi seperti itu, Batam rentan dengan pencaplokan wilayah kepulauan oleh negara lain.

Dengan wilayah yang rawan ini, pemerintah melalui PP 34/83 telah menetapkan status Batam sebagai wilayah administratif. Tuntutan perluasan wilayah darat Singapura sebagai akibat pertambahan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi yang semakin padat. Lahan yang ada di Singapura tidak dapat mencukupi itu semua.

Permasalah sebaliknya yang dihadapi Singapura adalah pengurangan wilayah perairan akibat abrasi laut di beberapa bagian pantainya. Untuk mengatasi hal itu, Singapura merancang suatu program teknologi perluasan buatan wilayahnya, dengan mengimpor pasir dari pulau tetangganya ke gugusan Kepulauan Riau.

Lahan yang ada di Singapura tidak dapat mencukupi itu semua. Tindakan ini berhasil menambah luas wilayah Singapura sepanjang 6 km. Masalah ini tdak hanya menimbulkan persoalan legtimasi tetapi juga mengubah garis batas yang disepakati kedua negara.

Lemahnya Perbatasan

Dewasa ini bangsa Indonesia terancam dengan adanya aktivitas di daerah perbatasan. Bangsa Indonesia dihantui dengan masalah pertahanan dan perbatasan. Hal ini tentunya menjadi tanda tanya besar dalam masyarakat akan tugas dari pemerintahan dan sekaligus menjadi tantangan sangat besar bagi pemerintah.

Upaya yang dilakukan Polri dan TNI dirasa kurang maksimal karena masalah anggaran. Pengakuan Panglima Kodam VI Tanjungpura Mayor Jendral Tono Suratman yang menyatakan ketidakberdayaan pihaknya mengawasi daerah perbatasan karena keterbatasan infrastruktur.

Daerah perbatasan yang harusnya dijaga ketat, seolah terbuka lebar bagi warga kedua negara. Batam menjadi gerbang masuk antara Indonesia dan Singapura. Pencurian ikan, illegal logging, perdagangan manusia, penyelundupan barang-barang bekas merupakan sebagian kecil masalah yang pelakunya adalah oknum masyarakat tetangga kita.

Pekerja-pekerja ilegal dengan amannya keluar masuk Batam-Singapura. Seorang informan yang bekerja sebagai pedagang buah mengaku memiliki empat paspor. Ia bebas tinggal di Singapura dan kembali ke desa asalnya semau dirinya. Bahkan untuk mencari dagangan baru, ia dapat dengan bebas pergi ke pekerja-pekerja ilegal dan dengan amannya keluar masuk Batam-Singapura. Bahkan untuk mencari dagangan baru, ia juga dapat dengan bebas pergi ke beberapa kota besar di Malaysia tanpa ada rasa takut terlampau lama tinggal di negara tetangga.

#LombaEsaiKemanusiaan

[1] Lihat dalam, Slamet Muljana. 2008. Negarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Yogyakarta: Lkis.

[2] Koentjaraningrat (ed). 1999. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.