Suatu ketika, saya berniat mengikuti sayembara menulis novel anak yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Untuk mengikuti sayembara tingkat nasional, biasanya saya harus menyiapkan beberapa hal. Selain ide cemerlang, teknik penulisan cerita menjadi salah satu bagian penting yang tak terpisahkan.

Karena merasa tak percaya diri, saya pun mencoba menghubungi Nurul Hanafi, novelis dan cerpenis sekaligus penerjemah yang bermukim di Yogyakarta ini. Hasil tulisan baik terjemahannya selalu saya kagumi.

Salah satu alasan saya merasa perlu berkonsultasi dengan beliau adalah beliau sering menerjemahkan sastra klasik, khususnya di genre buku anak, meski juga terjemahannya di genre yang lain tak kalah banyak juga.

Karena saya tidak memiliki nomor HP-nya, saya pun berinisiatif meminta nomornya melalui inbox Instagram. Lalu saya hubungi Nurul Hanafi melalui pesan WhatsApp. Alhamdulillah, semua pertanyaan saya dibalas dengan baik. Pesan-pesannya saya baca perlahan-lahan dengan cermat.

Namun hingga deadline pengiriman naskah tiba, saya memutuskan untuk mundur dengan alasan terdesak oleh pekerjaan kantor yang tak bisa ditinggalkan. Sebenarnya, saya pun merasa sedikit kecewa dengan diri sendiri. Apalah daya, nasi sudah menjadi bubur.

Saya pikir, tak ada salahnya tulisan ini saya posting supaya ilmunya bisa sampai kepada para pembaca, khususnya yang berminat mendalami penulisan buku anak. Tentunya, wawancara ini saya publish karena telah mendapat persetujuan dari Mas Nurul Hanafi. 

Agar wawancara ini mudah dipahami, saya gunakan inisial N untuk Mas Nurul Hanafi dan inisial R untuk saya sendiri.

R : “Malem Mas Nurul, maaf mengganggu dan baru sempat WA. Ini Rini Febriani hauri dari Jambi, mas. Istrinya Mas Yoso. Mas Nur, kalau ada waktu luang, boleh ga saya tanya-tanya sesuatu tentang cerita anak?” (Sengaja saya tulis sebagai istri Yoso karena Mas Nurul teman suami saya)

N : “Iya, silakan!”

R : “Gini, Mas. Saya berencana ikut lomba cernak DKJ, tetapi masih galau di konsep. Saya pikir lomba DKJ pasti jauh banget berbeda dengan konsep Badan Bahasa Kemendikbud, yang dari pengalaman saya, tidak terlalu menonjolkan kegetiran hidup/ironi. "

"Sementara di beberapa buku anak yang saya baca beberapanya justru banyak memunculkan ironi agar menumbuhkan empati anak. Saya butuh saran, Mas.”

N : “Ya, masukkan saja unsur itu, Mbak. Menurutku sih begitu. Kecuali kalau ada aturan yang jelas menyangkut hal itu. sebab kalau dilogikakan begini, cerita anak yang wajib ada adalah muatan moral. Nah, ironi ini sebenarnya menunjukkan/memperjelas posisi moral atau sikap si pengarang.”

“Posisi atau sikapnya atas sebuah situasi, tetapi secara simbolis. Dalam menulis ironi, narator seperti hendak bilang kepada pembaca bahwa sesuatu yang sedang digambarkan itu tidak baik, tetapi tanpa bilang begitu, karena toh pembaca akan tahu sendiri. Menurutku sih..”

R : “Makasih, Mas. Saya masih punya sembilan pertanyaan lagi, boleh nggak ya, Mas?”

N : “Coba mbak!”

R : “Karya bacaan anak Indonesia yang menurut Mas Hanafi bagus, apa ya kira-kira? Dan mengapa bagus?”

N : “Susah nih. Hihihi.Si Doel Anak Betawi mungkin (Aman Datuk Majoindo), Pengalaman Masa Kecil (Nur Sutan Iskandar). Kesan lama sih bagus, tetapi tak tahu kalau dibaca sekarang apa opininya masih sama. Nilai sastranya sih.”

R : “Apa standar kelayakan suatu karya sastra anak? Dari segi estetik dan bukan konseptual ya, Mas.”

N : “Anak-anak akan suka membacanya dan orang dewasa juga suka. Di sini berarti kualitas bahasa juga diperhatikan. Ada lapisan estetis yang bisa dikaji secara mendalam. Kalau dalam dunia hiburan seperti kartun Peanuts, itu menarik dibandingkan Winny The Pooh.” 

Tapi mungkin itu karena persepsi saya tentang Winny The Pooh Cuma dari film, tidak baca bukunya. Kalau baca bukunya mungkin lain. Komik Kobo Chan dan Maruko Chan juga bagus.”

R : “Makasih ya, Mas.”

N : “Iya.”

R : Signalku agak sulit, Mas. Nanti saya tanya lagi kalau dapat signal bagus, Ya!” (Maklum saya tinggal di daerah perbukitan yang minim signal)

N : “Ini Mbak, bukunya!” (Mas Nurul mengirimi saya buku dongeng H.C. Anderson yang baru saja beiau terjemahkan. Buku ini langsung saya pesan ke penerbit untuk saya bacain sebagai pengantar tidurnya Amurwabhumi, anakku).

R : “Baik, Mas. Saya pesan segera. Mas, saya lanjut tanya-tanya lagi ya! Izinkan saya berguru sama Njenengan!

N :”Iya, Mbak.”

R : “Pertanyaan 1 : Kategori bacaan anak di Eropa seperti apa?

2. Kategori pembaca anak sampai rentang usia berapa?

3.  struktur karya sastra anak secara umum seperti apa?

4. Bahasa dan teknik penceritaan novel anak seperti apa?

5. Apakah sastra anak perlu dibatasi hanya pada aspek norma dan agmbaran dikotomis baik-buruk saja?

6. Bagaimana sastra anak atau bacaan anak di Indonesia? ada perbedaan tidak dengan sastra anak di Eropa?

7. Karya sastra anak ya (Jumlah pertanyaan ini memang tujuh,s ebab dua lagi sudah ditanyakan di pertanyaan sebelumnya).”

N : “Kalau saya njawabnya pakai referensi Internet kayaknya percuma ya, karena toh mbak bisa cari sendiri. Nah, sekarang saya jawab setahu saya saja tanpa referensi apapun. Jadi memang sangat spekulatif, meski tetap ada dasarnya.

  • Saya kira ada cerita anak religius dan cerita anak sekuler.

Religius : Anak-anak di Eropa baca Bible, tentu saja, dan cerita teladan yang diambil dari kitab itu. Ya kalau di kita ya seperti kisah 25 rasul dan sahabat nabi. Ada adegan dalam novel Jane Eyre yang nunjukin itu. Ada juga buku Pilgrim Progress edisi anak-anak.

Sekuler:

A.  Aesop

Cerita Aesop sudah banyak beredar di Eropa sejak 1500-an.

B.  Fairytales

Tahun 1818, terbit kumpulan cerita Grimm Bersaudara, dan tentunya jadi bacaan mayoritas anak di Eropa. Bronte bersaudara kan juga nulis cerita fantasi waktu mereka masih kecil. Itu tentu diilhami oleh buku Grimm itu.

Selain itu ada juga terjemahan kisah 1001 malam. Juga mulai beredar terjemahannya di abad 19.

HC Andersen menulis fairy tales dalam dua kategori. Cerita yang sudah ada sebelumnya yang sumbernya dari sastra lisan, dan cerita dongeng orisinil. Karya-karya dongeng Andersen kemudian sangat berpengaruh pada dongeng-dongeng Wilde. Baik Andersen maupun wilde banyak dibaca anak-anak.

C. Sekuler sastra, tanpa basic fairytale

- Alice Adventure in Wonderland 

- Wind in the Willow 

D.  Sekuler non sastra

- Little House in the prairie 

dst.... Sampai generasi harry potter

2. Mungkin sampai lulus SD

3. Sukar digeneralisirkan. Tergantung apakah itu cerita anak religius, atau berbasis Fairy tales, atau fantasi murni ala Harry Potter.

Itu dulu ya mbak. Yang lain sukar semua

Tapi semoga yang ini bisa membantu.”

R : “Terima kasih banyak ilmunya, Mas.”