Bruk! Ada motor yang menimpa sisi kanan motor saya.

Warna Merah Justru Buat Penanda Laju

Siang tadi, selepas Duhur, saya ada perlu ke luar rumah. Karena jarak tak terlalu jauh, maka saya memilih mengendara motor matic.

Seperti biasa, ketika saya mengendara motor, kecepatan berkisar 40 km/jam. Jikalaupun 50-60 km/jam pun tak bakal lama, karena saya merasa ada yang aneh dalam tubuh saya ketika motor melaju secepat itu. Ndreweli istilah Jawa Timurannya.

Menjelang area lampu merah di pertigaan jalan, saya pun mengurangi laju motor yang saya kendarai, hingga tepat berhenti di belakang marka sebelum zebra cross, di area berwarna merah pertanda tempat berhenti motor.

Beberapa motor di belakang saya ada yang nekat menembus lampu merah, sementara di seberang sisi kanan, kendaraan bermotor mulai melaju baik yang lurus atau berbelok kanan. Tak ayal bunyi klakson dan suara umpatan orang pun terdengar, menegur para pembalap dadakan penembus lampu merah.

Saya sempat terkesima melihat pemandangan yang demikian. Sambil geleng-geleng kepala, saya membayangkan para pengendara motor penembus lampu merah itu dulu dapat SIM C-nya pada mungut di pos ronda apa gimana?

Tak lama kemudian, beberapa detik dari saya punya lamunan. Bruk! Ada motor yang menimpa sisi kanan motor saya. Kaki kanan saya tertimpa motor orang lain, namun saya masih bisa menjaga keseimbangan.

Rupanya itu pengendara motor yang juga hendak menerobos lampu merah namun kecepatannya kurang sehingga si pengemudinya berhenti mendadak tepat di samping kanan saya, menyerempet paha dan kaki kanan saya. Untung telapak kaki kanan saya tak terlindas karena tersangga dudukan kaki khas motor matic.

Saya menoleh ke arah belakang kanan, saya lihat pengendara motor nyelonong itu tipikal pria yang postur sama usianya, masih layak diberi pelajaran.

Prok! Satu Kuntul kiriman tangan kanan saya mendarat tepat diwajahnya. Pria itu kenakan helm tak bertutup wajah, namun dia kenakan masker hidung-mulut.

Dia mengaduh, tangan kirinya menutupi mata dan tangan kanannya memberi tanda minta maaf dan bilang; "Maaf, ampun-ampun Pak."



...menghindari perbuatan dzalim terhadap orang yang sudah minta maaf.

Pelajaran di Lampu Merah

Kuntul alias Bangau, satu teknik pukulan kreasi pencak silat aliran Perisai Diri yang pernah saya pelajari. Sebuah teknik memukul dengan kecepatan tinggi, mendadak, menyasar wajah terutama area mata. 

Meski memiliki kekuatan sedang karena momen gerakan yang cepat, teknik Kuntul ini bisa membuat rontok nyali orang yang mendzalimi kita.

Bentuk Kepalan Telapak Tangan Dalam Teknik Kuntul

Dalam agama, membalas perilaku dzalim itu diijinkan, meski memaafkan jauh lebih baik.

Hanya saja, dalam hal menghadapi pengendara motor yang punya perilaku berkendara membahayakan orang lain, saya memilih memberinya sebuah tanda mata. 

Saya merasakan bagian yang masih bertulang ketika tekukan jemari Kuntul saya mendarat di wajah pria itu, pertanda tak sampai kena mata, cukup di bagian tulang di bawah matanya.

Beberapa pengendara motor saya lihat turun menuju pria itu, mungkin hendak ambil bagian mau memberi pelajaran, namun saya berusaha mencegah mereka, menghindari perbuatan dzalim terhadap orang yang sudah minta maaf.

Lalu, lampu hijau menyala, saya lihat pria itu masih bisa memegang kendali kendaraan, saya pun menarik gas motor melaju melintasi area lampu merah dengan aman, sambil melihat dari kaca spion orang bertanda mata tadi melaju pelan, lama-lama tak kelihatan.

Saya pun menuju ke tujuan menyelesaikan satu urusan, lalu kembali pulang, selamat tiba di rumah.



...berdoa sebelum memulai perjalanan, mematuhi rambu lalu lintas, menghormati pengendara lain dan menghargai pejalan kaki...

Tertib Berlalulintas Menunjukkan Adab

Banyak hal yang menjadi hikmah atas kejadian siang tadi;

  1. Mengendarai kendaraan bermotor, pastikan kondisi tubuh dan kendaraan fit serta prima, rem juga tidak blong. Ibarat peribahasa; "Putus cinta tak masalah, putus rem masuk UGD kita."
  2. Patuhi rambu lalu lintas, ketika menemui peringatan dalam beberapa meter di depan ada area lampu merah alias Bangjo, segera turunkan kecepatan motor/mobil. Tak usah memaksa menembus lampur merah.
  3. Lampu merah yang diberi tanda detik-detik kapan terjadi perubahan warna lampu memang relatif lebih aman. Karena, pengendara bisa memperhitungkan kapan melaju dan kapan berhenti, secara bertahap memelankan laju kendaraan setelah sebelumnya kecepatannya sesuai aturan berkendara motor dalam kota, yakni maks. 40 km/jam.
  4. Jika mengendara mobil kemudian warna lampu merah Bangjo menyala, maka berhentilah di belakang area warna merah di wilayah lampu merah, guna menghormati wilayah motor berhenti.
  5. Selebihnya berdoa sebelum memulai perjalanan, mematuhi rambu lalu lintas, menghormati pengendara lain dan menghargai pejalan kaki serta penyebrang jalan, khususnya di wilayah zebra cross sebagai tempat aman menyebrang yang dilindungi oleh aturan Undang-Undang.

Sudah lama sekali tak bermain tangan yang demikian, saya agak menyesal memberi pelajaran ke pengendara motor yang ceroboh tadi siang. 

Tapi kalo gak dikasih pelajaran berupa tanda mata, maka pria tadi bisa mengulangi kecerobohan berkendaranya entah kapan dan di mana.

Tadi saya cuman mau meludahinya saja, tapi saya pas kenakan masker wajah. Mau melepas masker terus meludah  keburu kehilangan momen tepat.

Juga, menjadi kebersyukuran tersendiri bahwa syaraf motorik tangan kanan saya mulai membaik, bisa melakukan gerakan bertenaga dan cepat. Alhamdulillah.

Selanjutnya saya janji tak gampang mengumbar teknik beladiri sembarangan. Semoga saya dan pria bertanda mata tadi sama-sama bisa mengambil hikmah. Lagi pula, sekarang masih bulan Syawal.

Mari berkendara di jalan raya dengan aman, sehat dan selamat.