Belum terlalu lama berselang, bumi dihuni oleh dua miliar penduduk. Lima ratus juta adalah manusia dan 1,5 miliar sisanya penduduk pribumi yang tidak dimanusiakan. Yang pertama menciptakan kata, yang lainnya mengikuti. (Jean Paul Sartre , disadur dari kata pengantarnya dalam buku The Wretched of The Earth karya Frantz Fanon).

Kata-kata dari Jean Paul Strate ini mengajarkan bahwasanya kebanyakan dari kita adalah generasi-generasi pribumi yang tidak dimanusiakan. Generasi yang mengikuti kata-kata karena sebagaimana diketahui kaidah tulisan dalam nusantara sudah ditemukan semenjak abad ke-5 di tepi Sungai Mahakam.

Sebagai sesama penganut kata yang tak mampu menciptakan kata, sudah seharusnya tidak ada yang boleh merasa jago apalagi menggurui. Termasuk tulisan ini tidak bermaksud menggurui, melainkan hanya sekelumit keresahan yang keluar dari pikiran.

Hoax bukanlah hal baru. Hoax sudah bisa ditemukan jejak-jejaknya bahkan sebelum abad ke-16. Tidak jarang, hoax digunakan sebagai salah satu cara pemerintah guna menenangkan rakyatnya sebagaimana cara Benjamin Franklin pada 1745 melalui Pennsylvania Gazette melansir tentang batuan China yang bisa digunakan untuk mengobati rabies, kanker, dan penyakit mematikan lain.

Di negeri di mana pers dikuasai oleh pemerintah, hoax menjadi salah satu cara propaganda ide dari pemerintah. Hoax memang dinilai semakin lama semakin kronis, terlebih mengingat era kebanjiran informasi seperti saat ini. Perang akan hoax sejatinya sudah dilakukan sejak tahun 1960 an melalui gerakan-gerakan kecil yang disebut literasi media. Jurnal mengenai literasi media sudah banyak di jejaring dunia maya.

Kembali ke wacana (entah wacana atau memang sudah terjadi) pemerintah untuk membentuk Satgas Anti Hoax. Bagi saya wacana ini adalah sebuah langkah spekulasi yang sangat akrobatik. Saya merasa pemerintah mulai salah mengidentifikasi masalah yang terjadi.

Hoax akan mati ketika tak ada yang mempercayainya, tak ada yg menyebarkannya, tak ada yg menganutnya. Hal yang diperlukan saat ini ialah pencerdasan masyarakat, sebagaimana dilakukan surat kabar Republika, bukan mematikan sumber-sumber kebebasan bersuara. Hoax tak akan bisa dimusnahkan, selama permintaan dan objek penerima hoax masih ada. 

Tim anti hoax ini bisa jadi pisau bermata ganda. Bisa jadi baik karena menghancurkan hoax namun bisa jadi buruk jika definisi hoax disimpangkan semaunya. Seberapa independen satgas ini? Siapa yang bisa menjamin keberpihakan satgas ini? Siapa yang bisa menjamin bahwa hoax tidak akan berubah definisi dari berita salah menjadi berita yang tidak disenangi?

Siapa yang masih bisa yakin bahwa satgas ini tidak berpihak ke pemerintah?Cara-cara pemerintah membentuk tim satgas anti hoax terlalu berlebihan. Mengingat negara ini lagi butuh hiburan untuk diketawai. Dan bukankah hoax selalu menjadi hiburan bagi kaum "melek media"?

Ayolah pak. Kita butuh pencerdasan media, bukan pemotongan lidah-lidah kritis. Apakah kita akan menuju ke masa otoritarian pers? Masa dimana pemerintah mengatur pers sekenanya? Mengapa tidak dilakukan pencerdasan akan hoax dibadingkan ide "akrobatik" membentuk satgas?

Apakah mencerdaskan kehidupan bangsa bukan lagi tugas pemerintah? Jika satgas ini terbentuk, mungkin benar apa yang dikatakan oleh Wisnu Prasetyo dalam bukunya berjudul Suara Pers, Suara Siapa, yaitu pendulum kekuasaan negeri ini telah berayun dari rezim negara (state regime) menuju rezim media (media regime). Ah, negeriku sedang rindu ketawa.