Tidak seorang pun memperhatikannya ketika Sarkim memanjat Patung Pembebasan. Meskipun di sekitarnya lalu lalang orang berseliweran. Anak-anak dan remaja bermain sepak bola di lapangan di dekat Patung Pembebasan. Lalu lintas kendaraan tak begitu ramai karena hari Minggu. Matahari belum begitu garang.

Setelah sampai di bagian paling atas, laki-laki itu duduk sejenak. Ia menggeser pandangannya ke atas. Ia kemudian memandang patung yang berdiri dengan postur kekar. Ia memperhatikan kedua tangan patung yang mengembang dan terangkat ke atas dengan rantai yang memborgol terputus. Ia juga memperhatikan rantai terputus yang membelenggu kedua kaki patung itu.

Sarkim masih duduk di bawah patung. Ia duduk tepat di bawahnya. Patung itu mengangkanginya.

***

Sarkim kemudian berdiri. Ia merogoh saku celananya. Ia mengambil telepon genggamnya, kemudian membuka akun Facebooknya. Ia menulis status.

"Aku ingin bebas! Bebas dari segala penderitaan yang hingga kini membelengguku. Istriku, maafkan suamimu. Anakku, maafkan ayahmu. Tuhan, apakah ini berkenan?"

Ia lalu mengambil fotonya sendiri. Selfie. Ia juga mengirimkan foto selfienya itu selain status yang telah ditulisnya. Ia tampak puas karena merasa telah mengeluarkan segala beban yang menindih batinnya.

Ia menyimpan kembali telepon genggamnya ke dalam saku celananya. Ia kemudian menirukan postur patung. Ia lalu mengedarkan pandangannya. Matanya tertumbuk kubah Masjid Istiqlal. Akan tetapi, ia belum juga melompat.

***

Sarkim tersenyum. Namun, hatinya semakin remuk dan pikirannya kian runtuk. Betapa tidak. Baru sebulan ia tiba di Jakarta setelah minggat dari rumahnya. Ia meninggalkan istri dan anaknya. Banjir dan tanah longsor di kampungnya membuatnya semakin menderita.

Kini pikirannya melayang-layang. Ia teringat istrinya, Ia teringat biyungnya yang randa. Ia teringat para tetangga. Ia teringat anaknya. Wajah mereka selintas demi selintas berkelebat di kepalanya.

"Sumi .... Sumi ...! Aku tahu ... hidup kita semakin susah setelah aku di-PHK. Aku tak bisa membiayai hidup kita dan tak mampu menolaknya. Aku tahu Sumi, engkau tak suka itu. Karena aku menganggur. Dengan sinis para tetangga mengejekku sebagai panji klanthung yang cuma bisa luntang-lantung. Aku memahami semua itu, Sumi!"

"Barangkali cuma biyungku yang mau memahami kesulitan kita. Sumi, engkau tentu merasakan bagaimana mertuamu itu dengan tulus ikhlas mau membantu kita. Meski cuma berjualan gethuk dan nasi urap di pasar desa kita, beliau masih memiliki rasa iba kepada kita. Ibuku itu tidak tega melihat hidup kita yang morat-marit. Dari hari ke hari kecingkrangan".

"Oh, ya ... Sumi ... bagaimana kabar si Sukim, anak kita? Apa Sukim menanyakan aku, bapaknya? Ah, Sukim .... Bapakmu tak sanggup mendengarkan omongan para tetangga yang selalu menyindir itu."

***

Sementara itu, orang-orang mulai berkerumun di sekitar Patung Pembebasan. Orang-orang berteriak. Mereka menyeru Sarkim agar tidak melompat ke bawah. Tak lama kemudian polisi datang.

Dengan megaphone seorang anggota polisi menyeru Sarkim agar mengurungkan niatnya. Namun, Sarkim hanya tersenyum. Ia belum juga melompat.

Sarkim tiba-tiba menyaksikan pemandangan yang membuat jantungnya berdebar-debar. Ketika melihat ke bawah, matanya tertumbuk ke sosok manusia yang sedang menggendong sesuatu. Ia mencoba menutup matanya dan kemudian membukanya kembali. Ia melihat jelas meski setengah tak percaya, sosok Sumi, istrinya, yang menggendong Sukim, anaknya, sedang berjalan di antara kerumunan orang.

Sorot mata Sarkim bertabrakan dengan sorot mata Sumi. Sarkim melihat Sumi yang mendongak ke atas sambil melambai-lambaikan tangannya. Sumi memanggil-manggil Sarkim, tetapi suaranya segera lenyap ditelan suara kalam illahi yang dibawa oleh angin siang musim kemarau.

Tanpa berpikir panjang Sarkim membulatkan tekadnya untuk segera menemui Sumi. Segala kemampuannya kini dicurahkan. Dengan sekuat tenaga dan semangat membaja di dada, Sarkim ingin melompat ke bawah.

***

Namun yang terjadi kemudian adalah di luar dugaan. Sebab, tak lama kemudian Sarkim mendengar suara azan zuhur yang mengumandang dari mercusuar Masjid Istiqlal. Seketika itu juga, seluruh persendiannya lemas. Ia seperti tak bertenaga. Lunglai. Sarkim kini merasa tak berdaya lagi untuk melompat. Ia duduk kembali.

Sarkim teringat masjid di kampung halamannya. Ia teringat teman-temannya di masa kecilnya ketika bersama-sama mengaji Quran di masjid. Ia teringat ibunya yang mengajarinya membaca Al-Quran.

"Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu". Sarkim teringat bunyi ayat dalam Al-Quran. Seperti yang tertuang dalam Surah Al-Baqarah ayat 153. Keringat dingin mengucur dari tubuhnya. Air matanya menetes.

Sementara itu, polisi dan petugas damkar menapaki tangga mobil pemadam kebakaran. Mereka naik ke atas mendekati Sarkim yang duduk di bawah Patung Pembebasan. Mereka hendak membebaskan Sarkim dan menyelamatkannya.

"Aku tidak boleh berputus asa." Sarkim berkata lirih kepada dirinya sendiri. Ia kini merasa terbebas.

Cibinong, September 2020

Catatan:

1. biyung: ibu

2. randa: janda

3. panji klanthung: pengangguran

4. kecingkrangan: hidup susah