Berbondong-bondongnya mahasiswa yang turun ke jalanan di berbagai daerah di Indonesia pada akhir Oktober 2019 memiliki andil dalam menggetarkan hati Presiden Joko Widodo untuk berpikir menerbitkan Perppu KPK. Aksi mahasiswa tersebut adalah bentuk reaksi terhadap Revisi UU KPK yang sedang diusulkan oleh DPR sebelum masa jabatan presiden 2014-2019 berakhir. Mahasiswa menuntut Presiden untuk menerbitkan Perppu agar dapat membatalkan pemberlakuan UU tersebut.

Sekitar 16 tahun sebelumnya, Francis Fukuyama bekerja sebagai salah satu akademisi penasihat politik di Gedung Putih Amerika Serikat. Ia adalah penulis sebuah buku sensasional berjudul The End of History and the Last Man yang terbit di Amerika Serikat pada tahun 1992.

Pada satu momen saat bertugas di Gedung Putih, Fukuyama tergolong seorang right-wing yang mendukung invasi Amerika Serikat ke Irak. Mendekati hari penyerbuan terhadap Irak, Fukuyama berubah pikiran dan melihat konsekuensi yang tidak sesuai perkiraannya. Ia membujuk pemerintah untuk membatalkan invasi tersebut meskipun sia-sia.

Dua cerita ini memperlihatkan satu kesamaan, atau Presiden Jokowi dan Francis Fukuyama memiliki satu kesamaan. Mereka sama-sama pernah berubah pikiran. 

Sekilas hal ini terlihat kecil, namun terdapat dampak yang besar karenanya, terlebih jika konsekuensi dari perubahan pikiran memiliki dampak terhadap jutaan manusia. Tulisan ini berusaha menjelaskan mengapa manusia, termasuk dua tokoh yang telah disebutkan, merngubah pikirannya dan apa saja faktor di belakangnya.

Incosinstency Bias

ApakahAnda pernah membuat resolusi di setiap awal tahun dan kembali menempatkan resolusi tersebut di tahun berikutnya? Jika iya, Anda tidak sendirian dan tidak perlu murung karenanya.

Di setiap momen, Anda menyusun resolusi, seperti berusaha diet mengonsumsi gula. Anda berada di situasi yang disebut oleh Thaler & Sunstein (2008) sebagai kondisi yang cool.

Ketika Anda menyusun resolusi diet gula, Anda sering kali sedang tidak memiliki makanan dengan kandungan gula di sekitar Anda. Situasi ini sangatlah kondusif untuk Anda berpikir bahwa mengurangi konsumsi gula dapat membawa manfaat bagi kesehatan. 

Namun, saat Anda bertemu dengan makanan bergula dan Anda melanggar resolusi tersebut, Anda sudah tidak lagi konsisten dengan resolusi yang Anda buat karena kali ini Anda berpikir melawan dorongan nafsu yang muncul akibat melihat makanan bergula. Dengan kata lain, nafsu ataupun emosi dapat mengubah pikiran Anda karena ia dapat mengurangi kemampuan berpikir rasional.

Mempertaruhkan Reputasi

Salah satu konsekuensi yang sangat berkaitan dengan keputusan untuk mengubah pikiran adalah reputasi dan seorang individu benar-benar mempertimbangkan hal ini (Gneezy, Meier, & Rey-biel, 2011). Bila merngubah pikiran menjadikan seorang individu dipandang rendah atau kehilangan reputasi, bahkan kehilangan kepercayaan dari rekan bisnis, mempertahankan pikiran atau pendirian adalah keputusan yang tepat.

Contoh kasus seperti ini dapat dijumpai dengan mudah ketika melihat sikap para politisi di Indonesia. Hari ini, mereka menentang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak, besoknya sudah berubah menjadi pendukung wacana tersebut.

Insentif Mengubah Pikiran

Dalam mengubah pikiran, tentu seseorang harus mempunyai alasan dan dapat memperkirakan manfaat yang akan didapat. Dr. Julia Shvets, akademisi dari Christ College Universitas Cambridge, dalam sebuah podcast di Freakonomics Radio episode 379, pernah berpendapat bahwa insentif atau stakes dari keputusan mengubah pikiran adalah salah satu alasan krusial.

Meskipun tidak sepenuhnya manusia mempertimbangkan insentif, terlebih yang bentuknya material, akan tetap beberapa tindakan sangat berkaitan erat dengan pertimbangan insentif ataupun konsekuensi yang mungkin dihasilkan.

Seorang pemuda memutuskan untuk berhenti merokok agar dapat menabungkan uang untuk pembelian rokok. Namun, ia yakin kalau dalam lingkungan bisnisnya merokok ketika saling bernegosiasi dapat melancarkan kesepakatan bisnisnya. Ia memutuskan untuk tetap merokok ketika sedang melakukan negosiasi karena benefit yang mungkin didapat lebih besar daripada menabungkan uangnya.

Ditampar secara Langsung oleh Realitas

Michael Burry, salah seorang manajer investasi, menyarankan kepada kliennya untuk menyalurkan dananya di Credit Default Swap (CDS) sebagai antisipasi default industri perumahan. Hal ini mengundang kecaman karena CDS melawan industri perumahan adalah ibarat David melawan Goliath.

Burry tetap teguh dengan pendiriannya dan membeli CDS dengan harga murah, bahkan dicemooh oleh para bankir saat itu. Ketika krisis terjadi, Burry menjawab keraguan para kliennya dan mengantongi return sebesar 490 persen dari dana yang ia keluarkan untuk CDS.

Kisahnya ini menggambarkan bahwa masyarakat overconfident terhadap sustainabilitas investasi berbasis housing mortgage dan yakin kalau probabilitas kegagalannya sangat kecil. Realitas akhirnya menampar pelaku industri keuangan untuk mengubah pikiran dan keyakinannya.

Perilaku overconfident semacam ini terjadi karena seseorang merasa yakin memiliki pengalaman yang mumpuni dan diperkuat dengan kebiasaan mereka sendiri yang memilah-milah informasi hanya untuk mendukung keyakinan mereka sendiri atau self-serving attribution bias (Libby & Rennekamp, 2012). Bias seperti ini bahkan memiliki pengaruh lebih besar terhadap pengambilan keputusan daripada informasi faktual.

Saya pun Memiliki Kesamaan yang Dimiliki Dua Tokoh Tersebut

Perilaku mengubah pikiran kerap kali dipandang sebagai sikap yang tidak teguh dan bahkan sering diasosiasikan sebagai tindakan pengecut dan pragmatis. Mereka yang menghadapi perilaku ini, ketika dilakukan oleh kawan atau koleganya, kerap kali merasa jengkel, meskipun mereka sadar bahwa ada rasionalisasi di balik tindakan ini.

Tidak bijak jika kita memandang negatif hal ini. Apa yang dipikirkan manusia kerap kali tidak sejalan dengan realitas dan manusia itu sendiri pun memiliki firasat dan objektivitas untuk menilai kemanjuran pikirannya. Secara sederhana, tidak ada yang pasti di dunia ini selain ketidakpastian itu sendiri.

Saya termasuk individu yang memiliki concern dan idealisme tinggi bahwa informasi dan media massa harus berjalan dengan nilai objektivitas dan mengesampingkan pragmatisme. Di lain sisi, saya juga harus memahami realitas bahwa menulis dengan headline yang clickbait adalah cara yang efektif untuk menyampaikan informasi karena memanfaatkan nafsu warganet mencari informasi yang sensasional.

Namun, judul tulisan clickbait dapat juga digunakan untuk mengedukasi masyarakat jika isi tulisannya membawa informasi yang berbobot. Oleh karena itu, saya rasa mengubah pikiran saya yang terpaku pada idealisme demi mengedukasi warganet adalah pilihan yang tepat.

Referensi