Ketidakpastian adalah racun bagi pikiran manusia. 

Sejak kecil, kita menentang ambiguitas. Kita selalu ingin menemukan jawaban yang masuk akal atas pertanyaan yang membingungkan. Ketika berhadapan dengan ambiguitas tinggi dan jawaban yang kurang jelas, kita merasa tidak nyaman dan tidak aman. Kondisi semacam itu adalah hal biasa, alamiah, dan bukan masalah luar biasa.

Jika setuju dengan pernyataan di atas, Anda mungkin termasuk orang yang tidak senang diombang-ambing gelombang bimbang. Salah satu ciri orang yang tidak tahan berada dalam ketidakpastian adalah mudah percaya akan pernyataan orang lain. Banyak orang lebih memilih menjatuhkan diri ke dalam sumur pikiran sempit agar bisa menjauhkan kepalanya dari kebingungan.

Kita dengan mudah bisa menyaksikan orang-orang semacam itu di televisi, koran, Internet, atau di mana pun di sekitar kita. Tidak peduli betul atau salah, orang menjadi terburu-buru memberi penilaian, gampang mengambil keputusan, dan tergesa-gesa percaya akan berita atau rumor.

Kenapa mereka melakukan tindakan-tindakan konyol semacam itu? Jawabannya: mereka tidak ingin berlama-lama berada dalam kebingungan.

Orang yang tidak nyaman pada kebimbangan juga akan susah mengubah keyakinan yang telanjur mereka pilih, meskipun mereka tahu itu salah. Mereka tidak ingin kembali masuk ke dalam kebimbangan.

Sekarang, bayangkan sebuah negeri yang dipenuhi manusia seperti itu, Anda akan segera bisa melihat bahwa ketidaknyamanan pada ketidakpastian bisa berubah menjadi masalah yang luar biasa, atau mimpi buruk yang hebat.

Arie Kruglanski memperkenalkan istilah cognitive closure untuk menjelaskan keingintahuan seseorang untuk mencapai jawaban tegas atas pertanyaan yang membingungkan dan keengganan berdiam dalam ambiguitas. Bersama Donna Webster, pada 1994, psikolog sosial ini juga memperkenalkan cara standar untuk mengukur kebutuhan cognitive closure seseorang.

Para psikolog sering menyebutnya Need for Cognitive Closure Scale. Dengan menggunakan skala yang sudah dirancang sedemikian rupa, kita bisa mengukur seberapa tinggi atau rendah ketidaknyamanan seseorang pada kondisi membingungkan.

Orang yang memiliki kebutuhan penutupan kognitif yang tinggi cenderung mudah memberi penilaian dan mengambil keputusan. Mereka gampang percaya pada pernyataan orang lain, berpikiran tertutup, dan sulit menerima pikiran-pikiran baru.

*

Betulkah penyakit pikiran sempit tidak bisa disembuhkan? Saya punya kabar baik buat Anda yang merasa menderita penyakit ini. 

Beberapa bulan lalu, Creativity Research Journal memuat hasil penelitian tiga ilmuwan dari University of Toronto, Kanada, yang dipimpin oleh seorang psikolog, Maja Djiki. Berdasarkan penelitian mereka, obat penyakit pikiran sempit sesungguhnya murah dan mudah. Dengan membaca karya fiksi bermutu, orang bisa terhindar dan terlepas dari gangguan rasa tidak nyaman akan ketidakpastian. Begitulah kesimpulan penelitian mereka.

Untuk penelitian tersebut, 100 mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok diminta memilih satu esai di antara delapan pilihan esai yang ditulis oleh orang-orang terhormat seperti George Bernard Shaw dan Stephen Jay Gould. Kelompok kedua diminta memilih dan membaca satu cerita pendek. Cerita-cerita pendek itu ditulis oleh penulis ternama seperti Wallace Stegner, Jean Stafford, dan Paul Bowles.

Setelah membaca esai atau cerita pendek, peserta mengisi survei untuk mengukur kebutuhan mereka akan kepastian dan stabilitas. Hal ini menggunakan model pengukuran Need for Cognitive Closure Scale yang diperkenalkan Kruglanski.

Studi ini menemukan bahwa mahasiswa yang membaca cerita pendek memiliki skor lebih rendah daripada mereka yang membaca esai — yang berarti mereka kurang bermasalah pada ketidakpastian. “Paparan karya sastra dapat menawarkan cara bagi seseorang untuk lebih berpikiran terbuka,” kata Djiki.

Di akhir artikel mereka, ketiga ilmuwan ini menyarankan agar institusi pendidikan memberikan porsi yang lebih besar atas seni dan humaniora. 

Membaca karya sastra, menurut para ilmuwan tersebut, bisa membuat seseorang memiliki cakrawala pikiran yang lebih lapang dan membantu mereka untuk bisa menyelami dan menerima perspektif orang lain. Mereka pun menjadi lebih kreatif dalam mengambil keputusan. Ilmu lain tidak mampu melakukan hal semacam ini.

Sesungguhnya hal yang sama sudah diingatkan oleh Konfusius pada 500-an SM. Dia mengatakan, “Tidak peduli seberapa sibuk kamu pikir dirimu, kamu harus menemukan waktu untuk membaca, atau kamu menyerahkan dirimu untuk dipilih oleh kebodohan.” Itulah sebabnya orang-orang Yunani Kuno, apa pun profesi mereka, sejak kecil, membaca dan mencintai karya-karya Homer.

Atau, jika Anda pernah membaca seri A Song of Ice and Fire — karya yang mungkin Anda lebih kenal karena serial televisi Game of Thrones, melalui tokoh Jojen Reed di seri terakhirnya, A Dance with Dragons, George R. R. Martin mengatakan, “Reader lives a thousand lives before he dies. The man who never reads lives only one.

*

Demi menunjukkan keindonesiaan saya, sebelum menutup tulisan ini, saya harus menyampaikan minimal satu kabar buruk. Di negeri ini, kabar buruk selalu lebih penting dibanding dengan kabar baik.

Kabar buruknya: pemerintah sedang melakukan usaha yang sangat dahsyat untuk membuat kita tetap menjadi manusia yang tidak nyaman atas ketidakpastian dan ambiguitas. Pemerintah ingin kita tetap menjadi manusia berpikiran tertutup seperti mereka.

Jika Anda tidak percaya, lihatlah pelajaran atau kurikulum sekolah adik atau anak-anak Anda. Hampir tidak ada, untuk tidak mengatakan tidak ada, ruang yang bisa membuat mereka menjadi manusia berpikiran terbuka.

Maka, sekarang, bertanyalah kepada diri Anda: apa kabar masa depan?

*

Terakhir, tanpa tambahan komentar apa pun, saya hendak mengutip hasil dari satu penelitian berikut ini:

Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin Prof Dr Bambang Pranowo—yang juga guru besar sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal.

Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia.

Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom.