Sastra profetik memang istilah yang baru muncul belakangan. Awal tahun 2005, artikel yang ditulis Kuntowijoyo berjudul Maklumat Sastra Profetik terbit di Majalah Horison. 

Ada yang mengatakan bahwa terbitnya tulisan tersebut berhubungan dengan meninggalnya sang sejarawan cum sastrawan tersebut. Tapi lebih jauh dari itu, tulisannya tersebut menambah angin segar terhadap kesusasteraan masa kini.

Karya sastra profetik setidaknya harus memiliki kaidah; (1) epistemologi strukturalisme transendental, yakni sastra dibuat berdasarkan nilai-nilai yang terdapat dalam kitab suci. (2) sastra sebagai ibadah. (3) keterkaitan antar kesadaran. Sastra profetik ini tentu tak lepas dari etika profetik yang digagas Kuntowijoyo sendiri, etika tersebut yakni humanisasi, liberasi dan transendensi.

Namun, apakah karya sastra yang bersifat profetik ini hanya hadir setelah Maklumat Sastra Profetik Kuntowijoyo lahir? Jauh sebelumnya, sastrawan dari berbagai generasi bahkan sudah lebih dulu menulis karya sastra yang bermuatan profetik. Salah satu penulis yang dapat dikatakan menulis sastra profetik ialah Mochtar Lubis.

Mungkin sedikit aneh bagi sebagian orang saat menyebut Mochtar Lubis. Kebanyakan orang mengetahui sosoknya lebih kepada pendapatnya tentang ciri manusia Indonesia. 

Namun, di luar itu, ia pun menulis beberapa novel yang cukup profetis. Salah satunya adalah Harimau! Harimau! yang terbit tahun 1975. Di dalamnya kita dapat menemukan ciri-ciri profetik dalam karya sastra seperti yang diungkapkan Kuntowijoyo.

Novel ini bercerita tentang sekelompok pengumpul damar yang diburu oleh harimau yang kelaparan. Beragam cara mereka lakukan untuk lolos dan bahkan mencoba melawan harimau tersebut. Tapi sesungguhnya mereka tidak akan pernah bisa membunuh harimau tersebut. Karena harimau yang dimaksud bukan harimau yang biasa.

Dalam novelnya Mochtar Lubis menggambarkan bagaimana manusia memiliki nafsu yang begitu besar. Nafsu terhadap kekayaan, nafsu terhadap pengakuan orang lain, nafsu terhadap kekuasaan, bahkan nafsu terhadap birahi. 

Selain nafsu, ada pula hati yang gelisah terhadap apa yang menurut dirinya, agamanya, dan masyarakat pahami salah, tapi karena ego ia tak mau mengakuinya.

Buyung misalnya yang gelisah atas apa yang ia lakukan bersama Siti Rubiyah istri muda Wak Hitam. Dalam kitab suci apa yang ia lakukan merupakan suatu larangan. Namun, ia tetap memberikan pembenaran atas apa yang ia lakukan. Seperti yang terlihat dalam penggalan cerita berikut.

Dia telah berzinah. Dosa besar, yang hukumannya adalah neraka. Akan tetapi, anehnya dalam dirinya dia tak merasa terlalu berdosa (hal 73). ...Perasaan tidak berdosanya diperkuat pula oleh cerita Siti Rubiyah tentang kejahatan-kejahatan Wak Hitam (hal.74). ...dia merasa tidak terlalu berdosa. Malahan dia merasa gembira. Dia telah dapat memberikan kebahagiaan pula pada Siti Rubiyah, seperti Siti Rubiyah yang memberikan kebahagiaan padanya (hal. 75).

Dalam penggalan adegan tersebut kita melihat bahwa Buyung berada pada kondisi-boleh dikatakan-dilema profetis. Di mana ia masih mencoba alternatif-alternatif pembenaran atas apa yang telah ia lakukan. 

Bahkan sebelum perzinahan tersebut terjadi, sudah ada dilema yang begitu kuat antara perbuatan dosa yang dilarang dalam kitab suci, ketakutannya pada Wak Hitam, dan hasratnya pada tubuh perempuan tersebut.

Dilema kembali terjadi setelah Pak Balam diterkam harimau tua yang kelaparan. Sejak sat itu dia mulai berceracau tentang dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Dan menyerukan kepada rekan yang lainnya untuk mengakui dosanya dan bertobat sebelum harimau kembali menerkam mereka.

”..aku telah dapat firasat dan dapat mimpi. Sebelum kita berangkat dari kampung dua malam sebelumnya, dan malam kita akan meninggalkan rumah Wak Hitam...tidak hanya aku seorang saja. Akan tetapi semua kita akan mendapat celaka dalam perjalanan, yaitu tiap kita yang melakukan dosa besar (hal. 95). ....Awas, harimau itu dikirim oleh Tuhan untuk menghukum kita yang berdosa-awaslah harimau dikirim Allah-awaslah harimau-akuilah dosa-dosa kalian-akilah dosa-dosa kalian (hal.104).”

Sejak kejadian tersebut membuat jalan cerita dibayangi dosa-dosa yang pernah mereka lakukan. Ada yang ingin mengutarakan kejujuran seperti Sanip. Ada pula yang ingin membungkam kejujuran seperti Sutan dan Buyung, semuanya gelisah setelahnya. 

Ada perasaan dongkol mereka kepada Pak Balam. Kini, bukan hanya harimau yang mengancam, tapi bayangan masa lalu semakin lama semakin berontak untuk diutarakan.

Mochtar Lubis tidak hanya menekankan ihwal transendensi kepada kepercayaan agama saja. Tapi ia menyodorkan panteisme sebagai suatu paham yang tradisinya masih dilakukan masyarakat. Bahkan bukan saja cerita yang ada dalam novel, pada kenyataannya panteisme dalam beragam bentuknya masih tetap ada dan dilakukan.

“Ada jimat pelawan binatang buas dipakainya. Soalnya kini apakah tadi, ketika dia hendak melakukan hajatnya ke sumai, jimat ini dipakainya, atau dilepaskannya (hal/ 110). ...Aku harus menanyakan kepada orang halus. Kerja ini bebahaya (hal. 111). Jika harimau itu harimau siluman, maka darah di pisau akan tetap tinggal merah setelah dibakar api. Akan tetapi lihatlah, darahnya jadi hitam, jadi darah biasa,...dan dia adalah harimau biasa (112).”

Penggalan cerita di atas adalah saat Wak Katok yang mencoba untuk tetap menenangkan suasana yang terjadi. Dengan menekankan bahwa semuanya akan baik-baik saja berkat bantuan orang halus. 

Namun, tradisi panteisme tidak bersifat universal, hanya orang-orang yang memercayainya saja yang yakin akan kekuatannya. Meskipun Wak Katok adalah pemimpin rombongan itu, namun ada kalanya ia tidak memiliki kekuatan apapun saat keyakinannya bertolak belakang dengan keyakinan orang lain.

“Inikah Wak Katok yang gagah perkasa itu, guru paling besar, dukun paling besar, guru silat paling pandai, pemimpin yang paling besar. ...Lihat ini, jimat-jimatmu palsu, mantera-manteramu palsu. Inilah jimat-jimat yang dipakai oleh Pak Balam, oleh Talib, oleh Sutan, lihatlah, di mana mereka kini, .. mereka telah mati, telah binasa (hal 192).”

Kita bisa melihat bagaimana Mochtar Lubis berupaya untuk menghadirkan dua konsep transenden. Satu transendensi tmelalui agama, dan transendensi melalui panteisme di satu sisi.

Diakhir cerita beberapa dari mereka bisa selamat dari target buruan harimau. Tapi mereka memiliki kesadaran baru tentang bagaimana mengendalikan harimau yang mengaum dihati mereka. Setiap orang wajib melawan kezaliman. Untuk menjadi manusia ia harus terlebih dahulu membunuh harimau yang ada di dalam hatinya.

Meskipun sastra profetik secara peristilahan baru muncul jauh setelah novel ini ditulis. Namun, itu bukan berarti bahwa sastra profetik hanya bisa disematkan kepada karya sastra pasca-kuntowijoyo akan tetapi karya-karya pra-kuntowijoyo pun memiliki kandungan yang oleh Kuntowijoyo disebut sebagai kandungan profetik. 

Karya sastra profetik tidak hanya lahir sebagai kisah yang hanya enak untuk dibaca. Tapi bagaimana ia digali, dikembangkan dan berdampak dalam kehidupan transenden para pembacanya.

Harimau! Harimau! adalah satu dari sekian banyak karya sastra pra-kuntowijoyo yang memiliki nilai profetik di dalamnya.