7 bulan lalu · 84 view · 10 min baca menit baca · Budaya 58184_94298.jpg

Sastra Berutang Nyawa; Holocaust versi Indonesia

Pertanyaan Penderitaan

Pernahkah orang bertanya mengapa Jerman kala menciptakan birokratis rasional, harus membasmi orang Yahudi? Mengapa Palestina terus berteriak menuntut kesejahteraan, hingga banyak mayat tergeletak sporadis di lorong-lorong Gaza? Jika memang tak ada sejarah yang dibangun tanpa darah, pernahkah kita bertanya diri, apakah pembunuhan massa para PKI wajar ditempatkan dalam usaha merekonstruksi sejarah Bangsa?

Sejarah menoreh kisah holocaust, sekaligus melupakannya. Yang tinggal hanyalah rasa trauma menghantui setiap generasi setelahnya. Bahkan membuka arsip sejarah pun orang gelisah. Bukankah “Penderitaan yang berkepanjangan mempunyai hak untuk diungkapkan sebagaimana orang yang dirajam mempunyai hak untuk berteriak?”[1]

Geneologi Holocaust

Holocaust adalah termin kunci pengungkapan penderitaan rakyat Yahudi di bawah rezim diktatoris Nazi-Hitler. Secara etimologi, holocaust berasal dari bahasa Yunani dan memiliki makna dasar religius: hollos: seluruhnya, seutuhnya, segalanya; dan kau(s)tos: membakar atau bakar. Holokaustos/holocaust: korban bakar seluruhnya, korban yang terbakar seluruhnya.

Pada awalnya orang Yahudi sendiri menggunakan kata Shoah yang berarti bencana, untuk mengungkapkan penderitaannya. Kadang-kadang pula dipakai nama Auschwitz sebagai ungkapan pars pro toto untuk penyebutan kolektif penderitaan mereka.[2] 

Menurut Sygmun Bauman, Holocaust adalah penghancuran sistematis orang Yahudi oleh Nazi. Karena direncanakan dengan kompleks dan dilaksanakan dengan maksud tertentu, maka tragedi ini dapat dipandang sebagai paradigma modern rasionalitas birokrasi. Apa maksudnya?

Terdapat beberapa faktor[3] penyebab pembasmian ras Yahudi dari Jerman: Pertama, penciptaan birokrasi yang rasional, yakni menciptakan masyarakat yang baik dan barometernya adalah masyarakat yang bebas dan bersih dari Yahudi yang jahat. 


Holocaust bukanlah akibat irasional atau akibat kebiadaban pra-modern, tetapi merupakan produk birokrasi rasional yang modern. Nazi dan birokratnya berupaya mencapai tujuannya itu secara berdarah dingin dan metodis. Hannah Arendt, seorang filsuf Yahudi, menyatakan bahwa inilah yang disebut bannality of evil.

Kedua, adanya kontrol mutlak aparatur negara yang memegang monopoli untuk melakukan kekejaman terhadap anggota masyarakat yang lain. Negara dikendalikan oleh Hitler yang mampu memaksa negara melaksanakan perintahnya.

Ketiga, antisemitisme. Berdasarkan paham ini, orang Yahudi secara sistematis dipisahkan dari anggota masyarakat lainnya dan dipropagandakan seolah-olah mereka menghalang-halangi Jerman menjadi masyarakat sempurna. 

Karena dianggap penghalang, maka jalan satu-satunya adalah memusnahkan mereka. sebagaimana yang diungkapkan oleh Eichmann di Yerusalem sewaktu diadili: Why did Hitler’s executioners kill Jews? Because they are antisemites. How do you know they are antisemites? Because they killed Jews.[4]

Keempat, di dalam kultur masyarakat modern, tidak ada tempat bagi pertimbangan moral. Apa yang dianggap baik menurut moral, belum tentu baik menurut pemerintahan yang birokrat yang dalam arti tertentu prakmatik dan instrumentalistik. 

Setelah peristiwa Holocaust, Barat lalu merasa memiliki dosa moral atas darah bangsa Yahudi. Mereka lalu mencari tempat yang layak bagi orang-orang Yahudi yang kala itu masih berdiaspora. Tempat yang dipilih adalah tanah Palestina. Masyarakat Palestina yang pada waktu itu tak mampu berbuat apa-apa karena dalam jajahan Inggris, hanya dapat melakukan protes silentium. 

Kalau kita menginjak perbatasan Palestina-Israel akan tampak perbedaan; daerah Israel yang dihibahkan dari tanah Palestina oleh Inggris rupa-rupanya jauh lebih subur, tanah penuh “madu dan susu”. Sedangkan Palestina kering, tak ada lahan untuk digarap. Jumlah penduduk meningkat dengan taraf kesejahteraan yang rendah membuat mereka “mati kendati masih bernafas”.

Cikal bakal terorisme sebetulnya datang dari konteks ini, “karena hidup sama dengan mati” maka lebih baik membasmi Israel dan negara-negara Barat agar kemerdekaan sungguh-sungguh lahir dan batin. 

Demikian para teroris yang kerap dicap irasional, sesungguhnya sangat rasional. Mereka dipuja sebagai pahlawan karena dengan menjadi martir, mereka memberi harapan kesejahteraan sejati kepada kemelaratan rakyat mereka yang nyatanya dikondisikan pula secara rasional atas hutang moral bangsa Barat kepada ras Yahudi.[5] 

Kontinuitas Holocaust dan Politisi Sentimentalisme Moral 

Wacana terorisme sebagai pengkhianatan dan pemerkosaan terhadap martabat manusia (karena mereka tidak hanya menimbulkan korban, melainkan mempersiapkan yang lain juga menjadi korban) dimulai sejak tragedi aksi teror dua gedung WTC New York, 11 September 2001. Sebuah ironi terjadi kala banyak pawai menyoraki pihak-pihak yang datang membantu dengan jargon we are proud of you, save us, atau God Bless America kemudian melupakan pengalaman traumatik dan memperkuat nasionalisme Amerika.

Serentak fenomena ini mewarnai etalase panggung politik. Kesan yang muncul kemudian adalah peristiwa tragis yang memakan korban jiwa telah menjadi benefit bagi Amerika dalam melegitimasikan usahanya meningkatkan penyebarluasan dominasi kekuasaan dan ideologinya di seluruh dunia.[6] 

Ada sebuah kejanggalan. Pengalaman penderitaan para korban kemudian dipolitisi. Bila kita kembali merenungkan pengalaman holocaust yang datang dari mulut mereka yang mengalami, tragedi kemanusiaan itu membuat mereka membuka pengalaman saja ibarat menemukan duri dalam daging. Sebagaimana yang ditulis oleh Moltman:


“I experienced a very different 'dark night' in my soul,
for the pictures of the Bergen-Belsen concentration camp and
horror over the crimes in Auschwitz, had weighed on me and
many other people of my generation ever since 1945. Much time
passed before we could emerge from the silence that stops the
mouths of people over whom the cloud of the victims hangs
heavy.[7]

Bila diperhatikan, pengalaman holocaust yang dialami oleh masyarakat Yahudi di Jerman rupa-rupanya menoreh traumatik yang membuat bungkam. Dan hal itu berbeda di Amerika, bagaimana sentimental moral kemudian dipolitisasi dan membuat penderitaan para korban seakan tersamar-samar. 

Persis pada pengalaman tersebut kita diundang merenungkan kembali masa yang sudah-sudah, pembantaian para PKI dalam tragedi G 30S 1965-1966. Dan bagaimana rekayasa “imajinasi liar para sastrawan” dijadikan paradigma sampai saat ini. 

Rekayasa Cerita G30S PKI

Komunis nama yang menakutkan untuk generasi Indonesia. Kebrutalan para PKI menjadi sejarah yang ditutur turun temurun, tanpa membuka peluang melakukan kritik sejarah. Di kala kebenaran makin kentara, rupa-rupanya akar paradigma masih mengakar dan menciptakan ideologi  yang kendati tak bisa diuniversalkan namun setidaknya memengaruhi empat penjuru Indonesia. PKI adalah iblis.

Tanpa kita sadari  pembunuhan masal yang terjadi sepanjang September 1965-1966 adalah pembunuhan atas manusia bukan pembunuhan atas iblis.  Apakah karena kemanusiaan mereka dilabelkan komunis sehingga pembunuhan dianggap wajar?

Tragedi yang kita anggap wajar, sejatinya adalah percaturan politik yang menjadikan nilai-nilai agama dan terutama media sastra belati, senjata pemungkas rasa kemanusiaan sebagai manusia. Kita mengingat film dan novel Pengkhianatan G30S/PKI, yang sejatinya adalah produk kebudayaan terpenting yang digunakan oleh Orde Baru untuk memberi kesan pembantaian terhadap manusia komunis adalah hal yang normal. Inilah holocaust versi Indonesia.

.... cerpen-cerpen terpilih yag terbit di majalah sastra Horison dan film serta novel Pengkhianatan G30S/PKI. Karya-karya ini digunakan dan dimanipulasi oleh penulis-penulis liberal/religius dan agen-agen kebudayaan Orde Baru untuk menyebarkan ideologi anti-komunis yang bertanggungjawab terhadap proses legitimasi terhadap pembantaian massal 1965”.[8]

Di bawah ini saya akan memaparkan kutipan-kutipan dalam Novel Pengkhinatan G30S/PKI yang ditulis oleh Aswendo Atmowiloto.

Mendadak suasana damai dalam masjid robek. Ketentraman somplak. Doa lembut diganti dengan teriakan kesetanan. Pintu somplak, dan kilatan senjata-senjata berkelebatan. Pacul, sekop, linggis, pisau, golok, membacok, menusuk, memukul, menyodok, menyongkel tubuh yang duduk semarah. Darah memercik, muncrat ke segala jurusan. Membanjir tikar yang direnggut paksa, dirobek. Kitab Suci Alquran dirobek dan diinjak-injak (hal 13). 

Sampai dengan proklamasi kemerdekaan, anggota PKI tak pernah kelihatan andilnya dalam peristiwa yang menjadi tonggak kemenangan suci bangsa Indonesia (18). 

PKI sesuai dengan ajaran marxisme-Leninisme bergerak kembali menyusun kekuatan untuk bangkit dan merebut kekuasaan. Sebelum seluruh Republik Indonesia bisa dikomuniskan, PKI tak, akan berhenti melakukan aksi-aksinya (19).

Dapat dibayangkan novel ini ditulis dengan berdasar pada fakta sejarah. Artinya kredibilitasnya memengaruhi masyarakat luas cukup tinggi. Masyarakat Indonesia lalu mengalami sebuah fobia atas komunis dan yang ironinya lagi adalah pemakluman atas kisah berdarah yag sempat mengisi sejarah bangsa. 

Di samping transparansi Aswendo, muncul pula cerpen-cerpen yang dimuat di majalah Horison yang kurang transparan namun sejatinya justru melenyapkan korban dari atensi pembaca dengan terpusat pada pergulatan psikologi para pembunuh atau eksekutor.

Sebagai contoh cerpen Usamah “Perang dan kemanusiaan”. Digambarkan dalam cerpen tersebut suatu depresi berat dari alter ego Usamah seorang interogator para komunis saat menyaksikan Dr. X mantan dokter keluarganya yang sangat baik, disiksa habis-habisan karena terlibat dalam komunis. Bukan hanya itu, ia pun tak dapat menyelamatkan nama Sri mantan teman sekolahnya dari daftar calon yang akan dibunuh oleh para tentara. 

Sedemikian hebatnya depresi yang dialami sampai-sampai baginya, tidak pernah ada tragedi kemanusiaan di dalam pembunuhan para komunis. Tragedi sejatinya adalah ketidakmampuannya dalam mengatasi krisis mental yang ia hadapi sebagai seorang humanis.

“Sampailah saya pada puncak kengerian, selama bertugas di sana. Saya tidak sanggup bertahan lebih lama. Walaupun hal itu biasa dalam medan perang di mana saya sendiri dapat diperlakukan sama seperti Sri kalau PKI menang, tapi jiwa saya, nurani saya, terlalu kecut untuk menghadapi kenyataan-kenyataan dan keharusan-keharusan semacam itu. saya tidak menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini. Tidak ada yang salah (Horison No. 8, Agustus 1969, 234). 

Selain karya Usamah, Gerson Poyk dalam cerpennya “Perempuan dan anak-anaknya” juga mengisahkan mengenai pergulatan psikologi yang dialami oleh tokoh A yang bersimpati terhadap seorang janda dan anak-anaknya. Suami si janda telah dibunuh oleh rekannya karena dituduh komunis. Pada awalnya simpati itu ditampilkan sbagai bentuk dari rasa simpati kemanusiaannya,

“A tidak bisa tidur. Dia melihat mayat-mayat berjatuhan. Ribuan.... dia membolak-balik tubuh dan berpaling, ketakutan.... Matanya menatap langit-langit sambil berusaha melupakan yang baru saja terjadi. Dia mengangkat tangannya dan membayangkan tangan itu adalah tangan K yang membusuk. Dia tertekan dan mencoba membuang ingatan itu ke sudut pikirannya (Horison No. 5 Thn. I (November 1965).”

Dalam bacaan secara lebih lanjut, rupanya rasa simpati itu kemudian dilandasi oleh perasaan asmara karena istri K rupanya adalah mantan kekasih dari A. Kendati demikian, A kemudian mencapai sebuah kesadaran bahwa simpati kemanusiaannya telah membuatnya berkhianat terhadap keyakinannya sendiri, bangsanya dan ideologi negara Pancasila, “Saya telah berdosa terhadap Pancasila”.

Tulisan-tulisan cerpen bernuansa pergulatan psikologis ini kemudian membuat pembaca tidak lagi menaruh perhatian pada korban yang terbunuh, melainkan pergulatan psikologis mereka-mereka yang menjunjung tinggi gagasan anti-komunis.[9] 

Pembunuhan yang akhirnya dipahami sebagai bagian integral dari rekonstruksi sejarah bangsa, akhirnya menampilkan semangat patriotisme dan kebanggaan atas jasa-jasa anak bangsa yng membuat orang jatuh pada romantisme mitologi dan emotivisme. Konsekuensinya objektivitas atas sejarah direduksi sedemikian rupa seturut kepentingan kolektif. Aswendo kemudian mengakhiri Novelnya dengan kalimat berikut, 

“Angin neraka bertiup dari Lubang Buaya. Angin iblis yang sadis. Angin biadab yang paling laknat. Angin yang menandai puncak-puncak kejahatan yang terjadi di tanah air tercinta, yang dilakukan oleh putra-putra Indonesia juga, dan ditujukan kepada putra-putra Indonesia terbaik yang berjasa” (150). 

Kesimpulan

Perlu disadari bahwa karya-karya sastra yang diterbitkan dalam pemerintahan Orde Baru semuanya dikuasai oleh aparat militer. Setiap karya yang hendak dipublikasikan harus senantiasa berhaluan dengan ideologi rekaan aparat militer yang mendandani Orde Baru, zaman kala kita memasuki the dark age of Indonesia.


Maka harus diakui  bahwa, pembantaian PKI adalah konsekuensi logis dari upaya menaikan Suharto ke tampuk pemerintahan. Dan pada periode inilah kita menciptakan sastra baru, holocaust versi Indonesia. Zaman berganti, dan ketaksadaran tanpa rekonsiliasi akhirnya membuat penebusan hutang nyawa sastra Indonesia tetap ditagih oleh teriakan para korban dari rahim bumi.

Di satu pihak. periode yang menakutkan itu telah lewat, namun tetap tersirat bahwa tidak sepenuhnya lenyap dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bukan karena masa depan itu tidak dapat diduga, melainkan kenangan ini tetap membekas. Dengan kata lain, peristiwa itu telah berlalu, namun torehan traumatis tetap ada.

Dia adalah bekas yang membekukan peristiwa dan menghadirkan kembali serta melebih-lebihkan sisi gelapnya. Karena itu juga trauma bagaikan seorang diktator yang mendikte kekinian korbannya. Namun jika tetap bertumpu pada peristiwa, maka pengalaman traumatik akhirnya menjadi anti peristiwa.[10]

Pertanyaannya, apakah sastra kita di zaman ini dihantui oleh beban moral atas tragedi kemanusiaan 1965-1966? Dan apakah ada potensi yang mengorbankan pihak lain dari upaya pelunasan hutang moral sastra Indonesia, sebagaimana bangsa Barat melunasi beban moralnya dengan mengorbankan masyarakat Palestina? Kita berada di dalam ketegangan. “Untukmu sastrawan Indonesia, Aku bertanya!”

Daftar Pustaka

  • Adorno, Theodor W., 1975 Gesellschaftstheorie und Kulturkritik, Frankfurt: Suhrkamp Verlag.
  • Bauman, Sygmund., 2008 Holocaust, (USA: Blackwell Publishing).
  • de Azevedo, Mateus Soares., 2010 Men of a Single Book: Funamentalism in Islam, Christianity, and Modern Thought, (USA: World Wisdom).
  • George Ritzer-Douglas J. Goodman., 2004 Teori Sosiologi Modern, diterjemahkan dari Modern Sociological Theory, oleh Alimandan, (Jakarta: Kencana).
  • Hardiman, Budi., 2011 Massa, Teror dan Trauma, Maumere: Ledalero.
  • Herlambang,W.. 2013 Kekerasan Budaya Pasca 1965, diterjemahkan dari Müller “Cultural Violence: its Practice and Challenge in Indonesia”, (Tanggerang Selatan: Gajah Hidup). 
  • Kleden, Paul Budi., Membongkar Derita, Teodice: Kegelisahan Filsafat dan Teologi, (Maumere: Ledalero).   
  • Moltmann, Jürgen., 1993 The Crucified God, diterjemahkan dari Der gekreuzigte Gott, oleh R. A. Wilson-John Bowden, (USA: Fortress Press). 

[1] Ungkapan aslinya: “Das perenniere Leadaiden hat soviel Recht auf Ausdruck wie der Gemartete zu BrÜllen”, Negative Dialektik, (Frankfurt: Suhrkamp Verlag), 1970, 355.  

[2] Paul Budi Kleden, Membongkar Derita, Teodice: Kegelisahan Filsafat dan Teologi, (Maumere: Ledalero), 37. 

[3] Diringkas dari, George Ritzer-Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, diterjemahkan dari Modern Sociological Theory, oleh Alimandan, (Jakarta: Kencana), 2004, 571-574. 

[4] Sygmund Bauman, Holocaust, (USA: Blackwell Publishing), 2008, 225.

[5] Mateus Soares de Azevedo, Men of a Single Book: Funamentalism in Islam, Christianity, and Modern Thought, (USA: World Wisdom), 2010, 51-53.

[6] Paul Budi Kleden, Membongkar Derita, Teodice: Kegelisahan Filsafat dan Teologi, 40.

[7] JÜrgen Moltmann, The Crucified God, diterjemahkan dari Der gekreuzigte Gott, oleh R. A. Wilson-John Bowden, (USA: Fortress Press), 1993, XI. 

[8] W. Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965, diterjemahkan dari Müller “Cultural Violence: its Practice and Challenge in Indonesia”, (Tanggerang Selatan: Gajah Hidup, 2013), 28.

[9] Diringkas dalam buku W. Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965, 110-136. 

[10] Budi Hardiman, Massa, Teror dan Trauma, (Maumere: Ledalero), 2011, 188-189.

Artikel Terkait