Suasana dingin yang tiada kehangatannya sama sekali di keluarga ini. Ibarat salju di tengah-tengah gurun pasir. Bahkan panasnya suasana gurun pasir pun tak dapat mencairkan salju dan bongkahan es.

“Nilai ujian nasionalmu harus lebih besar dari nilai tryoutmu.” Kata ayah. Keberatan mungkin iya. Tentu saja syarat itu sangat berat untuk anak pemalas sepertiku.

Tiba-tiba sebuah inisiatif gila muncul dibenakku. “Jika syaratmu ku penuhi, boleh aku meminta sesuatu?” Tanyaku. “Selama permintaanmu tak memberatkan kami.” Jawab ibu.

Dalam hati aku senang. Namun tak ingin ku tunjukkan senyum senangku. Mula-mula ku ambil buku tipis yang ku jilid sendiri dengan cover dari karton bufallo biru muda dan lakban hitam dipinggirnya, bertuliskan Satu Permintaan.

“Jika aku mampu memenuhi syaratmu, aku minta pada ayah dan ibu untuk menerbitkan buku ini.” Kataku sambil menyodorkan buku itu kepada ibu. “Tolong jangan hancurkan buku itu. Aku berjanji akan belajar dengan sungguh-sungguh.” Pintaku.

“Jika itu permintaanmu, entahlah. Kami tidak bisa menjanjikannya. Namun buku ini akan tetap kami simpan. Dan jika kami benar-benar tak mampu menerbitkannya, kau harus membayar buku ini dihadapan kami semua suatu saat nanti.” Kata ayah.

Aku hanya menghela nafas. Buku karyaku berada diantara hidup dan mati.

Waktu perang telah tiba, saatnya aku membuktikan kepada dunia inilah hasil kerja kerasku semalam hanya untuk ujian nasional. Aku berusaha untuk menghadapi kertas buram itu menjadi medan perangku.

Setelah ku anggap sebagai kertas buram yang berisi tulisan-tulisan aneh dan membingungkan. Sebenarnya memang demikian, namun aku tak akan menyerah. Semua ini ku lakukan bukan sama sekali untuk orang tuaku, melainkan untuk keselamatan calon buku pertamaku.

Semua usaha telah ku kerahkan, semua keringat telah ku alirkan. Hari demi hari ku lewati, ujian nasional pun telah berakhir. Ternyata usahaku tak sia-sia, bahkan benar-benar mencengangkan. Aku yang biasanya merupakan standar kelas tengah di sekolah, kini nilaiku melejit hebat.

Bagaimana tidak? Nilaiku merupakan nilai tertinggi ketiga diantara seluruh angkatanku. Aku lulus positif. Teman-temanku seketika menimpukiku dan menyorakiku. Aku tak tahu apa yang terjadi pada mereka, sikap itu sungguh sangat berlebihan. Lain halnya dengan orang tuaku, ketika ku katakan kepada mereka tentang nilaiku.

“Oh tertinggi ketiga.” Ujar ayah datar. Aku menghela nafas lengah. “Bagus.” Timpal ibu dengan nada datar pula.

“Lalu bagaimana dengan bukuku?” Tanyaku dingin.

“Entahlah, kami sendiri belum menyentuh bukumu sedikit pun setelah kau berikan kepada kami beberapa waktu lalu.” Jawab ibu santai.

Gigiku bergemeretak mendengarnya. Aku pun memilih menyendiri di kamar dibandingkan harus mencari masalah dengan tuan dan nyonya ini.

Inilah saat terakhir aku memiliki gelar SMA. Sekarang adalah waktu dimana aku harus melepasnya. Atau lebih tepatnya disebut dengan wisuda. Aku sama sekali tak mengharapkan kedatangan ayah dan ib. biarlah aku menikmati kelulusanku sendiri.

“Kiara Putri binti Rahmat Suharjo”

Aku pun menjabat tangan bapak kepala sekolah, disertai dengan pemberian medali yang dikalungkan di leherku. Kemudian aku turun dari panggung. Tak seperti teman-temanku yang lain yang disambut bahagia oleh kedua orang tuanya, bahkan sampai dicium pipinya. Jangankan untuk hal seperti itu, datang pun tidak. Event kelulusanku benar-benar datar, hanya menunggu panggilan, menjabat tangan, dan mengalungkan medali, kemudian kembali ke kursi.

Sesi wisuda berlalu. Niat pertamaku adalah melaporkan ijazahku kepada ayah dan ibu, berganti baju, kemudian tidur nyenyak. Benar-benar tak nyaman mengenakan kebaya sempit seperti ini.

Namun sesampainya aku di rumah, aku dikagetkan oleh police line yang menutup pagar rumahku. Aku bergidik. Sesuatu telah terjadi di rumahku. Aku pun terpaksa menumpang di rumah temanku yang bernama Elin, sekaligus meminjam bajunya.

“Rumahmu masih dalam pemeriksaan Ra.” Kata Elin.

“Apa yang salah pada rumahku? Ayah dan ibu bukanlah pejabat dan sama sekali tak paham bagaimana cara kerja korupsi.” Sangkalku.

“Bukan soal itu Ra, ayo sekarang kamu harus cepat-cepat mengganti bajumu dan ikut aku!” tegas Elin. Aku hanya bisa mendengarkan kata-kata  Elin. Kami lalu pergi dengan mobil Elin.

Ternyata Elin mengantarkanku sampai pada kantor polisi. Aku bertanya-tanya, sama sekali tak mengerti apa maksud Elin mengajakku ke tempat seperti ini. Perlahan kami melangkah memasuki kantor polisi tersebut. Sepertinya rumah hantu bukan lagi ditemukan pada rumah-rumah kosong, melainkan di kantor polisi. Suasananya menyeramkan. Elin melangkah menuju ruang kunjungan bagi para tahanan.

“Persiapkan dirimu. Kita akan bertemu dua orang spesial.” Ujar Elin lemah.

“Siapa?” Tanyaku semakin penasaran.

“Lihatlah Kiara! Siapa yang kini berada di depanmu?” Jawab Elin.

Aku menatap dua orang yang duduk di depanku. Petir menyambar hatiku hingga mati terperih. Dua orang ini benar-benar akrab di mataku. Dua orang ini telah menggunakan baju tahanan. Satu wanita dan satu pria.

“Kiara.” Bagiku panggilan datar itu adalah panggilan terhangat yang pernah ku dengar dari dua orang ini. Panggilan kesayangan mereka untukku adalah ‘anak nakal’. Namun, seperih apapun hatiku melihat mereka, air mataku masih sulit untuk menetes.

“Ada apa dengan ayahd an ibu?” tanyaku datar. Ayah hanya menghela nafas panjang, sementara ibu menundukkan kepalanya.

“Mereka terduga sebagai tersangka kasus kekerasan terhadap anak Kiara. Apabila terbukti, keungkinan besar mereka akan ditahan selama 5 tahun.” Elin menjawab pertanyaanku, padahal aku tahu ayah dan ibu enggan untuk menjawabnya.

“Bukumu sudah kami kirimkan ke penerbit, jauh hari sebelum wisudamu. Tunggu hingga bukumu diterbitkan!” Timpal ibu. Mendengar kata ibu, aku tertegun.

“Maafkan kami Kiara. Maafkan kami jika semua bentuk perhatian dan kasih sayangmu malah kami tepuk sebelah tangan. Maafkan kami jika kamu merasa haus akan kasih sayang kami. Maafkan kami yang gagal mendidikmu.” Ayah memohon.

Dadaku terasa sesak. Mataku mulai terasa pedih. Air mata ini mulai terproses, namun ku paksa untuk berhenti. Karena aku telah berjanji pada hidupku untuk tak meneteskan setitikpun air mata, sepahit apapun musibah yang ku terima.

“Yang mengangkap mereka adalah polisi di samping rumahmu Ra. Warga sekitar kampung melaporkan peristiwa dan penderitaan yang kau alami kepada polisi tersebut.” Jelas Elin. Jujur saja, kenyataan ini benar-benar menyakitkan. Penderitaan ini seharusnya cukup aku yang memiliki, cukup aku yang merasakan.

Ayah dan ibu memang selalu menyiksaku, namun aku tak pernah berniat menjebloskan mereka ke dalam jeruji besi. Hanya petunjuk dari Allah yang ku harapkan agar tetap menuntun hati ayah dan ibu di jalan-Nya yang lurus. Meskipun kenyataannya ayah dan ibu tetap pada sifat keras mereka.

Tiba-tiba ayah memelukku. “Maafkan ayah dan ibu nak. Maafkan kami.” Untuk pertama kalinya sepanjang hidupku, ayah menangis. Ternyata ibu juga ikut memelukku.

“Maafkan kami nak, kami memang orang tua bodoh yang tak siap memiliki seorang anak. Kami memang orang tua yang sesta bagimu Kiara.” Ibu ikut meronta menangis dihadapanku. Semua ini ronis. Tak pernah ku lihat kejadian sedramatis ini. Ternyata aku yang merasakannya.

Seketika aku merasakan partikel-partikel tajam merasuki nadi, menjalar hingga ke hati. Hingga aku merasakan sebuah perasaan yang langka bagiku. Perasaan yang dimiliki teman-temanku terhaadap orang tuanya. Perasaan yang mengharukan, perasaan yang indah, dan perasaan yang menyentuh hati ini. Ini pernyataan indah pertama dalam hidupku. Aku mencintai kedua orang tuaku.

Aku tak mampu lagi menahan air mataku bekerja. Emosiku meluap. Aku tak ingin melihat ayah dan ibu menderita seperti ini. Seketika aku memeluk mereka berdua, tenggelam dalam tangis. Kami berpelukan bersama, menangis bersana, dan semua itu terjadi untuk pertama kalinya dalam hidup kami.

Semula kami dikenal sebagai keluarga tak berstatus, kini kami ciptakan sejarah yang mengharukan seumur hidup kami. Setelah ini, kami dipisahkan oleh waktu selama 5 tahun. Semoga 5 tahub berjalan secepat 5 hari 5 malam, agar aku bisa menyatu kembali dengan ayah dan ibu.

Seikat janji baru telah ku genggam. Suatu saat nanti, aku akan berusaha membuat ayah dan ibu tersenyum bahagia karena aku. Akulah yang akan menghidupi keluarga kami. Aku ingin membalas berjuta tetes peluh perjuangan ayah dan ibu dengan kebahagiaan.

Lima tahun berlalu.

Kini namaku Kiara Putri. Hari-hariku terasa menyenangkan, meskipun sifatku tak jauh berbeda dari sifatku yang dulu. Aku adalah orang yang selalu berkhayal, menciptakan imajinasi dari semua yang ku lihat, yang ku dengar, dan aku rasakan.

Aku telah menciptakan 10 buah buku dengan judul yang berbeda-beda. Salah satu dari 10 buku yang aku sukai adalah buku yang kali ini ku baca. Dengan tema “Satu Permintaan” yang merupakan buku pertamaku. Aku juga sering menghadiri beberapa seminar jurnalistik dan literature. Namaku juga tersebar di beberapa penjuru daerah di Indonesia sebagai seorang penulis.

Ku baca sesuatu yang telah ku tulis pada buku ini.

Satu Permintaan

Ayah,

Kharismamu tersamarkan

Bijakmu terhapus oleh amarahmu

Amuk kapak yang menguasai jiwamu

Bahkan tak dapat ku lihat setitik cahaya kasih sayang dari bayangmu

Ibu,

Pesonamu memudar

Lembutmu tersamarkan

Oleh bara emosi yang membakar jiwamu

Bahkan tak dapat ku lihat sebutir benih cinta dalam hatimu

Ayah, ibu.

Andai hati seperti buku

Biar ku tulis di dalamnya satu pintaku, dengan tinta air mata

Biar ku gambar di dalamnya apa yang ku inginkan darimu dengan warna kesedihan

Agar kau tahu apa yang mendesak benakku selama ini

Satu permintaanku

Hanya setetes cinta dan sekeping kasih sayang darimu.

Tak terasa, setitik air mata mengalir membasahi pipiku hingga menetes di atas puisi ini.