Satu Pinta

Tubuh mungil itu terlelap dan terkulai pasrah dalam dekapan sepasang tangan kokoh. Pemilik tangan kokoh itu terkadang terlihat kikuk. Hari ini adalah hari ketiga lelaki pemilik tangan kokoh itu belajar memberikan cintanya sebesar seribu persen kepada anaknya.

Tangan kokoh itu menepuk pelan punggung tubuh mungil dan mulutnya komat-kamit. Entah apa yang diucapkan. Mulut itu sepertinya sedang mendendangkan sebuah lagu, namun entah apa pula judulnya.

Seorang perempuan berbalut kain panjang memperhatikan adegan itu dari kejauhan. Sepasang mata tuanya meredup menyiratkan keharuan. Perlahan perempuan tua itu berjalan mendekati sosok tegap yang terlihat asyik komat-kamit.

“Nak, kapan kamu memberi nama anak kalian ini?” ucap hati-hati sang ibu, nenek si tubuh mungil.

Bagus, nama lelaki tegap itu terkejut, kemudian memandang lembut sang nenek, ”Ya Allah, saya lupa, Bu. Saya benar-benar lupa dan kacau setelah Nia pergi.”

Dipangkunya si mungil yang masih saja terlelap menikmati hangat sinar matahari pagi. “Maafkan ayahmu ini, Nak,” desah Bagus.

“Kami paham, Nak. Kami juga menahan diri untuk mengingatkanmu. Tidak baik berlama-lama dalam duka,” kata sang nenek.

Bagus memandang ibu mertuanya, “ Bu, saya dan almarhumah Nia belum pernah membicarakan nama untuk anak kami.” Mata elang Bagus beralih pada tubuh mungil di pangkuannya. Terngiang di telinganya pesan Nia tentang nama anak mereka, “Mas, besok tolong mintakan nama pada adikku Tyas untuk anak kita. Mas Bagus hanya boleh menambahkan nama saja.”

Pesan yang terasa janggal, namun Bagus hanya mampu merengkuh erat tubuh istrinya yang semakin lemah karena sakit yang dideritanya. Nia perlahan telah mengisi separuh hatinya. Selama ini hati Bagus dipenuhi oleh seseorang yang semestinya menjadi istrinya. Takdir jodoh mereka tertulis berbeda dari keinginannya. Bagus tidak berjodoh dengan Tyas, adik dari Nia.

“Maafkan ibu, Nak,” kata sang nenek sambil mengulurkan tangannya meminta si mungil untuk diserahkan kepadanya. Waktu berjemur telah usai, saatnya sang nenek membaringkan si mungil di buaian.

Bagus kembali terduduk lemas. Rasa sesal terpancar di wajahnya mengingat satu kewajiban sebagai ayah telah dia lupakan. Hampir sebulan dia sibuk dengan dirinya sendiri. Keluyuran dan nongkrong tidak jelas setiap siang hingga malam hari. Rasa kehilangan Nia membuatnya linglung, apalagi dengan hadirnya si mungil.

Bagus berdiri dan melangkah menuju kamarnya. Wajahnya penuh kebimbangan akan satu pinta dari Nia. Bimbang antara menghubungi Tyas atau tidak. Sejak Tyas pamit kembali ke kota tempatnya bekerja, mereka tidak pernah berkomunikasi. Komunikasi mereka kembali terputus.

Bagus memandang gawai dalam genggaman. Dia mengeja detak jantungnya untuk mengambil keputusan. Hubungi Tyas atau tidak? Bicara atau abaikan? Detak jarum jam di dinding menambah keras detak jantungnya. Foto profil dan nama Tyas masih membeku di layar gawai pemilik hati yang tergadai.

Tanpa sengaja ibu jarinya menyentuh nama “Tyas” di layar gawai. Bagus tampak terkejut, namun pantang untuk membatalkannya. Beberapa saat dering panggilannya tidak berbalas. Bagus mencoba meredam galau dengan beranjak menuju meja kerja di kamarnya. Dia mulai mempelajari beberapa dokumen kantor yang diantarkan sekretaris perusahaannya.

Ping … ping, tanda pesan whatsapp masuk di gawai Bagus. Dia alihkan sejenak perhatiannya dari lembaran-lembaran kertas di meja. Tanda pesan masuk dari Tyas. “Ada apa?” tertulis singkat dan terasa dingin. Kening Bagus berkerenyit dan dadanya berdesir.

Bagus tertegun. Dia mengulang membaca kalimat dingin itu. Ego laki-lakinya sesaat mencuat, hingga memutuskan untuk tidak menanggapi pesan dari Tyas. Bagus kembali menekuni dokumen-dokumen dan tampak larut dalam pekerjaannya.

Ketukan di pintu kamar terdengar, diikuti tawaran makan siang oleh ibu mertuanya. Bagus mengiakan dan melangkah keluar kamar menuju ruang makan. Ayah mertuanya sudah menunggu. “Ibu sudah menanyakan padamu tentang nama anakmu, Gus?” tanya sang ayah sambil mengambil lauk yang telah tersedia.

“Astaghfirullah, saya lupa menghubungi Tyas lagi, Pak,” jawab Bagus sambil beranjak. “Saya ambil gawai dulu,” namun ditahan oleh sang ayah. “Nanti saja. Lanjutkan makan dulu. Kenapa mesti menghubungi Tyas?” tanya sang ayah. Ibu yang telah menyusul bergabung nampak mengernyitkan dahinya pula.

Bagus tersenyum kecut dan menjelaskan bahwa untuk memberi nama anaknya, dia harus menghubungi Tyas sesuai dengan pesan almarhumah Nia. Sang ayah nampak menghela nafas, demikian pula sang ibu. Hening. Masing-masing larut dalam kilasan kisah yang baru saja berlalu.

Maaf, Pak, Bu, saya undur diri dulu. Saya akan menghubungi Tyas, selagi masih ingat,” Bagus pamit setelah menyelesaikan makan siangnya. Bagus meletakkan sendok dan garpunya di atas piringnya, kemudian berdiri dan meninggalkan meja makan.

“Aku minta waktumu untuk berbicara,” tulis Bagus begitu sampai di kamarnya. Pesan terkirim dan tanda centang dua tertera di layar gawai. Beberapa saat Bagus masih menatap layar, menunggu centang dua berubah warna menjadi biru. Satu menit, lima menit, sepuluh menit, tidak ada tanda pesannya dibaca.

Terdengar suara tangis dari kamar anaknya, Bagus bersegera menuju kamar itu. Si mungil terbangun dan sedang minum susu dibantu pengasuhnya. Sejenak Bagus menemani anaknya. Anaknya terlihat tenang dan tertidur. Bagus pun kembali lagi ke kamar.

Bagus tidak sabar menunggu tanggapan Tyas. Dia nekad menghubungi Tyas. Lama juga nada panggilnya tidak ditanggapi. Bagus mengulangnya dan diangkatlah panggilannya. Sebuah suara menyapa. “Maaf, aku sedang meeting, kalau ada hal penting untuk dibicarakan, silahkan hubungi lagi nanti malam.”

Bagus yang bersiap untuk mengucapkan salam menjadi batal, karena sambungan telponnya telah diputus oleh Tyas. Bagus merebahkan badan dan memandang layar gawai yang telah kembali gelap. “Tyas sepertinya tidak berubah. Susah melupakan kesalahanku,” gumam Bagus.

Malam hari setelah melaksanakan jamaah sholat Isya di masjid sebelah rumah, Bagus mengambil gawainya untuk menjalankan perintah Tyas. Deringan ke empat, nada panggilnya diterima. Kali ini secepatnya Bagus membuka pembicaraan.

“Assalamualaikum, Tyas. Semoga aku tidak mengganggu istirahat malammu,” sapa Bagus.

“Nggak. Ada apa?” jawab suara kurang ramah di seberang.

Bagus menghela nafas dan menata hatinya agar tidak terpancing atas ketidakramahan Tyas. “Aku minta tolong bantu aku untuk memberikan nama anakku,” singkat jawab Bagus.

“Lho, dia belum kamu berikan nama? Keterlaluan kamu, Gus! Ayah apaan!” nada sinis beruntun keluar dari mulut Tyas.

Bagus merasa tersinggung. Dia serasa ingin mengakhiri pembicaraan mereka, namun demi pinta Nia untuk anaknya, Bagus tidak mengakhirinya.

“Tyas, maafkan aku sekali lagi, aku hanya … ,” terhenti bicara Bagus karena Tyas langsung menyelanya.

“Maaf untuk apa? Peristiwa lalu itu? Hah!” dengus marah Tyas, “Demi mbak Nia aku hapus sudah semua cerita tentang kita! Bukan demi kamu!”

“Tyas, aku tidak ingin bicara tentang masa itu. Aku minta maaf setulusnya agar aku bisa dengan nyaman menyampaikan apa pentingnya kuhubungi kamu. Aku paham dan sudah menduga akan kamu terima seperti ini. Tidak apa-apa. Tapi tolonglah jangan kamu sewot begini?” Bagus masih berusaha menahan diri. 

“Oh, begitu? Silahkan bicara!” suara ketus Tyas masih mewarnai pembicaraan mereka berdua.

“Baik. Beberapa pekan sebelum Nia melahirkan, dia berpesan padaku untuk memintamu memberikan nama untuk anak kami. Permintaan itu selalu diulangnya. Tyas, tolong bantu kami untuk memberi nama keponakanmu. Lupakan sejenak kebencianmu padaku,” pinta Bagus.

“Ngarang kamu! Mbak Nia tidak pernah berpesan itu padaku. Bisa saja kamu, Gus!” sentak Tyas. Bagus terhenyak atas jawaban Tyas. Hening meliputi pembicaran mereka.

“Hallo … Tyas …?” Bagus cemas karena suara diseberang cukup lama terdiam, bahkan hembusan atau helaan nafas pun tidak terdengar. “Tyas, aku tidak main-main atau ngarang! Harus bagaimana aku dapat membuatmu percaya?” Suara Bagus tertahan menahan geram dan putus asa.

Beberapa saat kemudian suara Tyas terdengar, “Entahlah! Sunyi kembali. Bagus sibuk mengatur nafasnya yang memburu karena menahan jengkel atas sikap Tyas.

Bagus akhirnya Bagus memecah sunyi itu, “Aku mohon padamu Tyas.” Usaha terakhir yang mampu dilakukan Bagus.

“Katamu tadi aku kalian minta memberi nama untuk anak kalian? Mbak Nia yang meminta. Benarkah?” geragap suara Tyas di seberang.

“Ya. Aku tidak ngarang!” tegas Bagas.

Ada resah di suara Tyas, “Apa aku bisa? Berat bagiku pesan itu.”

Bagus lega sesaat karena Tyas tidak ngamuk atau bersuara ketus lagi. “Insyaa Allah kamu bisa. Satu kata pun tak apa,” jawab Bagus.

“Beri aku waktu. Esok aku hubungi kamu jika aku sudah menemukan nama untuk keponakanku. Met malam. Assalamualaikum,” tutup Tyas dan diikuti bunyi nada hubungan sambungan telepon terputus

Untuk kedua kalinya Bagus tidak sempat membalas salam penutup ataupun sekedar kata terima kasih. Bagus tampak menepuk jidatnya. “Aku yang memulai eh dia yang mengakhiri begitu saja,” gerutu Bagus.

Dipandanginya foto profil Tyas. Sebersit tanya melintas di hatinya, “Apa aku harus menjadi gila karena semua ini?”

 Bagus segera beranjak untuk menata dokumen yang masih berserak di meja kerjanya. Bayangan Nia menemaninya dan terkadang bayangan Tyas melintas mengganggu.