Pemerintah Jepang ditugaskan pada Agustus 1942 dengan mengawasi inisiatif propaganda Jepang yang dikenal sebagai Sendenbu. Organisasi ini bekerja untuk meningkatkan citra pemerintah Jepang melalui berbagai cara, termasuk mempublikasikan kebijakan pemerintah.

Pembangunan Koran Indonesia Raya yang memuat propaganda pemerintah, berita militer, dan pemasaran budaya merupakan aksi lain yang dilakukan Barisan Propaganda. Setiap hari, kecuali hari libur dan Minggu, surat kabar empat halaman diterbitkan. 

Kebudayaan, khususnya sastra, merupakan topik yang banyak mendapat perhatian dalam publikasi ini. Sanusi Pane, salah satu editor Asia Raya, menulis "Koebudajaan Asia Raya," artikel pertama di penerbitan harian itu, serta "Ilmoe Spirit," artikel kedua. Kedua karya ini dianggap mewakili semangat sastra Jepang.

Indonesia Raya menerbitkan beberapa cerita pendek bersambung, antara lain "Kartinah" karya Andjar Asmara, "Noesa Penida" karya Andjar Asmara, dan Rukmini karya E.S.N.

Andjar Asmara menulis tulisan tentang hubungan sastra dengan propaganda Jepang, seperti "Toedjoean dan Kewajiban Bermain di Zaman Baroe", selain cerpen. Banyak cerita pendek lainnya muncul di surat kabar Djawa Baroe dan Pandji Pustaka.

Sebuah novel termasuk propaganda, Palawidja oleh Karim Halim, juga ditulis di samping cerita pendek. Pada masa Pendudukan Jepang, Karim Halim mencoba memperkenalkan penggabungan masyarakat pribumi dan Tionghoa dalam narasi Palawija. 

Novel ini berlatar di Rengasdengklok, sebuah dusun kecil di timur Jakarta di Indonesia, dan menceritakan kisah hubungan antara seorang pria pribumi, Soemardi, dan seorang wanita Tionghoa, Soei Nio.

Persatuan mereka memupuk ikatan antara masyarakat adat dan Tionghoa. Soemardi akhirnya terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah sebagai wakil Rengasdengklok (Syuu-Sangi Kai), sedangkan istrinya diangkat menjadi pembina Gerakan Putri Indonesia dan China, Fujinkai. 

Soemardi kemudian mendaftar di tentara Pembela Tanah Air ketika ada kesempatan. Dari lini belakang, sang istri menyambarnya untuk membela negara.

Drama dan sinema adalah dua bentuk propaganda lainnya. "Noesa Penida" adalah cerita bersambung karya Andjar Asmara yang kemudian dibawakan oleh Sandiwara Bintang Soerabaya dalam Koran Asia Raya. Cerita tersebut akhirnya diadaptasi menjadi sebuah film dengan judul yang sama. 

Persafi Nippon Eiga Sya grup Sandiwara Djaya Bersatu membawakan "Blooming Baoenja" Madjapahit, grup Sandiwara Djaya Bersatu membawakan "Musim" Bunga di Asia. Setiap hari, Indonesia Raya menerbitkan iklan dan kritik terhadap penampilan kelompok-kelompok tersebut.

Jepang membangun departemen teater di Pusat Kebudayaan Jepang sebagai saluran propaganda penting (Keimin Bunka Shidosho). Ini menghasilkan kehidupan teater yang semarak, dengan beberapa penulisan naskah dan revisi pertunjukan. Usmar Ismail, yang menulis drama "Liburan Artis" dan "Api", memiliki peran kunci dalam reformasi.

"Taufan Di Atas Asia", "Akal Istimewa", "Dewi Reni", dan "Insan Kamil" ditulis oleh El Hakim atau Dr. Abu Hanifah, kakak Usmar Ismail Maya yaitu perusahaan teater baru ciptaan Usmar Ismail, Dr. Abu Hanifah, dan Rosihan Anwar, adalah salah satu contohnya.

Lakon profesional Cahaya Timur yang dipimpin oleh Andjar Asmara, dan Bintang Surabaya yang dipimpin oleh Njoo Cheong Seng lahir saat itu. Sementara itu, perusahaan teater seperti Dardanella dan Bolero yang sudah ada sejak zaman Belanda terus mementaskan naskah-naskah baru dengan aktor-aktor baru.

Jepang mengadakan lomba menulis cerita, baik cerpen maupun drama, bekerja sama dengan berbagai harian seperti Jawa Baru, untuk menduplikasi karya propaganda. Cabang sastra Pusat Kebudayaan Jepang bertanggung jawab untuk menilai kompetisi ini (Keimin Bunka Shidosho).

Rosihan Anwar yang cerpennya "Radio" komunitasnya mendapatkan hadiah Rp 50,00 menjadi salah satu pemenangnya. H.B Jassin memasukkan cerpennya ke dalam bukunya Gema Tanah Air. F.A. Tamboenan (Poesaka Sedjati dari An Ajah), J. Hoetagalung (Koeli dan Roomusya), dan A.M. Soekma Rahayoe menulis skenario kompetisi penulisan naskah drama (Bull Bearing).

H.B. Jassin dikenal karena karya propagandanya, yang mencakup berbagai karya sastra seperti puisi, cerita pendek, dan pertunjukan. Banyak penulis memprotes kebijakan Jepang yang mewajibkan karya untuk tujuan propaganda. Usmar Ismail, yang semula percaya pada janji dan slogan Jepang, kini keberatan.

Sementara itu, Chairil Anwar, Amal Hamzah, dan beberapa kawan lainnya lebih dulu curiga dengan Jepang, menghina para seniman yang berkumpul di Kantor Pusat Kebudayaan. 

Amal Hamzah menciptakan lakon "Tuan Amin" sebagai spoof pada Armijn Pane, yang saat itu bersemangat mendukung Jepang dan menggubah sandiwara untuk Jepang. 

Armyn Pane saat itu memimpin Seksi Sastra Kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso), sebuah entitas buatan pemerintah pendudukan Jepang yang bertugas memobilisasi beragam potensi kreatif dan budaya untuk keuntungan Jepang.

Banyak penulis menciptakan karya sastra untuk tujuan propaganda. Beberapa penulis percaya bahwa kejujuran dan ketulusan sangat penting dalam pekerjaan mereka. Mereka menyoroti pentingnya seni untuk kepentingannya sendiri, bukan untuk propaganda. 

Hal ini terlihat dari artikel-artikel yang mereka terbitkan. Darmawidjaya menulis "Seni Oentoek Karya Soebrata Arya Mataram", "Sastrawan" karya Amal Hamzah, "Bahasa dan Sastra" karya B. Rangkuti, "Seni Kita Masa Depan", dan "Perang di Bidang Kebudayaan".